Warga pesisir Tulungagung tangkarkan telur penyu langka terancam predator

id konservasi penyu. telur penyu, pelestarian lingkungan, satwa liar, binatang laut

Warga dan penggiat lingkungan mengumpulkan tekur penyu yang dipendam induknya di dalam pasir kawasan pesisir Pantai Jung Pakis, Tulungagung, Kamis (25/7), selanjutnya dibawa ke penangkaran untuk ditetaskan. (Ist)

Tulungagung, Jatim (ANTARA) - Sejumlah warga yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata Sanggaria, Desa Jengglungharjo, Tulungagung, Jawa Timur, Kamis mengumpulkan telur penyu yang dipendam induknya di dalam pasir Pantai Jung Pakis, dan selanjutnya ditetaskan di penangkaran sementara.

Aksi konservasi warga itu disaksikan oleh sejumlah pejabat dinas terkait, baik dari pariwisata, bappeda, kelautan hingga perhutani setempat selaku pemangku wilayah.

"Penangkaran ini rutin kami lakukan dengan maksud melindungi atau menghindarkan telur penyu dari ancaman predator alaminya, maupun juga ulah manusia," kata Ketua BUMDes Mulyoharjo, Desa Jengglungharjo, Kecamatan Tanggunggunung, Tomi Suryo Atmojo.

Telur penyu yang berhasil dievakuasi atau dikumpulkan warga pecinta lingkungan itu total berjumlah 158 butir.

Namun delapan di antaranya kondisi rusak akibat pecah, warna menguning tanda pembusukan ataupun faktor lainnya.

Menurut keterangan Tomi maupun anggota pokdarwis lain, telur penyu telah diidentifikasi sejak sebulan lalu.

Mereka mengetahui dari jejak pergerakan penyu yang terlihat acak dalam luasan tertentu.

"Jejak acak itu sengaja dibuat induk penyu untuk mengaburkan agar telur-telurnya yang dipendam dalam pasir sedalam 1,5 meter tidak digali dan ditemukan predator alami maupun ulah manusia," kata Purjo Lompong, Ketua Pokdarwis Sanggaria.

Dibiarkan selama sekian pekan, telur penyu yang lokasinya sudah ditandai itu kemudian dibongkar.

Telur penyu yang segera masuk tahap menetas kemudian diambil dan dikumpulkan dalam bak plastik yang diselingi isian pasir laut guna dibawa ke penangkaran.

Kepala Desa Jengglungharjo Rudi Santoso mengatakan, empat kawasan pantai yang ada di daerah itu memang menjadi kawasan endemik empat jenis penyu langka.

Mulai dari penyu lekang (lepidochelys olivacea) dan penyu hijau (chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata) hingga penyu belimbing (Dermochelys coriacea).

Pantai-pantai di pesisir Desa Jemgglungharjo yang terpencil dan berada di balik kawasan hutan lindung rupanya menjadi tempat membiak yang disukai kawanan penyu.

Dulu, menurut keterangan Tomi, Pantai Ngalur, Sanggar, Pathuk Gebang, dan Jung Pakis banyak disinggahi penyu untuk bertelur.

Namun karena Ngalur dan Sanggar kini mulai beralih menjadi kawasan dan banyak disinggahi manusia, perilaku penyu juga sedikit berubah.

"Penyu-penyu lebih suka bertelur di Pantai Pathuk Gebang dan Jung Pakis karena masih sepi dan lebih aman dari ancaman manusia," kata Tomi.

Tomi dan Rudi memastikan telur-telur penyu yang ditangkarkan akan dirawat hingga menetas.

Tukik-hasil tetasan nantinya akan dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya di pantai selatan. 
 
Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar