Kronologis Tsunami Selat Sunda Sabtu Malam

id Kronologis Tsunami Selat Sunda, Tsunami Selat Sunda, Sensor Tsunami

Kronologis kejadian tsunami Selat Sunda, Sabtu (22/12) malam. (FOTO: ANTARA Lampung/Ist-BMKG)

Bandarlampung (Antaranews Lampung) - Bencana tsunami terjadi di Selat Sunda pada Sabtu (22/12) malam lalu, nyaris tak terdeteksi dan tidak ada peringatan dini disampaikan pihak berwenang, sehingga antisipasinya menjadi minimal. Korban jiwa pun berjatuhan hingga mencapai lebih 400 orang di wilayah pesisir Provinsi Lampung maupun Banten.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Rahmat Triyono mengungkap secara detail proses terjadi tsunami Selat Sunda yang melanda pesisir pantai Banten dan Lampung pada Sabtu (22/12) malam itu.

Menurutnya, pada Jumat (21/12), Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah mendeteksi adanya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, dengan tinggi kolom abu teramati kurang lebih 400 meter di atas puncak dan 738 meter di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal condong ke arah utara, dan pada saat itu Gunung Anak Krakatau berada pada status Level II (Waspada).

"Sebelumnya,kami telah memberikan peringatan dini gelombang tinggi yang berlaku tanggal 22 Desember 2018 pukul 07.00 WIB hingga tanggal 25 Desember 2018 pukul 07.00 WIB di wilayah perairan Selat Sunda dengan ketinggian 1,5 hingga 2,5 meter," ujar Rahmat, dalam rilis diterima di Bandarlampung.

Kemudian, pada Sabtu (22/12) pukul 20.56 WIB, terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau yang memicu longsor lereng Gunung Anak Krakatau seluas 64 hektare (ha), dan pada pukul 21.03 WIB tercatat di sensor seismograph BMKG di Cigeulis Pandeglang (CGJ) dan beberapa sensor di wilayah Banten serta Lampung. Namun sistem prosesing otomatis gempa BMKG tidak memproses secara otomatis karena sinyal getaran yang tercatat bukan merupakan sinya gempa bumi tektonik.

"Sistem Peringatan dini tsunami yang dimiliki oleh BMKG saat ini hanya untuk tsunami yang disebabkan gempa bumi tektonik, sedangkan tsunami yang melanda Selat Sunda adalah akibat aktivitas vulkanik, sehingga saat ada aktivitas vulkanik di Gunung Anak Kraktau,sistem peringatan dini tsunami tidak mampu memproses secara otomatis adanya aktivitas vulkanik, sehingga tidak memberikan warning tsunami," ujar Rahmat.

BMKG pun,lanjutnya, tidak melakukan monitoring aktivitas Gunung Anak Krakatau dan gunung api lainnya,monitoring ini dilakukan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementrian ESDM.

Lalu, pada pukul 21.30 WIB, petugas Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG mendapat laporan kepanikan masyarakat di wilayah Banten dan Lampung, karena air laut pasang yang tidak normal. BMKG langsung melakukan checking marigram Tide Gauge Badan Informasi Geospasial (BIG).

Dari hasil checking tersebut, terindikasi tercatat perubahan permukaan air laut di beberapa wilayah seperti di Pantai Jambu, Bulakan, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten tercatat pukul 21.27 WIB ketinggian air mencapai 0,9 meter, di Pelabuhan Ciwandan, Kecamatan Ciwandan, Banten tercatat pukul 21.33 WIB dengan ketinggian 0,35 meter, di Kota Agung, Kecamatan Kota Agung, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung tercatat pukul 21.35 WIB dengan ketinggian 0,36 meter, dan di Pelabuhan Panjang, Kota Bandarlampung tercatat pukul 21.53 WIB dengan ketinggian 0,28 meter.

Melihat dari hasil catatan marigran,tide gauge BIG tersebut, diyakini bahwa ini merupakan gelombang tsunami,

Selanjutnya, pada pukul 22.30 WIB, BMKG segera mengeluarkan press release telah terjadi tsunami melanda Banten dan Lampung tidak dipicu oleh gempa bumi tektonik.

Setelah itu, pada Sabtu (22/12), BMKG menyampaikan telah terjadi tsunami yang melanda Banten dan Lampung dan bukan disebabkan oleh gempa bumi tektonik, dan pada Minggu (23/12) pukul 14.40 WIB, BMKG memastikan bahwa pusat getaran ada di Gunung Anak Krakatau yaitu pada koordinat 115,46 derajat Bujur Timur (BT)- 6.10 derajat Lintang Selatan (LS), kedalaman 1 km. Getaran tersebut setara dengan kekuatan Magnitudo 3,4.
 
Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar