Pengembangan pariwisata perlu berlandaskan kearifan lokal

id pariwisata

Pengamat pariwisata dari Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Chusmeru (dok. pribadi)

Purwokerto (ANTARA) - Pengamat pariwisata dari Universitas Jenderal Soedirman Chusmeru mengatakan pengembangan pariwisata di daerah perlu berlandaskan pada kearifan lokal yang dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat.

"Dalam proses perencanaan maupun pengembangan objek dan daya tarik wisata perlu berlandaskan kearifan lokal," katanya di Purwokerto, Minggu.

Dia menjelaskan, poses perencanaan dan pengembangan pariwisata perlu mempertimbangkan nilai-nilai sosial budaya yang ada di daerah misalnya melalui musyawarah, gotong royong, maupun mitologi yang dipercaya oleh masyarakat.

"Jangan sampai, pengembangan pariwisata di daerah semata direncanakan oleh pemerintah daerah dan investor saja tanpa melibatkan masyarakat agar proses perencanaan berjalan optimal, misalnya melalui rembug warga," katanya.

Masyarakat yang paham betul tentang apa yang boleh dan tidak boleh dikembangkan di daerah berdasarkan kepercayaan mereka. "Jangan sampai pengembangan pariwisata di daerah justru mendapat penolakan warga, misalnya karena bertentangan dengan mitos dan kepercayaan masyarakat," katanya.

Dia mencontohkan, bisa saja masyarakat setempat menolak pembangunan dan pengembangan pariwisata yang dinilai akan berdampak pada perusakan lingkungan atau bertentangan dengan kepercayaan masyarakat setempat. "Inilah arti penting kearifan lokal dalam proses perencanaan pengembangan pariwisata di daerah," katanya.

Dari sisi pengembangan objek dan daya tarik wisata, kata dia, kearifan lokal juga patut dipertimbangkan. "Biasanya setiap daerah memiliki jenis kesenian yang bersifat sakral. Menjadikan kesenian yang sakral sebagai daya tarik wisata dan tontonan wisatawan justru akan mengurangi kesakralan kesenian yang sudah sejak dahulu dipercaya masyarakat," katanya.

Oleh karena itu, tambah dia, perlu mengajak masyarakat untuk ikut merencanakan pengembangan pariwisata berdasarkan kearifan lokal yang dimilikinya.
"Komodifikasi seni budaya untuk kepentingan pariwisata tanpa mempertimbangkan kearifan lokal akan membuat masyarakat kehilangan keaslian seni budayanya," katanya.
 

Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar