Lombok Barat percontohan program "Sekolah Perjumpaan"

id Lombok Barat,Sekolah Perjumpaan

Diskusi program Sekolah Perjumpaan di kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Lombok Barat, NTB. (ANTARA Foto/Awaludin)

Mataram (ANTARA) - Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, menjadi proyek percontohan mengawali program "Sekolah Perjumpaan".

Bupati Lombok Barat H Fauzan Khalid di Lombok Barat, Senin (24/6), menjelaskan program "Sekolah Perjumpaan" dimaksudkan untuk meningkatkan hubungan antar sesama staf pemerintahan sekaligus meningkatkan hubungan dengan masyarakat sehingga menghasilkan pelayanan yang maksimal.

Sekolah Perjumpaan sendiri pada dasarnya adalah memperkuat titik temu relasi sosial. Tujuannya untuk membangun kebersamaan dengan tujuan akhir memajukan daerah dan membangun bangsa.

"Selain di Disdukcapil dan Dinas Pekerjaan Umum, saya ingin sekali sekolah perjumpaan ini diterapkan di dinas lain, terutama di keluarga besar dinas pendidikan dan dinas kesehatan. Karena dinas-dinas itu sangat menentukan dalam konteks pemberian pelayanan kepada masyarakat," katanya.

Kepala Disdukcapil Kabupaten Lombok Barat, H Muridun, menyambut baik program yang dicetuskan oleh Guru Besar Universitas Mataram (Unram), M Husni Muadz.

Menurut dia, program tersebut sangat penting dalam hal relasi dengan sesama staf dan dengan masyarakat.

"Sekolah perjumpaan yang kami maksud adalah bagaimana kita membentuk karakter diri untuk memanusiakan manusia. Menitikberatkan pada 'hablumminannas', baik antar sesama teman di kantor, termasuk juga terhadap masyarakat yang kita layani di kantor setiap hari," katanya.

Sementara itu, Guru Besar Universitas Mataram, M Husni Muadz, memaparkan sekolah perjumpaan hakekatnya adalah memperkuat titik temu relasi sosial.

Warga NTB biasanya hidup berkelompok-kelompok. Ada yang berkelompok menurut keyakinan, suku, asal daerah, keturunan dan lain sebagainya.

Demikian juga pergaulan di sekolah-sekolah, bahkan di tiap-tiap kelas, anak-anak seringkali bergaul dengan membuat kelompok-kelompok yang eksklusif. Misalnya berdasarkan sesama orang kaya, sesama agama, sesama suku dan perbedaan-perbedaan lainnya.

"Mengapa berkelompok, karena ada perbedaan. Tetapi di antara perbedaan itu, sesungguhnya terdapat kesamaan. Kesamaan itu adalah titik temu," kata Muadz.
Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar