Permintaan India Naik, Harga Sawit mulai membaik

id harga sawit naik, harga minyak goreng naik

Para petani kelapa sawit menaikkan Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit ke atas sepeda motornya untuk dijual, di Desa Payung Makmur, Kec.Pubian, Kab.Lampung Tengah, Provinsi Lampung (FOTO ANTARA/M.Tohamaksun)

Palembang (Antaranews Lampung) - Harga tandan buah segar menunjukkan tren terus membaik pada awal 2019, dipengaruhi meningkatnya permintaan India di pasar ekspor dan permintaan dalam negeri sendiri seiring dengan kebijakan mencampur minyak diesel dengan minyak sawit mentah.        

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Provinsi Sumatera Selatan Harry Hartanto di Palembang, Selasa, mengatakan, adanya tren positif ini menumbuhkan optimistis para pelaku usaha bahwa industri sawit akan tumbuh lebih baik pada 2019.        
    
"Saat ini permintaan sedang tinggi dari India, selain itu kegiatan menghasilkan B-20 (mencampur minyak diesel dengan minyak sawit mentah/CPO) sedang gencar-gencarnya dilakukan pemerintah. Ini telah berdampak pada serapan, sehingga harga bergerak naik," kata dia.         

Sejauh ini, berdasarkan hasil penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) periode II, tanggal 17 Januari 2018 disebutkan harga sawit umur 10 - 20 tahun naik Rp82,24/kg menjadi Rp1.370,16/kg.         
    
Harga minyak sawit mentah (CPO) ditetapkan Rp6.479,84/kg dan harga kernel Rp4.409,29/kg dengan indeks K 83,96 persen.          

Kenaikan ini patut disyukuri menurut Harry, karena jika merujuk hasil dari tim penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Sumatera Selatan (Sumsel) periode II, tanggal 18 Desember 2018 diketahui harga sawit umur 10 - 20 tahun Rp1.213,98/kg.          
     
Sementara itu, harga minyak sawit mentah (CPO) ditetapkan Rp 5.705,64/kg dan harga Kernel Rp4.013,72/Kg dengan indeks K 84,05 persen.        
    
Menurut Harry, meski telah terjadi kenaikan harga tapi sejatinya belum ideal. Harga sawit usia 10-20 tahun diharapkan menyentuh Rp1.500/kg dan CPO Rp7.000/kg.        
    
Lantaran belum ideal ini, petani berupaya menekan biaya produksi, salah satunya efektif dalam pengelolaan kebun, kata dia.**
Pewarta :
Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar