Saksi: Pembukaan jalan merusak TNBBS

id kasus pembalakan hutan,patroli twnc,tnbbs

Lokasi tambak ini tempat gajah, kalau tambak beroperasi cagar alam laut rusak, kami tidak ada kepentingan, kami murni menjaga hutan, katanya.
Bandarlampung (Antaranews Lampung) - Sidang kasus perambahan hutan kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang digelar di Pengadilan Negeri Bandarlampung, Senin (14/5) menghadirkan sejumlah saksi baik dari pelapor maupun terdakwa.

Hakim anggota Akhmad Lakoni dalam sidang tersebut mendengarkan keterangan sejumlah saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum Candra Saptaji. Kasus perambahan hutan tersebut berawal dari adanya pembukaan tambak udang yang ditemukan oleh tim patroli Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC).

Saksi pelapor Icuk S Laksito, Kepala Pengawasan TWNC di persidangan mengatakan, aktifitas pembukaan jalan yang dilakukan oleh terdakwa dipastikan merusak hutan pasalnya telah dilakukan penebangan pohon yang ada di dalam TNBBS.

Menurutnya, untuk pembukaan jalan tersebut harus menunggu persetujuan Kementrian Kehutanan, karena lokasi tersebut berada di wilayaah yang dilindungi oleh negara yaitu TNBBS.

Selain itu, untuk untuk membuat suatu jalan juga membutuhkan waktu dan persetujuan, tanpa adanya persetujuan pihak swasta bahkan pemerintah daerah sekalipun tidak bisa membuat jalan tersebut.

"Panjang jalannya mencapai 11,5 Km dengan lebar jalan 9 meter ini berarti sudah ada pelanggaran," ujar Icuk.

Ia menjelaskan, untuk memasukan alat berat, harus memotong jalur kaloborasi hutan yang dilindungi, dengan adanya pembukaan jalan ini juga dapat membuka peluang para pemburu liar untuk memburu hewan dilindungi yang ada di TNBBS.

Icuk menambahkan, dengan adanya pembukaan tambak udang di lokasi itu secara otomatis akan merusak cagar alam laut laut yang ada di sekitar TNBBS.

Banyak yang dirugikan dengan pembukaan tambak undang di lokasi itu, seperti dapat merusak cagar alam laut dan di lokasi yang menjadi tempat keluar dan masuknya gajah.  "Lokasi tambak ini tempat gajah, kalau tambak beroperasi cagar alam laut rusak, kami tidak ada kepentingan, kami murni menjaga hutan," katanya.

Icuk mengatakan pihaknya memiliki titik koordinat batas, bahkan siap menunjukkan batasan hutan lindung yang dijaga selama ini.

"Jalan yang dibuka menuju tambak sepanjang 11,5 km, dan 6 km di antaranya masuk wilayah kolaborasi hutan lindung yang kami jaga. Didiga mereka membuka jalan tidak ada izin dari TNBBS," tegasnya.
 
Mendengar keterangan saksi tersebut, hakim anggota Akhmad Lakoni menilai tindakan terdakwa membuka jalur jalan meski belum memiliki izin sudah termasuk pembalakan hutan.

Yang Cih Jung selaku Direktur PT Indomarin Aquaculture Farm, yang menjadi terdakwa, mendengar keterangan saksi menyatakan tidak pernah membuka jalur baru, melainkan membuka jalur yang sudah ada.

Sidang akan dilanjutkan pada Kamis (17/5)

Kasus dugaan perambahan hutan ini bermula dari adanya pembukaan tambak yang ditemukan oleh patroli TWNC yang selanjutnya dilaporkan kepada Balai Besar TNBBS yang kemudian dilaporkan ke Polda Lampung.

Hasil temuan di lapangan terdapat aktivitas ilegal di bagian utara kawasan kolaborasi seperti jerat, bekas cacaran, kebun dalam kawasan dan camp pemburu yang masih aktif. Pada kamp yang ditinggalkan oleh pemburu ditemukan alat komunikasi dan barang bukti foto pemburu.

Data patroli terakhir menyebutkan banyak jerat aktif yang ditemukan di wilayah utara TNBBS–TWNC terutama di sekitar desa enclave Way Haru. Sebagian besar jerat yang ditemukan bisa digunakan untuk menangkap satwa langka seperti rusa, harimau, dan   badak.

Penelusuran tim patroli sampai ke desa enclave Way Haru yang berada di kawasan taman nasional. Tim menemukan pembukaan dan pelebaran jalan antara Way Haru–Way Heni. Jalan yang diperuntukkan sebagai jalur patroli diubah menjadi jalan lintas permanen. Jalan ini kemudian digunakan sebagai jalur mobilisasi alat berat kegiatan tambak di Way Haru.
Pewarta :
Editor: Edy Supriyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar