Harapan Pengungsi Tsunami Selat Sunda

id Pengungsi Tusnami Lampung Selatan, Pengungsi Tsunami, Tsunami Lampung Selatan, Tsunami Selat Sunda

Kondisi perahu nelayan di Desa Way Muli, Lampung Selatan yang rusak akibat tsunami Sabtu (22/12) malam. (FOTO: ANTARA Lampung/Ist-Dwi Agustina Sakti)

Kami bersyukur karena banyak yang peduli. Setiap hari ada bantuan yang datang
Lampung Selatan (Antaranews Lampung) - Sudah lebih dua pekan pascatsunami Selat Sunda melanda kawasan pesisir selatan Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung para pengungsi sebagian masih bertahan belum kembali ke rumah masing-masing.

Sebagian warga terdampak tsunami Selat Sunda di Lampung Selatan, seperti warga Pulau Sebesi dan Pulau Sebuku, di Selat Sunda, pulau berpenghuni terdekat dengan kawasan Gunung Anak Krakatau juga telah kembali untuk menjalani lagi kehidupan mereka berangsur pulih seperti sebelumnya.

Namun, sebagian pengungsi masih bertahan di posko pengungsian yang ada, terutama warga yang rumahnya rusak, bahkan hancur diterjang tsunami, terutama paling parah dialami warga Desa Kunjir maupun Desa Way Muli Timur dan Way Muli Induk, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan.

Korban tsunami ini menunggu kelanjutan rencana pemerintah untuk membantu memperbaiki maupun membangun kembali rumah mereka, termasuk merelokasi hunian warga korban tsunami ini ke tempat yang lebih aman dari potensi ancaman tsunami sewaktu-waktu berpotensi terjadi lagi di pesisir Lampung Selatan bila tak direlokasi ke tempat lain yang lebih tinggi dan aman.

Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) melalui Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Nanang Ermanto telah memperpanjang kembali masa tanggap darurat bencana tsunami di daerah ini seharusnya sudah berakhir 5 Januari 2019, diperpanjang 14 hari, dari 6 Januari hingga 19 Januari 2019 mendatang, antara lain mengingat penanganan pengungsi belum tuntas, serta aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda masih terus aktif.

Pada lokasi pengungsian, aliran sumbangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari para pengungsi, seperti di Pokso Pengungsian Desa Way Muli Timur, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan masih terus berdatangan.

Para pengungsi mengungkapkan rasa terima kasih kepada para penyumbang dan relawan yang telah membantu mereka, sekaligus menyalurkan keperluan sehari-hari selama berada di pengungsian itu.

 
Anak-anak pengungsi korban tsunami Selat Sunda sedang bermain ayunan di Posko pengungsi di Desa Banding Kec Rajabasa, Lampung Selatan, Jumat (4/1/2019) (Foto: ANTARA Lampung/ist/Niluh Savitri Rahajeng)


"Kami bersyukur karena banyak yang peduli. Setiap hari ada bantuan yang datang," ujar Thia, salah satu pengungsi itu pula.

Para pengungsi umumnya merasa bahwa kebutuhan pokok berupa pakaian dan makanan sudah cukup terpenuhi. Kini mereka sedang menunggu bantuan pemerintah untuk kebutuhan tempat tinggal tetap selanjutnya.

"Bantuan pakaian selalu ada. Makanan cukup. Anak-anak juga makan cukup," ujar Evi, pengungsi lainnya di Posko Pengungsian Desa Way Muli Timur itu pula.

Ketika ditanya mengenai bantuan yang diharapkan, umumnya para warga di pengungsian ini beranggapan bahwa kapal atau perahu adalah kebutuhan yang paling penting, mengingat kapal atau perahu yang digunakan untuk bekerja sehari-hari telah rusak akibat tsunami. "Yang paling dibutuhin kapal untuk kerja lagi saat sudah aman nanti," kata Evi pula.

Selain kapal, mereka mengharapkan datang bantuan berupa barang-barang yang dapat digunakan untuk meletakkan baju dan barang lainnya agar tidak berserakan di tempat pengungsian.

"Bantuan baju banyak, tapi tempat untuk menaruh baju-baju itu tidak ada," katanya pula.

Selain tempat meletakkan barang, pengungsi juga beranggapan banyak bahan makanan yang datang tidak sebanding dengan peralatan masak yang tersedia di pengungsian.

"Ada yang pakai dapur umum, tapi banyak juga yang masak sendiri. Yang masak sendiri kekurangan peralatan untuk memasak, kalau bahan masakan Alhamdulillah selalu ada," ungkap Lastri, pengungsi itu pula.

Ribuan pengungsi tsunami di empat desa, yaitu Sukaraja, Way Muli Induk, Way Muli Timur, dan Kunjir, di Kabupaten Lampung Selatan membutuhkan pula sarana mandi, cuci, kakus (MCK), mengingat kondisi mereka mengungsi di daerah pegunungan.

Selain MCK, pengungsi juga membutuhkan obat-obatan, karena mulai ada yang terkena sakit akibat lama tinggal di pengungsian dengan kondisi seadanya.

Selain mengungsi di pegunungan/perbukitan, korban tsunami masih ada yang mengungsi di kantor camat, sekolahan hingga pabrik padi milik warga setempat yang utuh tak tersapu tsunami.

Di Kantor Camat Desa Banding jumlah pengungsi ada sebanyak 1.044 orang, di mushala warga Desa Kunjir, Way Muli Timur ada 700 orang, dan pegunungan di Desa Way Muli Induk ada 600 orang, dan pabrik padi ada 70 orang.

Tsunami yang terjadi di Selat Sunda pada 22 Desember malam itu menimbulkan kerusakan dan korban jiwa di Kabupaten Lampung Selatan, Tanggamus dan Pesawaran di Provinsi Lampung serta Kabupaten Pandeglang dan Serang di Provinsi Banten.

Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 31 Desember bencana itu sudah menyebabkan 437 orang meninggal dunia, 16 orang hilang, 14.059 orang terluka, dan 33.721 orang mengungsi.

              Kumpulkan Puing Rumah
Sejumlah pengungsi warga Desa Way Muli Timur, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan mengaku pada siang hari akan kembali ke rumah mereka untuk mengumpulkan puing-puing rumah yang masih bisa terpakai, seperti batu bata dan harta benda lainnya. "Batu bata yang masih utuh, saya kumpulkan kembali karena masih bisa dipakai ketika ingin bangun rumah baru," kata Suciati, salah satu warga Way Muli Timur itu pula.

Suciati menambahkan, keluarganya sudah mendaftarkan diri dalam pendataan untuk mendapatkan bantuan pendanaan pemerintah agar mendapatkan rumah baru, dikarenakan rumahnya hancur rata dengan tanah setelah dihantam gelombang tsunami.

Tetapi dikarenakan saat ini belum juga mendapatkan bantuan pendanaan yang diperlukan, ia dan keluarga memilih membangun gubuk di atas perbukitan dekat dengan rumah saudaranya.

 
Kapal nelayan yang rusak akibat dihantam tsunami Selat Sunda pada Sabtu (22/12) di Desa Way Muli Timur Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan. (Foto: ANTARA Lampung/ist/Ruth Intan Sozometa Kanafi)


"Saat ini saya menumpang dengan saudara, tetapi nanti, saya, suami, dan cucu mau membangun gubuk kecil saja di gunung, karena kami masih trauma dengan tsunami dan suara gemuruh dari Gunung Anak Krakatau," katanya pula.

Ia menuturkan, pada hari saat kejadian tsunami itu, Sabtu (22/12), baru kembali dari Pulau Jawa. Saat sedang beristirahat bersama keluarga, dirinya mengaku tidak memiliki firasat apa pun hingga bencana itu tiba-tiba datang.

"Nggak ada firasat apa pun sebelum bencana, banyak orang-orang yang sebelumnya di pinggir laut beberapa menit sebelum kejadian dan saat mereka melihat ombak setinggi itu malah diam saja terpana. Tidak memberikan 'woro-woro' (peringatan. Red) untuk menyelamatkan diri," ujarnya lagi.

Suciati menyatakan, tetangga belakang rumahnya meninggal dunia tergulung ombak. Namun, sayangnya saat tetangganya itu menjerit minta tolong, banyak warga lain yang justru sibuk menyelematkan diri sendiri, termasuk dirinya dan keluarga, sehingga tidak sempat menolong tetangganya hingga meninggal dunia.

Seraya menyesalkan kejadian itu, dia lantas berharap bahwa bantuan untuk rumah baru dapat disegerakan oleh pemerintah, dikarenakan dirinya dan keluarga tidak ingin pindah dari Desa Way Muli Timur. "Saya dan suami maunya tetap di sini, dikarenakan kami sudah lama di daerah ini dan sumber mata pencaharian kami juga di sini," katanya pula.

Bencana tsunami melanda pesisir Provinsi Lampung-Banten, lebih dua pekan lalu telah meluluhlantakkan segala yang ada di sekitarnya, dan praktis menghentikan berbagai aktivitas sebagian masyarakat, termasuk di Kabupaten Lampung Selatan.

Bencana itu masih menyisakan kesedihan dan trauma mendalam bagi para korban.

Kondisi di lokasi bencana itu pada sejumlah desa di Lampung Selatan, masih berserakan puing-puing bangunan dan korban yang merasa sedih karena telah kehilangan sanak keluarga, menunjukkan bukti dampak serius dari bencana tsunami yang melanda sebagian wilayah Lampung Selatan ini.

Berbagai pihak yang membantu para korban, dengan bantuan beragam jenis terus mengalir, diharapkan membantu warga terdampak tsunami tidak terpuruk terlalu lama dalam kesedihan. Bantuan moril dan material yang diberikan oleh berbagai kalangan diharapkan dapat meringankan beban warga terdampak tsunami itu.

Dampak positif bagi warga masyarakat korban tsunami adalah dapat bangkit untuk terus melanjutkan kehidupan keseharian mereka, meskipun kebanyakan telah kehilangan sumber mata pencaharian dan juga rumah tempat tinggal yang pernah dimiliki.

Salah satu warga terdampak tsunami yang kehilangan tempat tinggal dan mata pencahariannya adalah Syaipul.

Menurutnya, dia bersama warga lain kini sudah mulai membersihkan puing-puing material rumah yang hancur tersapu tsunami, mengumpulkan barang-barang yang masih dapat dipakai kembali, dan ada yang membangun gubuk di atas bukit sebagai tempat tinggal sementara.

Geliat aktivitas warga terdampak tsunami di Desa Way Muli Timur dan Way Muli Induk serta Banding didorong warga korban tsunami merasa bosan bila harus tinggal di pengungsian tanpa melakukan berbagai aktivitas lain di siang harinya.

Selain itu, alasan lain yang membuat warga mulai memberanikan diri untuk membuka warung atau pun mulai mencari nafkah lagi pascatsunami, karena tepatnya pada Senin, 7 Januari 2019, anak-anak mereka harus mulai bersekolah lagi.

Mereka membutuhkan biaya untuk bisa sekolah lagi, dan mereka harus berusaha lagi untuk memenuhi kebutuhan keluarga masing-masing. "Ya, anak-anak sekolah sudah mulai masuk tanggal tujuh, jadi ada tetangga yang warungnya utuh mulai jualan kecil-kecilan, tapi kalau malam ya balik ke gunung lagi masih takut soalnya," ungkap Parsiah, salah satu warga terdampak tsunami itu lagi.

Hal senada juga dikatakan oleh Een, salah satu warga yang rencananya akan berjualan kembali.

Meskipun begitu ada pula warga terdampak tsunami yang memilih untuk membuka kembali usahanya nanti bila situasi telah lebih baik dan trauma sudah berkurang, karena pada saat ini proses rekonstruksi wilayah yang hancur dan porak poranda masih berlangsung guna memulihkan kembali kehidupan masyarakat setempat.

Rasa empati dan simpati dari berbagai kalangan menjadi salah satu faktor psikologis yang membantu warga terdampak bencana tsunami untuk bangkit dan menapak kehidupan baru.

Meskipun telah lebih dua pekan berlalu pascatsunami Selat Sunda yang melanda kawasan pesisir Lampung Selatan, di Desa Way Muli Timur maupun Way Muli Induk, aktivitas umumnya warga masih belum dapat berjalan normal seperti biasanya.

Desa Way Muli Timur memang merupakan desa yang terkena dampak paling parah atas tsunami yang terjadi, selain Desa Kunjir di Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan.

Masih banyak warga yang memilih mengungsi di kawasan dataran tinggi dekat tempat tinggal mereka, terutama untuk para korban yang rumahnya sudah tersapu habis oleh tsunami.

Sedangkan untuk warga yang rumahnya masih utuh, siang hari mereka akan kembali ke rumahnya masing-masing, dan menjelang maghrib mereka kembali lagi ke tempat pengungsian.

                Masih Trauma
"Sampai sekarang sih, masih ada rasa takut, ya. Kita kan nggak tahu kapan akan ada susulan tsunami, masih was-was lah istilahnya. Ini saja kalau dengar suara-suara gemerisik atau gemuruh bawaannya waspada, takut tsunami lagi," ujar Mastariah (48), salah satu warga Desa Way Muli TImur itu pula.

Meskipun bukan merupakan korban yang rumahnya ikut hancur, Mastariah beserta keluarganya yang lain sampai saat ini masih merasakan trauma akan bencana tsunami yang menimpa mereka, meskipun tidak separah saat awal-awal bencana terjadi.

"Yang buat trauma sekali karena saat kejadian, ibu dan keluarga di rumah ini tidak tahu apa-apa, tau-tau semua tetangga pada ribut sambil lari-lari. Orang-orang mah pada lari ke atas, ya ibu malah turun ke jalan nanya ada apa, nggak ada yang jawab. Baru pas ada yang bilang tsunami, kita pada lari ke atas gunung juga, pas mau lari di depan ini juga banyak yang teriak-teriak tolong, pada ketimpa reruntuhan, anak ibu yang laki yang nolongin orang-orang itu. Sekarang mah denger suara mobil polisi keliling aja takut, suaranya mirip gemuruh gitu, kan. Takut tsunami susulan," ujar Mastariah lagi, seraya mengenang kejadian bencana itu pula.

Sama halnya dengan Mastariah, korban tsunami yang ada di pengungsian juga masih merasakan takut akan tsunami susulan meskipun sudah berada di tempat yang lebih tinggi, tapi bayangan saat tsunami melanda pun masih membuat takut dan sedih, seperti yang dialami oleh Sulis (27), korban tsunami yang rumah dan warungnya rusak parah akibat tsunami itu.

"Masih takut, masih kayak mimpi sampai sekarang, nggak nyangka kalau tsunaminya akan menimpa di desa ini. Terlebih lagi tsunaminya datang saat malam hari, tau-tau saya sadar airnya sudah masuk di rumah saya sampai setinggi lutut. Langsung saya dan suami cepet-cepet keluar sambil gendong anak-anak. Sudah nggak mikirin apa-apa lagi, saya di kejar-kejar ombak. Cuma lari yang ada di pikiran saya. Saya juga sempat jatuh, baju basah semua karena memang airnya sudah naik, sudah nggak pakai sandal, kaki saya injek beling aja saya nggak nyadar, mana ini keadaannya saya lagi hamil, sudah nggak mikirin apa-apa lagi yang penting selamat. Waktu sudah sampai di gunung ini baru saya kesakitan, kaki saya sakit, perut saya sakit, kedinginan bajunya basah, nangis aja saya," ujar Sulis menuturkan kejadian itu, di tenda pengungsiannya.

Hal yang membuat Sulis masih merasakan sedih itu, juga karena semua barang-barangnya habis, terseret ombak, warung dan rumahnya juga hancur. "Kalau saya turun, lihat rumah itu nggak bisa nahan nangis, gimana ya Allah rumah saya, warung saya, semuanya habis. Gimana saya nanti, saya juga nggak tahu, semuanya sudah habis," ujarnya, seraya menahan kesedihan.

"Harapan saya sih, karena katanya, kan mau ada relokasi dari pemerintah, semoga itu cepat terselesaikan. Biar saya juga bisa dapat tempat tinggal yang layak, nggak di pengungsian lagi, biar bisa jualan lagi. Mau dimana juga nggak apa-apa, yang penting nyaman dan aman, sudah itu saja," kata Sulis mengenai harapannya ke depan kepada pemerintah.

Bantuan yang datang di tempat-tempat terkena dampak tsunami Selat Sunda di Lampung Selatan dari hari pertama memang banyak berdatangan, begitu pula di Desa Way Muli (Timur dan Induk), Lampung Selatan.
Seorang warga terdampak tsunami Selat Sunda pada sedang membersihkan puing-buing bangunan yang hancur dihantam tsunami Selat Sunda di Desa Way Muli Timur Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan. (Foto: ANTARA Lampung/ist/Rika alfianti)

Desa Way Muli, salah satu desa yang terkena dampak paling buruk dalam musibah ini, berakibat rumah-rumah warga yang berada di pinggiran pantai habis tersapu oleh tsunami.

Begitu pula dengan perahu-perahu nelayan yang ada di pinggir pantai, rata-rata hancur tak dapat digunakan lagi.

Bantuan yang ada di Desa Way Muli rata-rata adalah bantuan pangan untuk warga, pakaian serta alas untuk tidur pengungsi.

Beberapa warga itu merasakan untuk keperluan makan, mereka sudah cukup terpenuhi meskipun tidak sama seperti saat sebelum terjadi bencana.

"Ya, kalau untuk makan sih kami merasa sudah cukup ya. Dari petugas TNI sendiri, kalau kami butuh makan, katanya datang saja ke sana. Sudah cukup lah, Alhamdulillah," ungkap Evi (24), warga Desa Way Muli itu lagi.

Tetapi karena ini sudah memasuki lebih dua minggu pascatsunami yang menimpa mereka, beberapa posko bantuan akan segera ditutup dan relawannya pergi, sehingga membuat mereka sebenarnya was-was akan hal tersebut. "Sebenernya agak bingung juga ya, karena katanya posko-posko termasuk TNI segera pada pergi. Bingung makannya, untuk beli-beli bahan-bahannya bingung, karena belum bisa kerja, belum ada penghasilan kaminya," ujarnya lagi.

Hal tersebut lantaran suami dan hampir semua warga di Desa Way Muli ini merupakan nelayan, mereka belum dapat melaut karena kapal-kapal yang rusak akibat tsunami.

"Ya, gimana ya, hampir semua di sini nelayan, masih takut melaut, terlebih lagi perahu-perahu ikannya pada rusak semua. Bisa dilihat sendiri perahunya hancur semua di dekat pantai. Mau bekerja cari nafkah ya bingung karena memang biasanya sehari-hari makan dari hasil melaut," ujar Evi pula.    

Saat ditanya apakah sudah ada kabar mengenai bantuan dari pemerintah untuk perahu-perahu nelayan yang rusak, Evi dan ibunya, Mastariah mengatakan sampai sekarang belum ada kabar apa pun mengenai hal tersebut.

"Sampai sekarang, sih, belum ada berita mengenai bantuan perbaikan atau penggantian perahu para nelayan dari pemerintah. Belum ya, mungkin nanti. Harapan kami, ya semoga secepatnya dapat diperbaiki dan diganti, agar para nelayan di sini dapat kembali mencari nafkah untuk kelangsungan hidup keluarga," kata Mastariah pula.
(Tim: Niluh Savitri, Ruth Intan Sozometa Kanafi, Dwi Agustina Sakti, dan Rika Alfianti)
Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar