Disperpa Kota Magelang kenalkan agroekosistem sawah ke petani

id disperpa kota magelang, sekolah lapangan pengelolaan hama terpadu

Para petani peserta Sekolah Lapangan Pengelolaan Hama Terpadu (SLPHT) Disperpa Kota Magelang berkegiatan di lahan praktik pertanian. (ANTARA/HO-Disperpa Kota Magelang)

Magelang (ANTARA) - Dinas Pertanian dan Pangan Kota Magelang mengenalkan komponen agroekosistem sawah kepada para petani setempat melalui Sekolah Lapangan Pengelolaan Hama Terpadu (SLPHT).

"Di dalam agroekosistem sawah, petani perlu mengenal komunitas hewan dan tumbuhan yang menjadi pendukung maupun pembatas dalam produksi padi di lahan sawahnya,” ujar Kepala Disperpa Kota Magelang Eri Widyo Saptoko dalam keterangan tertulis di Magelang, Kamis.

Melalui sekolah lapang tersebut, ujarnya, mereka juga mendapatkan materi tentang pembuatan petak petani dan petak pengendali hama terpadu (PHT). Peserta sekolah lapang 25 petani anggota Kelompok Tani Subur Makmur Magelang, pengamat organisme pengganggu tanaman (POPT), dan penyuluh pertanian.

Fasilitator kegiatan itu, I Made Redana, mengemukakan pentingnya petani mengenali apa saja yang dinamakan hama, penyakit, dan musuh alami.

Selain itu, katanya, perlu memahami dengan baik kapan hama, penyakit, dan musuh alami harus dikendalikan dan kapan harus dibasmi dengan pestisida nabati.

"Perlu juga tahu kapan harus dikendalikan dan kapan harus dibasmi dengan pestisida nabati," katanya.

Penyuluh pertanian penyelia, Abdul Z. Rochim, mengatakan para petani harus mampu mengendalikan hama dan penyakit sesuai dengan konsep SLPHT.

Kemampuan tersebut, ujar dia, bisa diperoleh apabila petani bisa dengan baik membedakan hama, penyakit, dan musuh alami.

"Banyak belajar dan bertukar pikiran dengan petani yang lain dan aparat pemerintah bagaimana mengendalikan hama dan penyakit secara PHT," katanya.

Kepala Seksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Disperpa Kota Magelang Ahmad Sholikhun mengatakan sekolah lapangan itu secara rutin mingguan hingga 12 kali, mulai Agustus hingga November mendatang.

Ia menjelaskan kegiatan tersebut memberikan tema-tema pembelajaran yang berbeda, sesuai kurikulum yang disusun fasilitator, sedangkan metode pembelajarannya berbasis pengalaman dengan menitikberatkan metode pendidikan orang dewasa.

"Pembelajaran petani berupa praktik lapang, presentasi, dan diskusi kelompok dengan kemasan versi petani," katanya.

Ia menjelaskan SLPHT diawali dengan pembuatan petak petani dan petak PHT, sedangkan 25 peserta dibagi dalam lima kelompok kecil yang masing-masing membuat 10 petak petani dan 10 petak PHT.

Petak petani adalah lahan sawah yang dibudidayakan menurut kebiasaan petani setempat, sedangkan petak PHT adalah lahan sawah percontohan karena dibudidayakan sesuai rekomendasi Disperpa dengan mengacu konsep Budidaya Tanaman Sehat (BTS).

Varietas padi IR-64 digunakan pada petak petani, sedangkan varietas Ciherang pada petak PHT. Selanjutnya dilakukan pengamatan tinggi tanaman, jumlah rumpun, dan keberadaan musuh alami.

"Masing-masing kelompok kecil membuat paparan pada kertas kerja dan mempresentasikan hasil pengamatan kelompok di hadapan seluruh peserta SLPHT. Kegiatan diakhiri dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk persiapan kegiatan minggu depannya," katanya.

 
Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar