Survei : Potensi AS masuk resesi meningkat

id Ekonomi AS,kemungkinan resesi,perang perdagangan

Kemungkinan Amerika Serikat memasuki resesi ekonomi dalam 12 bulan ke depan telah meningkat menjadi 35 persen dalam survei terhadap para ekonom pada Agustus. (Ilustrasi MGAC)

Washington (ANTARA) - Kemungkinan Amerika Serikat memasuki resesi ekonomi dalam 12 bulan ke depan telah meningkat menjadi 35 persen dalam survei terhadap para ekonom pada Agustus, dibandingkan dengan 31 persen sebelumnya, Bloomberg News melaporkan Kamis (8/8).

Menurut survei yang dilakukan Bloomberg pada 2-7 Agustus, para ekonom yang disurvei juga menurunkan estimasi mereka untuk ekspansi ekonomi AS tahun ini. Rata-rata, mereka memperkirakan pertumbuhan 2,3 persen dalam produk domestik bruto (PDB) untuk tahun ini, dibandingkan dengan perkiraan Juli sebesar 2,5 persen.

Mereka juga memperkirakan pertumbuhan PDB melambat menjadi 1,8 persen pada kuartal ketiga, dari 3,1 persen dalam tiga bulan pertama tahun ini dan 2,1 persen pada periode April-Juni.

Mengenai pertumbuhan global untuk tahun ini, para ekonom memangkas perkiraan mereka dari 3,3 persen menjadi 3,2 persen.

Hasil survei itu muncul setelah Presiden Donald Trump mengumumkan pekan lalu bahwa tarif tambahan 10 persen akan dikenakan terhadap sekitar 300 miliar dolar AS barang-barang impor dari China.

Sementara itu, Indeks Kenyamanan Konsumen Bloomberg turun 1,8 poin menjadi 62,9 pada pekan yang berakhir 4 Agustus, Bloomberg melaporkan mengutip data yang dirilis Kamis (8/8/2019). Angka terbaru, tambahnya, adalah yang terlemah dalam hampir dua bulan.

Selain itu, survei juga menunjukkan bahwa para ekonom memperkirakan penurunan suku bunga berikutnya oleh Federal Reserve akan terjadi pada September, berlawanan dengan proyeksi Desember sebelumnya. Ekonom memperkirakan penurunan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan kebijakan Fed 17-18 September yang akan membawa kisaran target suku bunga menjadi 1,75 persen hingga 2,00 persen sebagai yang paling mungkin.

Baik dalam survei maupun laporan indeks kenyamanan, Bloomberg mengutip ketegangan perdagangan yang menyebabkan ketidakpastian ekonomi sebagai alasan utama untuk prospek penurunan.
Baca juga: Trump: China 'bunuh kita dengan perdagangan tidak adil'
Baca juga: China pun berhenti beli produk pertanian AS


 
Pewarta :
Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar