Ini kreasi modifikasi kain etnik Lampung bernilai tinggi

id Tapis Lampung,Clutch tapis,wirausaha lampung,kerajinan khas lampung,antara lampung, lampung,fashion lampung

Ini kreasi modifikasi kain etnik Lampung bernilai tinggi

Clutch atau tas jinjing modifikasi tapis Lampung, Bandarlampung, Jumat (13/09/2019). ANTARA/istimewa.

Bandarlampung (ANTARA) - Kain etnik Lampung berupa tapis kini mampu dikreasikan menjadi produk fesyen bernilai jual tinggi di kalangan masyarakat Lampung dan sekitarnya.

"Saya telah menggeluti pembuatan clutch atau tas jinjing wanita motif tapis sejak tahun 2016, dan pertama kali membuat karena ada pembeli yang meminta dibuatkan clutch bahan kain tapis, dengan alasan agar terlihat corak etnis", ujar Sella seorang perajin clutch, Bandarlampung, Jumat.

Menurutnya, awal mula membuat clutch ia memakai bahan anyaman, namun adanya permintaan dari pembeli maka dirinya mengkreasikan kain tapis, yang ternyata bernilai jual tinggi bila dibandingkan dengan clutch biasa.

"Clutch tapis terkesan lebih mewah dan eksotis, aku bandrol dengan harga lebih tinggi dari pada bahan lainnya berkisar Rp 110.000 hingg Rp 750.000", katanya.

Modifikasi clutch tidak hanya menggunakan kain tapis akan tetapi juga dikreasikan dengan kulit binatang, sulam usus dan berbagai kain lainnya.

"Sebagai wirausahawan tentu kita harus membuat inovasi baru salah satunya dengan mengkombinasikan kain tapis dengan kulit atau bahan lainnya agar lebih menarik",ujar Sella 

Menurutnya, keseluruhan produksi dibuat dengan tangan, sebab produk buatan tangan lebih diminati dari pada buatan mesin.

"Jelas berbeda bila buatan tangan dan pabrik karena buatan tangan tidak akan pernah ada yang sama bila mesin hasilnya sama karena dibuat secara massal sehingga tidak ada ciri khas tersendiri", ujar Sella.

Menurut Sella, masyarakat saat ini sangat peduli dengan fesyen sehingga mereka cermat memadu padankan sesuatu, salah satunya memadupadankan kain tradisional dengan produk fesyen modern seperti clutch atau tas ransel. 
Pewarta :
Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar