Pengekspor kopi perluas jaringan ekspor ke tiga negara

id Pengekspor kopi, perluas, jaringan ekspor

Penandatanganan sertifikat pengekspor kopi (Antaralampung.com/Damiri)

Di Lampung ada beberapa daerah yang sudah mencapai tingkat produksi antara 1,6 ton sampai 1,8 ton per hektarenya, kata dia

Bandarlampung (ANTARA) - Head Of Buying Station PT Sulotco Jaya Abadi, Mulyono Susilo mengatakan, perusahaannya kini tengah memperluaskan jaringan ekspor kopi ke tiga negara, yakni Eropa Timur, Afrika, dan Timur Tengah.



"Aljazair puluhan tahun sudah ambil kopi sama kita dan sekarang kita sedang perluas ekspor kopi ke negara Eropa Timur, Afrika, dan Timur Tengah," katanya di Bandarlampung, Senin.



Ia menjelaskan, produksi kopi saat ini mempunyai hambatan seperti masalah suplai bahan baku, lantaran saat ini untuk dalam negeri sendiri sedang mengalami naik turun berdasarkan kondisi panen dan cuaca.



Namun sejauh ini pihaknya terus berusaha untuk selalu memenuhi kebutuhan tujuan ekspor. Pihaknya juga terus melakukan bimbingan kepada para petani dan memberikan pengarahan seperti penggunaan pupuk sehingga dapat menghasilkan produksi kopi yang baik.



"Kemudian kita adakan sistem secara pangkas, jadi  kita bisa pilih siapa-siapa yang petaninya produktif dan meningkat," kata dia.



Untuk sistem pangkas dirinya telah membuktikan kepada beberapa kelompok petani yang benar-benar ingin menanam, memperhatikan, hingga merawat perkebunan kopinya agar bisa menghasilkan kopi yang baik.



"Di Lampung ada beberapa daerah yang sudah mencapai tingkat produksi antara 1,6 ton sampai 1,8 ton per hektarenya," kata dia.



Mulyono menambahkan untuk volume ekspor di Indonesia saat ini rata-rata dalam per bulan mencapai 15 ribu ton. Pada tahun sebelumnya di Indonesia dalam enam tahun lalu cenderung mengalami penurunan lantaran kebutuhan dalam negeri yang sangat luar biasa.



"Tahun ini meningkat, tahun 2018 telah ekspor kopi sebanyak 1.309 ton dan tahun 2019 ini pada bulan Juli kita sampai 1.600 ton. Target kita di akhir tahun ini bisa ekspor hingga 5.000 ton ke Italia, China, Korea, Jepang, dan Malaysia. Untuk harga saat ini masih rendah dibandingkan tahun kemarin. Harga tahun ini antara 1.600 dolar AS per ton dibandingkan tahun kemarin 1.800 dolar AS per ton," katanya.

Pewarta :
Editor: Edy Supriyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar