Dinas terkait diwajibkan promosikan tapis Waykanan

id tapis waykanan, bupati waykanan

Perempuan Waykanan sedang membuat tapis. (antaralampung/emir fs/ist)

Jadi kita harus buat yang paling diminati oleh masyarakat dan minat pasar. Jangan membuat yang mewah tetapi pemasarannya susah, buat yang mudah tapi cepat pemasarannya
Waykanan, (Antaranews.Lampung) – Bupati Waykanan, Provinsi Lampung Raden Adipati Surya mengimbau agar dinas Koperasi dan UMKM serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk bisa memasarkan hasil kerjaninan tapis milik pengrajin Waykanan.

“Banyak hasil kerajinan kain tapis milik pengrajin susah terjual, dengan adanya imbauan ini maka Dinas Koperasi dan UMKM serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Waykanan untuk bisa mempromosikan hasil karya ibu-ibu Waykanaan ini,” ujar Raden Adipati Surya.

Dengaan promosi yang terus-terus dilakukan, ini dapat membantu penjualan hasil karyanya.

“Jadi promosi sangat membantu dan penting untuk bisa dikenal. Dengan promosi dapat meningkatkan hasil jual dari para pembuat tapis,” katanya.

Adipati menjelaskan, para pengrajin juga harus bisa mengetahui keinginan dari pasar. Seperti selempang tapis yang paling laris di pasaran, karena banyak kegunaannya seperti menyambut tamu, untuk baju dan lainnya.

Bila dibuat seperti songket, sarung atau lainnya. Selain mahal, juga pembuatannya cukup memakan waktu hingga 30 hari.

Sedangkan untuk selendang tapis hanya sekitar 4 – 7 hari dan harganya lebih murah.

Untuk satu harga sarung atau songket dibandrol dari harga Rp2.500.000 sampai Rp5.000.000. Ini membutuhkan waktu yang cukup lama dan pembuatannya juga harus lebih ekstra hati-hati. Sedangkan untuk tapis selendang dibandrol Rp150.000 sampai Rp300.000 per meter tergantung model dan bentuknya.

“Jadi kita harus buat yang paling diminati oleh masyarakat dan minat pasar. Jangan membuat yang mewah tetapi pemasarannya susah, buat yang mudah tapi cepat pemasarannya,” ungkapnya

Baca juga: Lanudad Gatot Subroto diverifikasi menuju bandara komersil

 
Pewarta :
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar