Akademisi: Kasus Bulukumba bentuk penyalahgunaan teknologi

id bulukumba

Akademisi dari kampus USTJ Irjii Matdoan MT (Dokumen pribadi Irjii Matdoan)

Jayapura (ANTARA) - Akademisi dari Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ) Irjii Matdoan MT menilai kasus video asusila siswi SMK di Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel) adalah bentuk dari penyalagunaan teknologi.

"Iya, ini bentuk dari penyalahgunaan teknologi yang ada di handphone tersebut. Kemajuan teknologi ada sisi baik dan buruknya, tinggal dari kita yang harus pintar dan bijak menggunakannya," katanya di Kota Jayapura, Papua, Senin.



Seharusnya, tambah dia hal itu tidak akan terjadi jika peran dari orang tua dan orang sekitar lebih peka dalam mengontrol anak-anak sebagai generasi muda penerus bangsa, sehingga tidak mencoreng dunia pendidikan.

"Kenapa mencoreng, karena kasusnya kalau tidak salah masih di lingkungan sekolah atau berpakaian sekolah. Dan saya kira kasus seperti ini bukan baru pertama kali, hampir ada selalu diberitakan tiap tahun. Seharusnya ada kebijakan yang lebih mementingkan norma dan etika bagi anak-anak kita," jelasnya.

Misalnya dalam penggunaan handphone atau sejenisnya bisa lebih dibatasi, baik di rumah atau di lingkungan sekolah, dimana peran dari orang tua dan guru lebih peduli dengan anak atau murid mereka.

"Terutama perbanyak belajar ilmu agama, perbanyak belajar apa itu nilai-nilai Pancasila, wawasan kebangsaan dan bela negara," kata Irjii yang juga Ketua Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Provinsi Papua.

Kembali ke teknologi, Irjii yang merupakan Wakil Dekan dari Fakultas Ilmu Komputer (Fikom) Kampus USTJ itu mengatakan seharusnya hal itu bisa digunakan untuk mempermudah dalam pekerjaan atau hal positif lainnya.

"HP jaman sekarang kan sudah dilengkapi dengan alat dan aplikasi yang canggih, sekali klik bisa tersebar kemana-mana. Ini seharusnya ada pendampingan dari pihak orang tua dan guru. Karena ketika kita memberikan anak HP, maka kita seharusnya sudah tahu dampak negatif dan positifnya," terangnya.



Irjii berharap aparat kepolisian dibantu pihak sekolah bisa segera mengungkap kasus tersebut, terutama menutup akun penyebar video asusila tersebut, sehingga tidak menjadi viral dan contoh buruk bagi generasi muda berikutnya.

"Kita semua ikut bertanggung jawab dengan persoalan itu. Ada baiknya, instansi terkait segera memblokir akun penyebar video dan mengusut siapa yang sengaja menyebarnya," katanya.
 
Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar