Jihan Nurlela dan Politik Riang Gembira

id jihannurlela, DPD Lampung,senator lampung

Dr Oki Hajiansah Wahab, akademisi dan peneliti Universitas Muhammadiyah Metro (UMM) di Lampung.(Foto:ANTARA/Ist)

Bandarlampung (ANTARA) - Pesta demokrasi telah usai. Meski demikian beragam kejutan dan perdebatan terus bermunculan. Artikel ini tak hendak mengulas perdebatan dan perbedaan melainkan  salah satu kejutan yang muncul dalam Pemilu 17 April khususnya di Provinsi Lampung.

“Jihan masuk tuh,” ujar seorang sahabat yang sudah beberapa waktu tak berkomunikasi usai menikah. Tentu sebagai kawan saya bergembira meski ia paham bahwa satu jagoan lain  yang saya harapkan tampaknya tidak akan masuk kali ini. Sejak awal saya selalu menyampaikan kombinasi energi baru dan petahana akan banyak membantu bagi perkembangan Lampung.

Jihan Nurlela adalah salah satu anak muda yang maju untuk pemilhan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Lampung. Adik kandung Bupati Lampung Timur dan Wakil Gubernur Lampung terpilih (Chusnunia Chalim) tersebut adalah seorang dokter muda yang memutuskan masuk dunia politik. Di awal tentu tak banyak yang mengenal kiprahnya. Seiring waktu namanya mulai dikenal dan akhirnya diprediksi akan meraih suara terbanyak untuk DPD asal Lampung.
(Hasil hitung cepat Rakata Institute di Lampung memprediksi lima calon senator Lampung peraih suara tertinggi adalah Jihan Nurlela, KH Abdul Hakim, Ahmad Bastian Sy, Bustami Zainuddin,  dan Alzier Dianis Thabrani. Mereka mengungguli senator asal Lampung sebelumnya/petahana yang kembali maju dalam Pemilu 2019 ini).

Sejak awal memang secara matematis sudah bisa diprediksi bahwa Jihan dengan bantuan jejaring politik keluarganya akan masuk ke parlemen. Dengan mengoptimalkan suara di salah satu kabupaten saja, maka kalau hanya sekadar masuk tentu itu bukanlah hal yang terlalu sulit.

Menariknya, Jihan tak berpuas diri dengan modal sosial tersebut.  Ia justru tampak rajin berkeliling ke berbagai daerah, melakukan berbagai model  kerja sama kampanye dan memanfaatkan berbagai medium yang memungkinkan. Hasil perolehan suara sementara menunjukkan bahwa sebaran suaranya cukup merata.

Saat ia mulai ditetapkan menjadi calon DPD, ia pun mulai mengikuti kursus masak emak-emak untuk mendekatkan dirinya dengan para calon pemilih. Perlahan kepercayaan dirinya terus meningkat. Panggung-panggung politik mulai yang kecil dan besar ia hadiri, mulai dari jalan sehat hingga pengajian dihadirinya.

Politik riang gembira yang ia kembangkan sebagai newcomer berhasil menarik pemilih dari berbagai segmen. Mulai dari emak-emak, hingga kalangan milenial tampaknya tertarik dengan model kampanye yang terlihat jauh dari kesan serius politik. Ia tampil dengan gaya berbeda ditopang dengan paras ayunya. Hal menarik yang ia ingin sampaikan adalah bahwa dirinya berupaya bekerja keras dengan caranya sendiri untuk membuktikan  potensi dan kemampuannya.

Satu hal yang tak banyak dilakukan adalah mengoptimalkan media sosial. Tampaknya ia adalah salah satu calon yang paling aktif mengoptimalkan media sosial terutama instagram. Followernya naik drastis seiring dengan aktivitas politiknya selama masa kampanye. Sampai di sini ia tak mengandalkan publikasi media mainstream dan pengaruh keluarganya semata. Ia juga rajin mengendorse koleganya sesama politisi muda untuk terus bersemangat mengarungi ruwetnya rimba politik.

Langgam politik riang gembira yang diusungnya membuatnya populer. Ia berhasil merepresentasikan gaya politik anak muda kekinian. Walhasil perolehan suaranya meski belum final, berhasil mengungguli para politisi senior lainnya. Sampai di sini kombinasi antara kekuatan jejaring keluarga, kerja kerasnya dan kepiawaian mengombinasikan politik di dunia maya dan ruang-ruang nyata.

Jihan tampaknya berpotensi untuk menjadi magnet dan energi baru dalam politik lokal khususnya di Lampung. Meski demikian usianya yang muda dan pengalaman politiknya tentu masih terbatas. Ke depan ia akan menghadapi tekanan politik seiring dengan aktivitasnya.

Pada sisi lain kosmologi politik di Indonesia tampaknya juga tak bisa lepas dari tren politik di seluruh dunia. Justine Trudeau di Kanada, Emmanuel Macron di Prancis, Syed Saddiq Syed Abdul Rahman di Malaysia, Shamma al Mazrui di Uni Emirat Arab, dan masih banyak lainnya adalah contoh kebangkitan para politisi muda.

Iklim politik Indonesia kini lebih bersahabat bagi politisi muda, karena dari 196 juta pemilik suara, sekitar 100 juta pemilih adalah kaum muda.

Seiring waktu, pengalaman dan politik riang gembira yang diusungnya, perlahan akan membentuknya menjadi politisi andal. Paras cantik sebagai modal tentu tidak cukup dan harus dilengkapi dengan semangat bekerja keras untuk mewujudkan harapan para pemilihnya.

Sebagai politisi muda, ia harus lebih berani mewacanakan sistem politik yang tidak lagi mengedepankan asal-usul seorang politisi. Di sinilah pentingnya kehadiran sosok politisi muda dalam melahirkan narasi politik yang akan membawa kesegaran baru dalam iklim politik.

Bila tak ada aral, maka hampir dapat dipastikan ia melenggang ke Senayan. Kerja berat telah menantinya. Ke depan tak cukup politik riang gembira semata, tapi harus mulai bertransformasi menjadi langgam kerja politik riang gembira untuk bekerja melayani warga.

Bila ia berhasil melakukannya, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama ia akan menjelma menjadi energi sekaligus bintang baru politik Lampung yang potensial untuk menggantikan kakaknya yang mulai dimakan usia.

Akhirnya, selamat bekerja, teruslah berpolitik dengan riang gembira untuk bekerja dan melayani warga.

*) Dr Oki Hajiansah Wahab,  akademisi dan peneliti di Lampung.
Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar