Pasokan melimpah, harga teri asin di Pulau Pasaran turun tipis

id Pulau Pasaran,Harga ikan asin turun

Pasokan melimpah, harga teri asin di Pulau Pasaran turun tipis

Perajin ikan asin di Pulau Pasaran, Bandarlampung sedang melakukan proses penjemuran teri asin, Rabu (31/7/2019). (ANTARA/Dian Hadiyatna)

Bandarlampung (ANTARA) - Teri asin semua jenis di Pulau Pasaran, Kecamatan Telukbetung Barat, Kota Bandarlampung, Lampung mengalami penurunan harga dikarenakan pasokan sedang melimpah.

"Harga sedang turun tipis. Untuk pasokan tidak ada kendala meski cuaca sedang kemarau," kata Sanorto, salah satu perajin pembuat ikan asin di Pulau Pasaran, Bandarlampung, Selasa.

Menurut dia, bagi para perajin ikan asin, kondisi cuaca saat kemarau justru menjadi berkah tersendiri, sebab penjemuran ikan asin lebih cepat kering. Namun ada sedikit kendala yakni barang sulit keluar atau laku, sehingga para perajin sedikit menurunkan harganya.

Sarnoto menyebutkan, harga teri nasi asin dari semula Rp100 ribu per kilogram kini menjadi Rp80 ribu per kilogram, teri jengki asin dari Rp55 ribu per kilogram menjadi Rp45 ribu per kilogram, teri belah asin Rp60 ribu per kilogram kini Rp50 ribu per kilogram, dan ikan asin buntio dari Rp75 ribu per kilogram menjadi Rp60 ribu per kilogram.

Penurunan harga teri asin itu dibenarkan perajin teri asin lainnya Tarbizi.

Menurut dia, penjualan teri asin saat ini masih stabil belum ada peningkatan, dan agar barang cepat keluar atau laku, para perajin menurunkan harga jual teri asin ini.

Apalagi semua wilayah perairan di Indonesia saat ini sama-sama sedang melimpah hasil ikannya, sehingga persaingan mengeluarkan barang saat ini sangat ketat.

"Pasokan kita masih aman-aman saja, biasanya terkendala barang saat terang bulan saja," kata dia lagi.

Meskipun saat ini angin sedang kencang di lautan, menurut dia, masih banyak nelayan yang pergi berlayar karena ikan sedang banyak.

Ia mengungkapkan bahwa kendala lain dari melimpahnya barang yakni memisahkan ikan teri untuk diolah menjadi ikan asin dengan rebon. "Ya, ini membuat sedikit lama proses pengerjaannya karena kami harus memisahkan dulu rebon dengan ikan teri, rebon juga saat ini sedang banjir, sehingga bercampur dengan ikan," kata dia lagi.



 

Pewarta :
Editor : Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar