Petani cabai di Banten meraup keuntungan besar

id lebak

Petani cabai langsung menjual ke konsumen d pasar subuh Rangkasbitung karena cukup menguntungkan dibandingkan dijual ke tengkulak

Lebak (ANTARA) - Petani cabai di Kabupaten Lebak, Banten, sejak dua bulan terakhir meraup keuntungan besar sehubungan harga komoditas cabai di pasaran melonjak akibat kemarau panjang.

"Petani yang meraup keuntungan itu karena mereka langsung menjual cabai ke konsumen tanpa melalui tengkulak," kata Ketua Asosiasi Pelaku Usaha Tani Provinsi Banten H Ulung saat dihubungi di Lebak, Jumat.

Para petani mengembangkan tanaman cabai di Provinsi Banten menggeliat,terutama Pandeglang, Lebak dan Serang.

Saat ini, produksi cabai Banten menembus Pasar Induk Tanah Tinggi Tangerang, Pasar Induk Bogor dan Pasar Keramat Jakarta.

Produksi cabai mencapai puluhan ton per bulan dan mereka petani membudidayakan cabai di lahan darat dan sawah.

"Kami mendorong petani agar menjual langsung ke konsumen untuk memutus mata rantai tata niaga harga di pasaran. Penjualan langsung sangat menguntungkan pendapatan ekonomi petani," katanya.

Menurut dia, pihaknya mengapresiasi Bupati Pandeglang Irna Nurita dan Bupati Lebak Iti Octavia yang memfasilitasi petani menjual produksi pertanian di kawasan "Car Free Day" atau hari kawasan bebas kedaraan dan pasar malam.

Mereka petani bisa menjual harga cabai rawit setan Rp110.000/Kg, cabai rawit hijau Rp85.000/Kg, cabai keriting Rp80.000/Kg dan cabai merah besar Rp80.000/Kg.

Apabila, mereka petani menjual ke penampung maupun tengkulak dipastikan harga di bawah pasaran.

Oleh karena itu, pihaknya mengajak petani cabai agar menjual langsung ke tingkat konsumen. "Kami akan terus berkoordinasi dengan kepala daerah agar memfasilitasi produk pertanian bisa langsung dijual ke konsumen tanpa tengkulak," katanya menjelaskan.

Dudung (55) seorang petani di Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak mengatakan dirinya selama ini langsung menjual cabai ke konsumen dan tidak ke tingkat penampung.

Saat ini, dirinya menjual cabai ke pasar subuh di Rangkasbitung karena menguntungkan.

Panen cabai sekarang ini tidak terserang hama maupun penyakit tanaman lainnya sehingga produksi dan produktivitas meningkat.

"Kami sangat terbantu pendapatan ekonomi dari hasil menjual cabai hingga meraup keuntungan sekitar Rp60 juta/hektare," ujarnya.

Ia mengaku panen cabai rawit setan seluas satu hektare di lahan sawah.

Saat ini, permintaan cabai rawit cenderung meningkat sehingga terpenuhi kebutuhan pasar karena memasuki musim panen. "Kami panen pada Agustus sampai Oktober mendatang dan dipastikan meraup keuntungan karena harga cabai melonjak," katanya.

Petani lain, Ahmad (50) warga Panggarangan Kabupaten Lebak mengaku dirinya bisa meraup keuntungan besar karena harga cabai melonjak tinggi hingga Rp80.000-Rp110.000 per kilogram.

Melonjaknya harga cabai itu karena di berbagai daerah belum memasuki musim panen karena kemarau panjang. "Kami panen cabai seluas tujuh petak sawah sudah menjual sebanyak dua ton," katanya.

 
Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar