Warga Desa Maringgai Lampung Timur mencari air ke sungai pada musim kemarau

id musim kemarau, lampung timur

Warga Desa Maringgai, Lampung Timur tengah bermain di Sungai Perigi. (Antara/Ruth Intan S)

Kalau musim kemarau rata-rata sumur di sini (Maringgai, red) kering. Kami di sini biasanya ke kali atau sungai
Mesuji (ANTARA) - Warga Desa Maringgai, Lampung Timur memilih pergi ke Sungai Jambu/Perigi untuk mencari air minum, mandi, dan kebutuhan lainnya menyusul musim kemarau.

"Kalau musim kemarau rata-rata sumur di sini (Maringgai, red) kering. Kami di sini biasanya ke kali atau sungai," kata Saparudin Kepala Dusun Tiga, Desa Maringgai, Lampung Timur, Senin.

Menurut dia, sungai Jambu atau Perigi tidak pernah kering sepanjang tahun, karena memiliki banyak sumber mata air alami.

"Sungai ini tidak pernah kering sama sekali, kita di Maringgai jika air habis ya ambil dari sini. Soalnya ada banyak mata air yang muncul dari tanah dan sejak dahulu dipakai sebagai pemandian Keratuan Melinting," jelasnya.

Sungai Jambu yang mengalir sepanjang tahun tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga warga, tetapi juga digunakan untuk mengairi sawah yang ada di empat dusun Desa Maringgai.

"Kalau musim kering seperti sekarang petani bergantung ke Sungai Perigi atau Sungai Jambu, untuk mengairi sawah," kata Ririn salah seorang petani desa setempat.

Ia menambahkan bahwa Sungai Jambu menjadi salah satu sumber air yang sangat diandalkan oleh masyarakat sekitar ketika musim kemarau datang, sehingga keberadaan sungai Jambu tetap dijaga alami.

"Kalau di dusun tiga, dua, dan enam kadang kalau musim kemarau air sumurnya kering, jadi mereka ke sungai waktu pagi hari dan sore hari, sungai jadi seperti sumber hidup," lanjutnya.

Hal senada dikatakan oleh Sum salah seorang warga setempat menyebutkan pohon di sekitar sungai dijaga oleh warga, sebagai sumber air.

"Jika sumber air tidak dijaga atau jadi milik perseorangan maka warga desa akan kesulitan dan kehilangan sumber kehidupan ketika musim kemarau datang," tambahnya.
Pewarta :
Editor: Samino Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar