GPIB Marturia Peninggalan Belanda Tetap Kokoh Layani Umat

id Gereja Marturia,GPIB Marturia, Gereja Marturia Bandarlampung

GPIB Marturia Bandarlampung tetap kokoh berdiri di tengah hiruk pikuk aktivitas warga di sekitarnya. (FOTO: ANTARA Lampung/Ruth Intan Sozometa)

Bandarlampung (Antaranews Lampung) - Berdiri tak jauh dari Pasar Bambu Kuning yang terkenal dan fenomenal di pusat Kota Bandarlampung, ibu kota Provinsi Lampung, Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Marturia tetap berdiri kokoh menjadi sarana peribadatan umat, kendati umurnya mendekati satu abad.

Di tengah hiruk pikuk sekitar Pasar Bambu Kuning itu, hingga kini tetap berdiri utuh sebuah gereja yang sebenarnya merupakan bangunan tua peninggalan Belanda di Kota Bandarlampung yang berusia mendekati seratus tahun, dengan jumlah jemaat tiga ratus keluarga atau sekitar 1.000-an jiwa.

Gereja ini dibangun pada masa penjajahan Belanda sejak tahun 1927, dengan nama awal "Protestantsche Kerk in Nederlands Indie" di bawah kepemimpinan Pdt J Luther Ramp.

Gereja ini mula-mula hanya berbentuk persekutuan jemaat yang bertempat di perkebunan "Kolonie de Giesting".

Setelah disahkan Gereja "Protestantsche Kerk in Nederlands Indie" ini, melalui dasar hukum kelembagaan Staatsblad Hindia Belanda, S 1927 Nomor 156, tanggal 29 Juni 1927, gereja menurut hukum memiliki sifat sebagai Badan Hukum (Dikutip dari Tata Gereja 2015).

Jemaat mulai membangun gedungnya secara bertahap, karena keterbatasan dana yang dibutuhkan.

Setelah delapan tahun terkumpul dana sebesar sebelas ribu seratus dua puluh satu gulden tiga puluh sen untuk membangun gedung gereja secara utuh (Panitia Pelaksanaan Jubileum Gedung GPIB Marturian 16 Oct 1988, "Dari Bamboe Koening ke Marturia")

Ternyata banyak donatur ikut berpartisipasi dalam pembangunan dan melengkapi kebutuhan gereja, salah satunya bantuan instalasi listrik yang diberikan oleh Nederlandsche Indische Gast Maatschappy (salah satu PLN Belanda saat itu), dan berbagai bantuan lain oleh jemaat gereja.

Sehingga pada tanggal 16 Oktober 1938 pukul 09.30 WIB sebuah momentum bersejarah, setelah delapan tahun lebih penantian warga jemaat akan berdirinya bangunan gereja.

Akhirnya telah terwujud dengan dilaksanakan pentahbisan dan peresmian gedung gereja ini yang ditandai dengan bergema lonceng gereja yang kemudian hari pada masa pendudukan Jepang hilang dan mungkin telah dilebur.

               Berubah Fungsi
Tujuan awal berdiri rumah ibadah ini adalah untuk mewadahi masyarakat beragama Kristiani, warga Belanda maupun keturunan Belanda untuk beribadah.

Akan tetapi, fungsi tersebut sempat berubah ketika warga Belanda kembali ke negaranya akibat invasi militer Jerman ke Belanda selama lima tahun, dan segala kepengurusan diserahkan kepada warga lokal.

Pada masa Perang Kemerdekaan, GPIB Marturia sempat beralih fungsi sebagai rumah abu bagi tentara Jepang, kemudian menjadi salah satu markas pejuang kemerdekaan Indonesia, hingga digunakan sebagai pusat gabungan gereja di Bandarlampung (Tanjungkarang-Telukbetung) yang kala itu belum memiliki gedung permanen.

Namun seiring dengan berganti waktu "Protestantsche Kerk in Nederlands Indie" yang dikenal oleh masyarakat pribumi kala itu sebagai Gereja "Bamboe Koening" yang sempat beralih fungsi dari zaman ke zaman, dan berubah nama menjadi Gereja Marturia (Kesaksian) tepat tanggal 16 Oktober 1988.

Tujuan dipilih Marturia sebagai nama baru bagi gereja tua ini, karena nama tersebut selaras dengan misi gereja saat itu yaitu perlu pengkabaran Injil oleh gereja dan sebagai sarana berkat bagi semua orang.

Sesuai dengan berganti nama gereja dari waktu ke waktu, bangunan gereja GPIB Marturia mengalami beberapa renovasi di beberapa bagian karena mengalami kerusakan akibat termakan zaman, termasuk renovasi bentuk menara dan teras gereja pada tahun 1958 hingga bentuk gereja menjadi seperti pada saat ini tahun 2019.

Bangunan gereja ini memiliki arah hadap timur laut. Sedangkan fa?ade bangunannya berupa pintu besar dengan dua di kanan kirinya terdapat jendela kaca. Pada sisi kiri bangunan terdapat menara dengan atap tajuk khas gereja.

Gereja Marturia ini dengan denahnya empat persegi panjang orientasi timur laut-barat daya. Bagian dalamnya berupa aula untuk para jemaat. Mimbarnya berada di barat laut.

Pada belakang mimbar itu terdapat kaca patri berbentuk bulat bertuliskan nama arsitek bangunan gereja ini, yaitu Robert Deppe. Atapnya berkonstruksi pelana yang ditutup genteng.

Gereja yang dibangun pada zaman kolonial Belanda ini, hingga sekarang telah direnovasi tanpa mengubah bentuk aslinya.

Sebagai saksi bisu peristiwa bersejarah di Bandarlampung, GPIB Marturia sering disambangi oleh beragam tamu untuk menggali sejarah masa lalu sejak pendudukan Belanda hingga Perang Kemerdekaan.

Seperti diungkapkan oleh Pdt Ny Miss Pelletimu (45) di ruang kerja GPIB Marturia belum lama ini. "Ya, banyak tamu yang datang ke sini, ada yang menanyakan sejarah gereja, mengukur dan melihat struktur gereja dari orang cagar budaya, dinas, dan kami juga menjalin kerja sama dengan salah satu sekolah di Bandarlampung untuk setiap tahun melaksanakan kunjungan ke gereja, karena tujuan gereja selain sarana berkat bagi masyarakat juga sebagai sarana edukasi bagi masyarakat Lampung," katanya pula.

Selain itu, menurut salah satu jemaat GPIB Marturia, Samuel (42), masyarakat tertarik untuk mengunjungi salah satu bangunan bergaya Gotic ini karena adanya mozaik antik peninggalan Belanda.

"Tamu banyak yang tertarik karena ada mozaik langka dan unik di tengah ruang kebaktian. Dulu sinar matahari langsung kena mozaik jadi seperti lampu bagi gereja. Tapi karena pembangunan semakin maju, sinar matahari tidak bisa menembus ke dalam gereja lagi karena tertutup bangunan belakang," ujar Samuel pula.

Mozaik yang menceritakan empat Injil Sinopsis dari kitab Wahyu 4:7, diangggap menarik karena hanya ada dua di dunia. Yang pertama ada di dalam ruang Gereja Marturia, dan yang lain berada di Domkerk Utrecht Belanda.

Mozaik ini merupakan hasil karya seniman Robert Deppe atas inspirasi dari Prof R N Roland Hoist.

               Menjaga Situs
Keasrian dan keindahan gereja sayangnya menjadi terhalang oleh jajaran lapak pedagang yang memenuhi jalan di depan gereja, sehingga dirasakan dapat mengurangi animo masyarakat untuk berkunjung.

Hal itu dibenarkan oleh Pdt Ny Miss Pelletimu. "Benar sekali zaman dulunya gereja rapi, tapi entah sejak kapan mereka mulai berdagang di depan gereja. Apalagi semenjak Pasar Smep kebakaran dan gagal dibangun sehingga pedagang yang ada bertambah banyak."

Gereja tidak mungkin juga mengusir karena mereka juga ingin mencari nafkah bagi keluarga. "Ya, menurut saya lebih tepat kalau pemerintah yang berwenang menertibkan mereka, bukan gereja, dan kami hanya bisa mendukung di dalam doa," ujarnya pula.

Kondisi cenderung semrawut lingkungan di sekitar Gereja Marturia ini, membuat situs bangunan tua di Lampung yang seharusnya tetap dilestarikan ini terlihat menjadi kurang elok, karena tertutup kios-kios pedagang dan bertumpuk kendaraan bermotor yang parkir.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan keadaan zaman dulu, dengan bangunan gereja berwarna putih tampak asri dengan rindang pepohonan kenari dan bambu diiringi dentingan lonceng berbunyi yang memberi damai.

Keberadaan bangunan gereja yang berusia mendekati seratus tahun dan memiliki nilai sejarah itu, semestinya dilestarikan dan dijadikan cagar budaya, sehingga bangunan ini mempunyai nilai berarti bagi masyarakat.

Namun, seharusnya pula pemerintah dan masyarakat perlu berperan aktif dalam menjaga dan melestarikan situs bersejarah ini, agar dapat menjadi salah satu objek wisata sejarah sekaligus wisata religi di Kota Bandarlampung seperti halnya Gereja Blenduk Semarang.

Selain sebagai sarana untuk beribadat, keberadaan Gereja Marturia ini dengan legalitas dari pemerintah sebagai situs cagar budaya, diharapkan ada dinas terkait yang ikut mengawasi, memelihara dan memberi dukungan dana yang diperlukan, sehingga bangunan gereja GPIB Marturia dapat terus lestari dan menjadi tujuan wisata edukasi-religi bagi masyarakat yang terintegrasi dengan berbagai bangunan tua bersejarah di Kota Bandarlampung.

Gereja Marturia diharapkan akan terus kokoh berdiri, tak lagi hanya sebagai tempat beribadat bagi umat Kristiani, namun tetap kokoh bertahan menjadi bangunan bersejarah dan saksi bisu keberadaan Kota Bandarlampung ini.
Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar