Sensasi manampi padi di Festival Sumarak Luhan Nan Tuo

id festival,Lampung.Antaranews.com,Festival Sumarak Luhak Nan Tuo, Benteng Van der Capellen, Batusangkar

Perwakilan Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia Dede Atun Munawaroh mairiak padi (berkacamata). (ANTARA SUMBAR/Etri Saputra)

Batusangkar (ANTARA) - Perwakilan Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia merasakan sensasi "mairiak" dan "manampi" padi saat kunjungannya ke Festival Sumarak Luhak Nan Tuo di kawasan Benteng Van der Capellen, Batusangkar, Minggu (25/8).

"Kita harus paham dengan budaya, filosofi dan filsafat yang terkandung di dalam budaya itu apa. Jangan sampai kita sebagai generasi muda tidak paham sehingga orang asing yang menikmatinya," kata perwakilan Direktorat Kesenian, Dirjen Kebudayaan Republik Indonesia, Dede Atun Munawaroh di Batusangkar, Minggu (25/8).

Selain mairiak dan manampi (menampi) padi, Dede juga menikmati makan bersama dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) setempat di bawah tenda beralaskan jerami padi dan terpal ala petani tempo dulu di Minangkabau.

Ia mengatakan, dalam upaya melestarikan dan mengembangkan budaya lokal di tengah masyarakat, Dirjen Kemdikbud RI memberikan dana bagi organisasi atau sanggar yang didukung oleh pemerintah daerahnya.

Pada tahun ini Direktorat Kesenian telah memfasilitasi sebanyak 150 sanggar yang terbagi ke dalam dua tahap melalui dana Pemerintah Fasilitasi Kegiatan Kesenian (FKK).

Ia mengharapkan melalui kerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Dinas Pendidikan juga menambah bekal bagi generasi muda melalui pemahaman bahasa daerah, budaya lokal, kemudian budaya asah, asih, dan asuh.

"Saya harapkan kepada generasi muda untuk mencintai budaya kita, jangan mudah terpengaruh oleh budaya asing sementara budaya sendiri ditinggalkan," katanya.

Pada kesempatan itu, Dede juga memuji pasar digital Pasar Van der Capellen sebagai salah satu pasar digital dengan konsep tempo dulu lengkap dengan pakaian pedagang dan jualannya.

"Konsepnya bagus, mempertahankan budaya dan tradisi. Namun perlu ditambahkan literasi bahasa. Tambahkan sejarahnya kepada anak-anak, misalnya kenapa harus pakaian ini, kalau ada permainannya namanya apa. Itu juga menambah kosakata mengenai konten lokal bagi anak," katanya.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tanah Datar, Riswandi, mengharapkan selain tahap pelestarian, juga dilakukan tahap pengembangan dan harus mampu memberikan pemanfaatan secara ekonomi bagi masyarakat setempat.

"Percuma kalau dilestarikan tapi tidak dikembangkan. Kalau sudah berkembang harus bisa memberikan dampak positif bagi ekonomi masyarakat," katanya.
 
Pewarta :
Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar