Benih hibrida tingkatkan produktivitas padi

id panen padi

Ilustrasi - Petani merontokan gabah hasil panen padi di Kawasan Ciomas, Bogor, Jawa Barat, (ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijay)

Produktivitas padi hibrida lebih tinggi sekitar 20 sampai 30 persen ketimbang benih biasa
Jakarta (Antaranews Lampung) - Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo) menyatakan bahwa penggunaan teknologi hibrida akan mampu meningkatkan produktivitas tanaman pangan, khususnya padi, secara nasional.

"Produktivitas padi hibrida lebih tinggi sekitar 20 sampai 30 persen ketimbang benih biasa," ujar Ketua Kompartemen Tanaman Pangan Asbenindo Yuana Leksana di Jakarta, Selasa, (10/7).

Yuana mengatakan, berdasarkan data Kementerian Pertanian dalam tiga tahun terakhir produksi padi terus meningkat, namun dari sisi produktivitas menurun sedangkan produksi jagung naik, dikarenakan luas panen meningkat, sementara tingkat produktivitasnya turun.

Produktivitas padi tahun 2015 sebesar 5,34 ton per hektare, tahun 2016 turun menjadi 5,24 ton per hektar dan tahun 2017 hanya mencapai 5,16 ton per hektare.

Meskipun pemerintah telah mendorong penggunaan benih bermutu dan varietas unggul melalui subsidi benih, lanjutnya, namun dari aspek podukivitas malah menurun.

Dia menyebutkan, varietas padi Ciherang yang dilepas pada tahun 2000, masih mendominasi 30,44 persen luas tanam padi nasional.

Untuk itu, dia mendorong penggunaan benih padi hibrida yang mana teknologi ini sudah diperkenalkan pada 2001 lewat pelepasan varietas dan diseminasi teknologi Kaji Terap, baik oleh Kementan maupun swasta.

"Hibrida sudah terbukti pada jagung karena sekitar 70 persen areal tanam sudah menggunakan hibrida," jelasnya.

Selain itu, ketersediaan fasilitas penelitian dan produksi benih di dalam negeri, serta kemitraan penangkaran yang terjalin baik untuk benih jagung.

"Padi hibrida menjadi pilihan di banyak negara Asia, misalkan China, India, Pakistan, Bangladesh, Filipina dan Vietnam," ujarnya Sebelumnya Senior Expatriate Tech-Cooperation Aspac FAO Ratno Soetjiptadie, Phd mengungkapkan adanya kerusakan tanah terjadi pada area yang luas dan penggunaan pestisida yang tidak bijak mengancam ketahanan pangan nasional.

Dia memperkirakan, sekitar 69 persen tanah indonesia dikategorikan rusak parah lantaran penggunaan pupuk dan pestisida yang berlebihan.

Rendahnya sentuhan teknologi oleh petani, lantaran minimnya ilmu pengetahuan, menurut dia, mengakibatkan petani tidak dapat mengukur Ph tanah atau obat-obatan apa saja yang tidak boleh digunakan, serta tidak bisa memilih benih unggul.

"Untuk itu, perlu ada program perbaikan tanah secepatnya atau Soil Amendment Programme (Program Pembugaran Tanah) dengan memperbaiki sifat biologi tanah," tuturnya.
 
Pewarta :
Editor: Samino Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar