Wisata wellness dapat dikembangkan dari kearifan lokal

id pembangunan berkelanjutan, strategi kebudayaan,wisata wellness, yoga, organik, kembali ke bumi

Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Hilmar Farid. (ANTARA/ (Muhammad Zulfikar)

Jakarta (ANTARA) - Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan Indonesia dapat mengembangkan wisata dan industri "wellness" (gaya hidup yang baik) berdasarkan pengetahuan lokal setiap daerah.

"Tren global sedang berkembang industri tentang gaya hidup dan pariwisata "wellness", namun Indonesia belum mengeksplorasi ini dengan baik padahal kita punya kearifan dan pengetahuan lokal tentang itu," kata dia di Jakarta, Kamis.

Dia menyontohkan seperti di Bali, memiliki pengetahuan tentang kesehatan yang tercatat dalam kitab kuno lontar Usada yang berisi tentang manfaat tumbuhan untuk kesehatan.

Kitab itu, kata Hilmar, merupakan himpunan pengetauan luar biasa dari masyarakat Bali mengenai bagaimana menjaga kesehatan.

Buah pikiran dari Usada tersebut, menurut Hilmar selaras dengan pemikiran saat ini di mana orang ingin hidup sehat dan menjaga kebugaran tubuhnya.

Selain itu, kata dia, Indonesia masih banyak beragam kekayaan hayati dengan pengetahuan tradisional dan telah berkembang di masyarakatnya yang dapat dijadikan untuk membangun ekonomi bangsa.

Dia mengatakan pengetahuan masyarakat tentang keanekaragaman hayati sangat luas seperti manfaatnya untuk kesehatan, saat ini sudah ada upaya untuk mendokumentasikannya baik dari Kementerian Kesehatan mau pun dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Untuk mendokumentasikan pengetahuan lokal tersebut, perlu melibatkan para pelaku budaya. Tidak haya itu para pelaku budaya juga perlu dilibatkan untuk membangun pariwista yang berkelanjutan dengan sistem ekonomi berbasis komunitas.

Dengan pembangunan yang berkelanjutan tersebut, maka konsep pembangunan dapat berjalan selaras dengan pelestarian lingkungan dan kebudayaan.



 
Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar