Demo Tuntut Pembatalan Paslon Arinal-Nunik

id Demo Tuntut Pembatalan Arinal-Nunik, Demo Pilgub Lampung, Pilgub Lampung 2018

Demo ribuan orang dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Lampung menuntut pembatalan Arinal Djunaidi-Chusnunia (Arinal-Nunik) sebagai calon gubernur dan wakil gubernur Lampung pada Pilgub 2018, dengan mendatangi kantor Sentra Penegakan Hukum Terpadu (Gakkumdu) Lampung, di Bandarlampung, Senin (9/7). (FOTO: ANTARA Lampung/Ist)

Bandarlampung (Antaranews Lampung) - Ribuan orang dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Lampung melakukan demonstrasi menuntut pembatalan Arinal Djunaidi-Chusnunia (Arinal-Nunik) sebagai calon gubernur dan wakil gubernur Lampung pada Pilgub 2018 ini.

Mereka yang datang dari berbagai kabupaten/kota di Lampung itu mendatangi kantor Sentra Penegakan Hukum Terpadu (Gakkumdu) Lampung, di Bandarlampung, Senin (9/7), menuntut pembatalan Arinal-Chusnunia sebagai cagub-cawagub Lampung karena diduga telah melakukan politik uang dalam Pilgub Lampung 2018.

Ribuan orang yang melakukan longmarch atau berjalan kaki sepanjang sekitar 1 km di jalan pusat Kota Bandarlampung itu, meminta Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) untuk membatalkan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Lampung nomor urut tiga tersebut.

Para orator berbagai elemen masyarakat secara bergantian menyerukan pembatalan pasangan calon gubernur-wagub nomor urut tiga karena diduga terlibat politik uang.

Pada saat yang sama, Bawaslu Lampung melanjutkan sidang pengaduan politik uang yang diajukan pasangan calon gubernur petahana M Ridho Ficardo-Bachtiar Basri dan Herman HN-Sutono.

Massa yang dipandu antara lain oleh Rakhmat Husein DC, dan berbagai elemen masyarakat Lampung itu, sempat diblokir menuju kantor Sentra Gakkumdu Lampung.

Mereka akhirnya berorasi di samping kantor Sentra Gakkumdu Lampung membelakangi aparat kepolisian dan beberapa personel TNI.

Demo ribuan orang ini menimbulkan kemacetan arus lalu lintas pada jalan yang dilalui dan sekitarnya.
Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar