Buronan bagaikan "Belut Licin" Akhirnya Terjerat di Bali

id Alay

Sugiarto Wiharjo alias Alay saat dijemput petugas kejaksaan tinggi di Bali, Kamis, (7/2/2019) (Istimewa).

Bandarlampung (Antaranews Lampung ) - Perjalanan seorang terpidana daftar pencarian orang (DPO) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung atau yang lebih dikenal banyak orang "buronan kelas kakap" Sugiarto Wiharjo alias Alay akhirnya terhenti di Bali.

Kalangan masyarakat lebih mengenal "belut" tersebut dengan sebutan Alay. Alay mendapatkan julukan dengan sebutan "belut" lantaran kemahirannya dalam menyembuyikan dirinya dari jeratan aparat penegak hukum.

Selicin-licinya "belut",  akhirnya Alay tetap dapat ditangkap. Meskipun pihak kejaksaan terpaksa harus menambah jaring dengan merek komisi pemberantasan korupsi (KPK).

Big bos Bank Tripanca Grup di Lampung ini ditangkap oleh pihak KPK dan Kejati Bali. Dia ditangkap pada saat akan menyantap makan malam bersama keluarga tercintanya di sebuah hotel kawasan Tanjung Benoa, Bali pada Rabu 6 Februari 2019.

Saat penangkapan, pria mengenakan kacamata minus ini pun tidak bisa berkutik lagi. Dia terpaksa harus menyerah dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya untuk menikmati hunian lamanya di sel tahanan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Rajabasa, Bandarlampung.

Mendengar penangkapan Alay, kalangan masyarakat maupun media merasa kaget dan tidak sabar ingin melihat sosok si "belut" putih yang mahir dalam bersembunyi. Tak hanya sampai disitu, kalangan ahli hukum juga tidak mau ketinggalan meskipun menyampaikan sepatah dua patah apresiasi terhadap sinergi antara kejaksaan dan KPK.

Sehari setelah penangkapan Alay tepatnya pada Kamis 7 Februari 2019, tim dari Kejati Lampung pun bersiap-siap  ke Bali. Mereka pergi menuju ke Bali untuk membawa sang  "belut" ke Provinsi Lampung.

Buronan kelas "wahid" itu pun diterbangkan melalu Bandara Internasioanal Ngurah Rai, Bali pukul 14.00 WITA dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia. Penerbangannya pun dikawal super ketat oleh petugas dari Kejati Lampung mengingat selain licin buron tersebut juga lincah.

Sebelum Alay dikembalikan ke habitatnya, petugas Kejati Lampung menyempatkan diri untuk menyinggahi Kantor Kejaksaan Agung (Kejagung) RI untuk merilis tangkapan tersebut kepada awak media setempat.

Usai di pajang di Kejagung, keesokan harinya Alay diterbangkan kembali dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju Bandara Radin Intan, Lampung menggunakan pesawat Lion Air. Penerbangan Alay masih dalam pengawalan ketat oleh tim Kejati Lampung hingga sampai tujuan.

Jumat siang sekitar pukul 12.00 WIB, Alay tiba di Kantor Kejati Lampung. Petugas Satbrimobda Polda Lampung juga ikut mengawal Alay dari Bandara menuju Kejati Lampung.

Alay tiba di Kejati Lampung dengan mengenakan pakaian berupa celana jins pendek, pakaian kaos oblong, dan dibaluti rompi bertuliskan tahanan Kejati Lampung. Tak luput juga kedua tangannya ikut diborgol.

Sesampainya di Kejati Lampung, Alay kemudian dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh petugas. Tak lama itu, kemudian ia dibawa ke Kantor Lapas Bandarlampung menggunakan mobil tahanan Kejati Lampung tetap dengan pengawalan ketat.

Menurut catatan Alay ditetapkan buron sebanyak dua kali. Sejak tahun 2008 silam atau sepuluh tahun dari sekarang buronan kawakan ini menyandang status buron akibat terjerat kasus tindak pidana perbankan dan kasus korupsi Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Lampung Timur senilai Rp108 miliar.

Kasus korupsi yang melibatkan Alay bermula saat krisis global yang menerpa Indonesia. Akibatnya membuat Bank Tripanca Grup yang juga salah satu perusahaan bergerak di bidang komoditas ekspor kopi jadi kolaps.

Saat perusahaanya kolaps Alay saat itu  mengidap pemyakit sehingga dirinya terpaksa harus menjalani perobatan ke Singapura. Namun lama tidak muncul, kemudian Mapolda Lampung memburu Alay bahkan menetapkan Alay masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

Berjalannya waktu Alay kemudian berhasil ditangkap pada tanggal 9 Desember 2008 silam. Dia ditangkap saat turun dari pesawat Garuda Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta. Saat itu pesawat tersebut dari arah Singapura.

Tak mau ambil risiko kemudian Alay dimasukkan ke dalam sel tahanan Rutan Way Huwi pada tahun 2009 atas kasus tindak pidana perbankan dan dijatuhi hukuman selama lima tahun penjara.

Tahun 2012 terkait dengan kasus korupsi APBD Lampung Timur, Alay dijatuhi hukuman selama lima tahun kurungan penjara pada tingkat Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang, Bandarlampung.

Tak terima dengan hukuman itu kemudian dia mengajukan banding ke tingkat Pengadilan Tinggi (PT) Lampung. Alih-alih mendapatkan pengurangan hukum, pada tahun 2013 PT justru menguatkan putusan yang telah dijatuhkan oleh PN Tanjungkarang.

Merasa tidak puas juga kemudian Jaksa Penuntut Umum (JPU) mengajukan banding pada tingkat Kasasi ke Mahkamah Agung (MA) RI. Atas banding tersebut, pada tahun 2014 Alay justru mendapatkan hukuman lebih berat dari sebelumnya yakni selama 18 tahun kurungan penjara.

Sayannya si "belut" pada putusan MA saat itu tidak bisa dieksekusi lantaran dirinya telah mempersiapkan dengan matang untuk pelarian kedua kalinya.

Pada saat yang hampir bersamaan, mantan Bupati Lampung Timur, Satono saat itu juga mendapat hukuman kurungan penjara selama 15 tahun atas kasus korupsi APBD Lampung Timur senilai Rp 119 miliar.

Namun Satono hingga saat ini belum terlihat batang hidungnya. 

Kini, masyarakat menanti aksi Kejati untuk menangkap mantan sang bupati.  Bila terealisasi? 
Pewarta :
Editor: Samino Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar