Waykanan punya kopi Putri Malu

id kopi putri malu

Wabup Waykanan Edward Anthony mengenalkan kopi robusta putri malu dalam kunjungannya ke Jambi. (antaralampung/emir fs)

Waykanan, Lampung (Antaranews Lampung) - Pemerintah Kabupaten Waykanan, Provinsi Lampung terus meningkatkan pengembangan dan promosi kopi robusta "putri malu" guna menambah pendapatan bagi warga dan daerah.

Wakil Bupati Waykanan Edward Antony di Waykanan, mengatakan pengembangan kopi robusta putri malu  sangat perlu, karena Waykanan merupakan salah satu daerah penghasil kopi terbesar nomor 5 di Provinsi Lampung.

Menurut dia, kopi robusta putri malu ini harus dapat dikembangkan lebih maksimal, karena harus dapat bersaing dengan kabupaten lain seperti Lampung Barat, Pesisir Barat, dan Tanggamus.

Selain itu, untuk meningkatkan pecinta kopi robusta putri malu harus dilakukan promosi dengan serius. Bahkan bukan hanya kegiatan di daerah, tetapi saat pameran di luar kabupaten harus bisa dioptimalkan.

Mengenai promosi, Edward menjelaskan, promosi dan produksi harus diperkuat dengan ketersediaan produk kopi agar dapat dipenuhi dan tercukupi.

Bila promosi maksimal, lanjut dia, pemesan meningkat harus berbarengan dengan ketersediaan kopi yang juga harus bisa dipenuhi. Karena bila pesanan banyak tetapi produksi kopi sedikit maka akan mengurangi tingkat pesanan.

Mengenai tim percepatan pengembangan Kopi Robusta Putri Malu,  mendapatkaan SK persetujuan dari Bupati untuk setiap bidangnya, agar dapat berkoordinasi dalam tugas dan target agar dapat berjalan dengan baik dan tepat sasaran.

Program unggulan Kopi Robusta Putri Malu merupakan salah satu program yang dicanangkan oleh Bupati Waykanan dan agar segera dapat dilaksanakan baik pengembangan maupun promosinya.

Mengenai banyaknya kendala, tim pengembangan produksi kopi robusta putri malu untuk mengelola hasil produksi agar memiliki cita rasa dan aroma yang khas sehingga bisa meningkatlan penjualan di tingkat pecinta kopi.

Edward meengharapkan, agar instansi terkait dapat memberikan solusi mengenai modal, pengembangan sampai dengan kemitraan.

Kadis perkebunan Waykananan, Bani Aras mengatakan pengembangan kopi robusta putri malu ini sudah seharusnya dibentuk dan dipercepat pemasarannya, agar masyarakat dapat langsung menikmati dan merasakan cita rasa khas dari Kopi robusta putri malu khas waykanan.

Selain itu, lanjut Bani, akan terus dipromosikan pada setiap kegiatan baik di tingkat Kabupaten, Provinsi dan Nasional.

Beberapa waktu lalu,  Dinas Perkebunan Kabupaten Waykanan, memperkenalkan kopi robusta jenis "putri malu" dalam Festival Kopi 2018 di Kabupaten Lampung Barat.

Bani Aras mengatakan, pihaknya ssengaja memamerkan produk kopi robusta `putri malu` yang menjadi `brand` khas Kabupaten Waykanan. Dengan adanya pameran tersebut diharapkan bisa memperkenalkan kopi `putri malu` ke pelosok Provinsi Lampung dan pemerintah pusat.

Menurut dia, festival itu menjadi ajang perkenalan dan sosialisasi kopi "putri malu" ke masyarakat dan Waykanan memiliki kopi dengan ciri khas yang berbeda dari kopi lainnya.

Ia menjelaskan, kopi robusta "putri malu" memiliki ciri khas seperti lebih terasa kopinya dan lebih wangi.

Ia menambahkan, kopi "putri malu" sudah mulai dipamerkan sejak 2017 dan saat ini sudah mulai aktif dipromosikan agar bisa terkenal seperti kopi-kopi lainnya.

Bani mengharapkan, pemerintah provinsi dan pusat juga memperhatikan nasib petani kopi yang masih jauh dari sejahtera.

Terus Promosi

Wakil Bupati Waykanan Edward Antony mengatakan sebagai ketua tim promosi kopi di Kabupaten Waykanan, dirinya harus bisa memperkenalkan kopi putri malu kepada masyarakat.

Selain itu, walaupun banyak jenis kopi yang ada di Kabupaten Waykanan, tetap memakai merek kopi putri malu. Karena sekaligus mempromosikan destinasi wisata Air Terjun Putri Malu di Kecamatan Banjit.

Dia menjelaskan, Waykanan harus fokus untuk memperkenalkan kopi, agar bisa melihat perkembangan kopi ke depannya.

Kabupaten Waykanan saat ini memiliki demplot kopi petik merah yang berada di Kecamatan Baanjit, Kasui, dan Rebang Tangkas, dengan luas lahan 30 hektare.

Kabupaten Waykanan pun kembali memamerkan Kopi Robusta Putri Malu  pada kegiatan Lampung Fair yang akan dilaksanakan pada tanggal 12 Oktober 2018 lalu  di Lapangaan PKOR Wayhalim, Bandarlampung.

Bupati Waykanan Raden Adipati Surya mengatakan, pihaknya memerkan produk kopi robusta Putri Malu di acara tahunan tersebut, karena bukan hanya dari warga Lampung tetapi para pengujung dari luar lampung juga hadir pada kegiatan itu.

Baca juga: Wabup Waykanan Studi Banding Pengembangan Wilayah Agrowisata ke Jambi

Sementara itu, Wakil Bupati Waykanan, Lampung Edward Antony mengenalkan kopi robusta putri malu pada saat kunjungan kerja ke Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, Kamis (13/12/2018).

Dia mengatakan, pihaknya mengenalkan kopi robusta putri malu kepada Pemkab Tanjung Jabung Timur, karena kopi merupakan salah satu produk unggulan yang sedang dipromosikan.

Menurutnya, kopi putri malu memiliki ciri khas dibandingkan dengan kopi lainnya, seperti wangi, rasa, dan kehitamannya.

Selain itu,  lanjut dia, mengenalkan kopi robusta putri malu ini, agar bukan hanya di Provinsi Lampung. Tetapi di Provinsi Jambi khususnya di Kabupaten Tanjung Jabung Timur bisa menikmati dan merasakan kenikmatan kopi asli Waykanan.

Edward mmengatakan,  Waykanan memiliki 30 demplot atau kebun kopi yang terdapat di tiga kecamatan yaitu Kasui, Banjit dan Rebang Tangkas. Dengan luas lahan perkebunan kopi ini cukup dan memadai  untuk bisa menjadi suatu usaha kopi yang besar.

Ia mengharapkan, Pemkab Tanjung Jabung Timur dan Pemerintah Kabupaten Waykanan untuk bisa mempromosikan kopi robusta putri malu di daerah ini.
 
Kini, pihak Pemkab Waykanan telah berupaya mengenalkan kopi robusta yang diberi nama putri malu yang mayoritas kebunnya dimiliki warga. Tinggal warga sendiri apakah akan memanfaatkan peluang tersebut untuk mendapatkan penghasilan yang tinggi, dengan tetap menjaga kualitas dari kopi itu sendiri.

 Baca juga: Dinas terkait diwajibkan promosikan tapis Waykanan
Pewarta :
Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar