Tiga petugas KPPS di Lampung meninggal akibat kelelahan

id tiga petugas kpps, meninggal, pemilu, lampung

Ilustrasi petugas TPS melaksanakan tugas pada Pemilu 2019. (ANTARA/Adeng Bustomi)

Bandarlampung (ANTARA) - Tiga petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) meninggal dunia dan lainnya harus dirawat di rumah sakit selama pelaksanaan Pemilu 2019 di Provinsi Lampung. Pada banyak TPS, penghitungan suara Pemilu 2019 ini berlangsung hingga larut malam. 

"Tiga petugas KPPS meninggal dunia karena kelelahan dan ada yang dirawat karena menjadi korban pembegalan, kelelahan, dan kecelakaan," kata Ketua KPU Lampung Nanang Trenggono, di Bandarlampung, Sabtu malam.

Ia menyebutkan tiga petugas KPPS yang meninggal dunia, yakni KPPS Way Kanan atas nama Paidi yang bertugas di TPS 3 Negara Harja, Kecamatan Pakuon Ratu.

Kemudian KPPS Pesawaran atas nama Ikhwanudin Yuda Putra yang bertugas di TPS 7 Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, dan KPPS Bandarlampung atas nama Bambang Wijayanto yang bertugas di TPS 27 Kelurahan Sepang Jaya, Labuhan Ratu.

"Dua petugas KPPS Way Kanan dan Pesawaran meninggal dunia karena kelelahan, sedangkan petugas KPPS Bandarlampung meninggal dunia saat selesai melakukan pemungutan suara dan hitung suara di TPS dan akan membagikan honor KPPS," kata dia lagi.

Selain meninggal dunia karena kelelahan, ada sejumlah petugas KPPS, PPK, dan PPS yang dirawat di rumah sakit hingga puskesmas karena kelelahan, kecelakaan, hingga menjadi korban pembegalan.

Petugas yang sedang dirawat di rumah sakit ada lima orang, di antaranya petugas KPPS, PPK, dan PPS yang bertugas di Kabupaten Pringsewu dan Kabupaten Waykanan.

Petugas PPS yang bertugas di Pringsewu Nisfi Laili, petugas PPK Niken, dan petugas KPPS Syamsul Rifa'i. Sedangkan petugas PPK Waykanan Joko Supriyadi, dan petugas KPPS Nurwani.

"Untuk petugas yang kecelakaan hingga menjadi korban pembegalan di Waykanan luka pada lututnya yang bergeser, jari retak, patah kaki, hingga luka robek di kening," katanya lagi.

Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar