Adrian dibuang West Ham, jadi pahlawan di Liverpool

id adrian san miguel,liverpool,piala super eropa,alisson becker

Kiper Liverpool Adrian San Miguel memeluk trofi Piala Super Eropa yang dimenangi usai mengalahkan Chelsea lewat adu penalti dalam pertandingan di Stadion Vodafone Park, Istanbul, Turki, Rabu (14/8/2019) setempat. (ANTARA/REUTERS/Murad Sezer)

Jakarta (ANTARA) - Dua pekan silam, Adrian San Miguel hanyalah seolah kiper yang tak punya klub tapi pada Kamis dini hari WIB ia menjadi penyabet medali juara Piala Super Eropa di Vodafone Park, Istanbul, Turki.

Kontrak Adrian di klub lamanya West Ham United berakhir pada 30 Juni 2019 dan The Hammers memutuskan untuk tak memperpanjangnya.

Kiper asal Spanyol itu tak ubahnya pengangguran yang mencari kerja, berbekalkan catatan karier nirgelar sejak mentas dari akademi Real Betis pada 2006.

Lebih dari sebulan usai dibuang West Ham, Adrian disodori kontrak berdurasi setahun oleh Liverpool, menyusul keputusan Simon Mignolet pulang kampung ke Belgia demi mencari kesempatan bermain lebih banyak bersama Club Brugge.

Adrian mungkin mengira ia akan bernasib seperto Mignolet pada musim 2018/19 lalu yang jadi penghangat bangku cadangan kala Liverpool bermain di Liga Inggris dan baru turun dalam pertandingan piala-piala domestik.

Namun, Adrian ketibaan pulung ketika kiper utama Liverpool Alisson Becker --penyabet Sarung Tangan Emas Liga Inggris, Liga Champions dan Copa America 2019-- menderita cedera pada menit-menit akhir babak pertama laga pembuka Liga Inggris 2019/20 melawan Norwich City.

Setelah menuntaskan penampilan penuh 38 laga Liga Inggris 2018/19, Alisson harus menepi setelah 38 menit pertama Liga Inggris 2019/20. Kesialan yang belakangan jadi berkah bagi Adrian.

Debut Adrian datang lebih cepat dari yang diperkirakan, namun kiper berusia 32 tahun itu kebobolan di penampilan pertamanya.

Kabar buruk terkait Alisson kembali datang, yang tak ubahnya jadi kabar baik bagi Adrian namun tetap menimbulkan kekhawatiran di kalangan suporter Liverpool.

Absennya Alisson, membuat Adrian tampil mengawal gawang Liverpool menghadapi Chelsea di Piala Super Eropa, partai prestisius perdananya sepanjang karier 13 tahun lamanya.

Penampilan Adrian diwarnai baik dan buruk, namun dua momen jelas menjadi sorotan utama. Pertama, ketika Adrian ceroboh melakukan reaksi mendekati Tammy Abraham pada babak tambahan pertama yang membuat wasit mendakwa ia sengaja menjatuhkan penyerang muda itu dan Chelsea mendapat hadiah tendangan penalti.

Kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik oleh Jorginho yang menghadapi bola dan keunggulan yang susah payah diperoleh Liverpool lewat gol kedua Sadio Mane buyar begitu saja.

Momen itu tentu bakal menjadikan Adrian sasaran empuk kambing hitam jika saja Liverpool gagal keluar sebagai pemenang. Alih-alih patah arang karena hal itu, Adrian perlahan memperbaiki penampilannya termasuk menggagalkan peluang Mason Mount dengan satu tangan demi menjaga skor 2-2 bertahan hingga babak tambahan rampung.

Momen kedua Adrian lahir dalam drama adu penalti, ketika ia menghadapi Abraham yang bertugas sebagai algojo kelima Chelsea. Sembilan algojo dari kedua tim yang bertugas sebelumnya sukses menyarangkan bola ke gawang, namun Liverpool sementara tengah unggul 5-4.

Abraham menghadapi bola di titik putih, sembari melirik ke sisi kanan Adrian. Tak mau terkecoh, Adrian melompat ringan ke sisi kirinya, namun Abraham menendang lurus ke tengah. Beruntung bagi Adrian, laju tendangan Abraham tak begitu kencang, kaki kanannya masih bisa menjangkau bahkan mencegah bola masuk ke gawang.

Adrian berlutut merayakan keberhasilannya sembari dari garis tengah lapangan rekan-rekannya berlari menyerbunya, termasuk sang manajer Juergen Klopp, demi meluapkan kegembiraan atas kepastian menjadi juara Piala Super Eropa.

Selepas para pemain Chelsea berjalan meintasi trofi Piala Super Eropa dan hanya menerima medali perak, Adrian menyusul rekan-rekannya untuk menggelar seremoni pengangkatan trofi.

Berbalutkan bendera Spanyol, Adrian didampingi rekan-rekan barunya mengangkat trofi perdananya di hadapan tribun yang dipadati suporter Liverpool.

Boleh jadi, kesuksesan Adrian mengangkat trofi pertama hanya setelah sembilan hari berada di Liverpool bakal mengaburkan waktu keseluruhan 13 tahun yang ia habiskan.

Demikianlah kisah Adrian, kiper buangan yang menjelma jadi pahlawan.
 
Pewarta :
Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar