Waykanan Deklarasi Bebas ODF-BAB Sembarangan di Lampung

id Waykanan, adipati, odf

Bupati Waykanan Raden Adipati Surya melakukan deklarasi ODF sebagai wilayah stop buang air besar sembarangan (BABS) di Lampung. (Foto: Antaralampung/Emir F Saputra)

Bandarlampung (ANTARA) - Bupati Waykanan, Provinsi Lampung Raden Adipati Surya melaksanakan deklarasi Open Defecation Free (ODF) karena menjadi daerah yang telah 100 persen stop atau bebas buang air besar (BAB) sembarangan.

“Kabupaten Waykanan telah 100 persen stop buang air besar sembarangan, dan ini merupakan capaian terbaik sejak dicanangkan 2016 lalu,” kata Adipati, di Bandarlampung, Jumat.

Menurutnya, target ODF ini menjadi hal prioritas di Waykanan, karena masih banyak masyarakat yang membuang air besar sembarangan. Bahkan yang memiliki jamban juga enggan menggunakannya, malah lebih memilih buang air besar di sungai. 

Selain itu, masyarakat juga harus mengetahui dampak dari buang air besar sembarangan yang dapat menimbulkan penularan penyakit seperti diare, dan mempengaruhi pertumbuhan anak. Keterkaitan sanitasi yang buruk pada anak mampu mempengaruhi nutrisi yang dapat diserap oleh anak, sehingga mempengaruhi pertumbuhan, salah satunya diindikasikan sebagai stunting.

“Ini merupakan hasil bersama-sama masyarakat yang berkomitmen untuk stop buang air besar sembarangan, karena dengan terwujud capaian ini, berarti di Waykanan sudah sadar betapa penting kesehatan,” kata Adipati yang juga pernah menjabat anggota DPRD Waykanan itu pula. 

Ia menjelaskan, dari data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menyatakan bahwa proporsi perilaku masyarakat Indonesia yang Buang Air Besar Sembarangan (BABS) sebesar 11,8 persen, sedangkan masyarakat Provinsi Lampung yang masih BAB sembarangan sebesar 13,72 persen. 

Kondisi sarana sanitasi Kabupaten Waykanan pada tahun 2017, dengan kepala keluarga (KK) yang memiliki akses terhadap jamban leher angsa sebanyak 50.309 KK atau 44,3 persen, jamban cemplung 49.200 KK atau 43,3 persen, menumpang 5.752 KK atau 5,1 persen, dan buang air besar sembarangan 8.241 KK atau 7,3 persen.

Kemudian pada tahun 2018, kondisi sarana sanitasi Kabupaten Waykanan  dengan KK yang memiliki akses terhadap jamban leher angsa sebanyak 53.496 KK atau 46,9 persen, jamban cemplung 47.411 KK atau 41,6 persen, menumpang 5.626 KK atau 4,9 persen, dan buang air besar sembarangan 7.431 KK atau 6,5 persen.

Sejalan dengan strategi yang dibangun, kondisi sanitasi Kabupaten Waykanan per Februari 2019 akses penduduknya terhadap sarana sanitasi (jamban) sehat di 227 kampung/kelurahan 114.531 KK telah mencapai 100 persen, dengan KK yang memiliki akses terhadap jamban leher angsa sebanyak 76.253 KK atau 66,6 persen, jamban cemplung tertutup 33.216 KK atau 29 persen, sharing (menumpang) 5.062 KK atau 4,4 persen, dan tidak ada lagi masyarakat Waykanan yang buang air besar sembarangan.

Bahkan, untuk mendukung target ODF, Pemkab Waykanan mengeluarkan Peraturan Bupati Waykanan Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan Belanja Kampung (APBK), Surat Keputusan Bupati Nomor 459/IV.02-WK/HK/2018 Tahun 2018 tentang Satuan Tugas (Satgas) 8485, dan Surat Edaran Bupati Nomor 800/505.a/IV.02-WK/2018 tentang Upaya Percepatan Pencapaian Kampung Stop Buang Air Besar Sembarangan/Open Defecation Free (ODF). 

Sejalan dengan sistem yang dibangun oleh Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), Kabupaten Way Kanan memiliki skor 48,4441 dan berada pada peringkat 2 (dua) nasional setelah Kota Kendari.

Di Lampung, kabupaten lain yang sudah menyatakan diri bebas ODF adalah Kabupaten Pringsewu, dengan beberapa kabupaten/kota lain telah pula mencanangkan bebas ODF serta sedang berusaha mencapai target 100 persen.
Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar