PDIP: Pembunuhan tokoh politik tidak boleh ada di Indonesia

id Rencana pembunuhan tokoh, Tim mawar, pilpres 2019

Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Charles Honoris. (Istimewa/Dok)

Perebutan kekuasaan dalam negara demokratis seperti Indonesia haruslah melalui pemilu, bukan dengan desing mesiu, ujar anggota Fraksi PDIP DPR RI itu
Bandarlampung (ANTARA) - Pembunuhan tokoh politik sebagaimana terjadi di Timur Tengah dan Amerika Latin tidak boleh ada di Indonesia, kata politikus PDI Perjuangan Charles Honoris.

Menurut Charles, rencana pembunuhan terhadap tokoh-tokoh politik nasional sebagaimana diungkap kepolisian menunjukkan ada upaya memainkan politik kekerasan oleh segelintir elit sebagai ekspresi ketidakpuasan terhadap proses elektoral yang sudah berjalan.

"Negara tidak boleh membiarkan aksi kekerasan tersebut sebelum telanjur menjadi 'lingkaran setan kekerasan' dalam perpolitikan Indonesia," kata Charles di Jakarta, Rabu.

Dikatakannya, dalam beberapa dekade terakhir, ratusan tokoh politik di Amerika Latin menjadi korban pembunuhan dari lawan politik, kartel narkotika dan kekuatan militer.

Tidak sedikit juga tokoh politik di Timur Tengah yang meninggal dunia karena dibunuh, sebut saja pembunuhan mantan PM Lebanon Rafik Hariri, yang membawa negara tersebut kepada tradisi kekerasan yang seakan tak berkesudahan, ujar Charles.

Ia mengatakan, Indonesia tidak memiliki tradisi perebutan kekuasaan dengan cara-cara pembunuhan tokoh politik seperti itu. Oleh karena itu, segenap anak bangsa hendaknya bersatu untuk menentang dan tidak memberi ruang sedikitpun terhadap segala bentuk politik kekerasan.

"Perebutan kekuasaan dalam negara demokratis seperti Indonesia haruslah melalui pemilu, bukan dengan desing mesiu," ujar anggota Fraksi PDIP DPR RI itu.

Anggota Komisi I DPR itu memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada TNI dan Polri yang telah mencegah terjadinya pembunuhan tokoh-tokoh politik, dan menjadi benteng terdepan NKRI.

Kesiapsiagaan TNI-Polri dalam menjaga NKRI, lanjut Charles, hendaknya juga diikuti dengan sikap elit yang antikekerasan dan mengedepankan cara-cara bermartabat dalam berpolitik.

"Elit politik seharusnya menyadari bahwa kekuasaan bukanlah segalanya sehingga tidak perlu cara-cara jalanan untuk merebutnya. Sebaliknya, sekeras apa pun pemilu sebagai mekanisme perebutan kekuasaan yang sah dalam negara demokratis tidak boleh membawa Indonesia pada sebuah lingkaran setan kekerasan," ujar Charles.
Pewarta :
Editor: Edy Supriyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar