Kenapa memilih relawan kemanusiaan ?

id Palu, tsunami, Bencana. Gempa

Lampung Timur (Antaranews Lampung) - Kenapa memilih relawan kemanusiaan ? Bagi dokter Galih, anggota Tim Relawan Kemanusian Pemkab Lampung Timur,  panggilan jiwa yang menuntunnya menjadi relawan kemanusian ke Sigi Sulawesi Tengah.
 
"Jadi relawan itu merupakan panggilan jiwa, bukan sebuah pekerjaan, " kata dr Galih saat dihubungi di Sigi Sulawesi Tengah.
 
Dokter Galih merupakan dokter umum  yang bertugas  di Puskesmas Way Jepara dan RS AKA Medika Kecamatan Sribhawono Lampung Timur.

Dia adalah salah satu dari lima dokter yang yang ikut bergabung dengan Tim Relawan Kemanusian Pemkab Lampung Timur ke daerah bencana Sulawesi Tengah. Mereka berangkat pada Selasa (9/10) lalu.

Dokter Galih mengutarakan pendapatnya mengenai relawan kemanusian. "Jadi relawan itu pekerjaan yg sangat mulia, namun tidak semua bisa jadi relawan," katanya.

Tantangan menjadi relawan kemanusian adalah harus siap meninggalkan urusan pekerjaan dan keluarga.  Menurut dr Galih,  manakala bencana datang maka relawan harus siap menolong tanpa paksaan atau pun rasa ingin dikagumi.

"Kami pun merasa sama,  ingin sama-sama memanusiakan manusia. Bahkan tantangannya sampai harus siap berkorban segalanya, materi dan nonmateri, bahkan sampai nyawa sekalipun, " katanya.
 
Dokter Galih menyampaikan terimakasih kepada para donatur, Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim dan Gubernur terpilih Lampung Arinal Djunaidi yang mempercayakan tugas kepada tim.

"Kami sangat bersyukur, semoga bisa menjadi manfaat untuk semua korban bencana, " katanya.
 
Ini tugas di Sulteng


Doter Galih berkisah menjadi relawan di wilayah gempa Sigi. Setibanya di sana pada Selasa (9/10) sekitar pukul 09.00 WIT, tim langsung dijemput oleh  Internasional Off Road Federation dan diantar ke Kecamatan Biromaru.

Setiba di Biromaru, dia diberi hasil penilaian atas survei, dan akan dibantu pelayanan medis dan nonmedis.

Di sana dia bertemu dengan dr Novel dan kawan-kawan yang tergabung dalam team med-A (Medical Emergency Disaster-Adventure) dan langsung berkoordinasi.

Selanjutnya dengan tim med-A menuju Desa Baloaseh Kecamatan Baloaseh. Dari Kecamatan Biromaru tempat kamp relawan Lampung Timur tinggal ke Desa Baloaseh butuh waktu sekitar 1,5 - 2 jam karena kondisi jalanya rusak dan tertimbun tanah longsor.

"Tiba di lokasi,  kondisi Puskesmas Baloaseh hancur, tidak layak pakai, " kisahnya.

Dan tim lalu memutuskan mendirikan tenda medis di lingkungan Rumah Dinas Polisi Sektor Baloaseh.

"Alhamdulillah akhirnya kerjasama kami berhasil mendirikan fasilitas kesehatan darurat dengan tenda, " tuturnya.

Kemudian setelah menolong korban di Desa Baloaseh,  ia dan tim relawan Lampung Timur menuju Kaleke dan berkoordinasi dengan tim Atlas Medical Pioneer dari Bandung yang dipimpin dr Bambang SpM (K).
 
Puskesmas Kaleke ini melayani 12 desa dengan jumlah penduduk sekitar 4.000 an jiwa.  Di Kecamatan Kaleke, hampir seluruh desa terkena gempa dan berdampak kerusakan infrastruktur dan beberapa orang terkena penyakit.

Di Puskesmas Kaleke, dr Galih melayani banyak pasien. Pasien pertamanya adalah seorang nenek usia 70 tahun.

"Pasien pertama saya  adalah nenek usia 70 tahun yang mengeluhkan badan sangat lemas, BAB cair lebih dari 6x, dan nyeri ulu hati. Si nenek butuh tindakan segera untuk mengatasi penyakitnya, "  katanya.

Si nenek sangat trauma akan kejadian gempa sehingga minta  dirawat di tenda depan rumah

Alhasil dengan cepat dr Galih dan relawan Lampung menuju rumah nenek dan langsung memberi tindakan infus dan obat-obatan yang dibawa dari Dinas Kesehatan Lampung Timur.

"Saya tetap pantau 3x24 jam,  dengan dibantu staf puskesmas,  dengan cara home visit sehari tiga kali kunjungan,  Sambil memotivasi untuk tidak takut terhadap gempa, mengajak kembali ke rumah dan memotivasi secara religi agar dapat kembali ke rumah dan berobat ke puskesmas bila sakit, " katanya.
 
Hari berikutnya,  dr Galih survei ke seluruh desa di Kaleke dengan mobile klinik yang dibantu oleh anggota relawan Lampung lainya.

"Bisa dibilang tim relawan Lampung Timur paling lengkap. Ada dokter, perawat, bidan, apoteker dan tim psikologi, " ujarnya.
 
Sepulang survei dengan mobile klinik,  dr Galih mendapat pasien anak-anak yang ditabrak oleh kendaraan roda dua. Pasien mengalami luka kulit kaki robek dan harus dijahit sampai otot. Sore harinya, bertemu dengan pasien ibu-ibu hamil umur 29 tahun. Pukul 20.30 ibu hamil ini melahirkan secara normal.

 Dr Galih mengaku terharu menolong korban gempa di Sigi.

"Haru yang dalam,  begitu bersyukurnya dapat kesempatan menolong di saat keadaaan dan kondisi yg sedang pilu," katanya.
Pewarta :
Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar