PTPN VII lirik bisnis pariwisata

id PTPN VII, wisata, objek wisata

Keindahan pantai di kawasan Kalianda Lampung Selatan (ANTARA LAMPUNG/Hisar Sitanggang)

Bandarlampung (Antaranews Lampung) - PT Perkebunan Nusantara VII tidak hanya fokus pada perkebunan saja, tetapi juga merambah sektor pariwsata.


"Sektor perkebunan masih tetap yang utama, namun ada potensi lainnya berupa aset yang dapat dijadikan lahan bisnis yang produktif," kata Pelaksana Tugas Dirut PTPN VII Muhammad Hanugroho di Bandarlampung, Jumat.


Ia mengatakan aset yang dijadikan lahan bisnis sektor pariwsata tersebut, yakni di Teluk Nipah, Lampung Selatan dan telah ada investor yang melirik potensi di kawasan tersebut untuk dijadikan tempat wisata.


PTPN VII lanjutnya, telah menjalin nota kesepahaman dengan investor untuk berinvestasi menggarap Teluk Nipah untuk dijadikan kawasan wisata.


Hanugroho menjelaskan pembangunan sektor pariwisata di Provinsi Lampung cukup pesat dibandingkan sektor lainnya. "Kunjungan wisata ke Lampung tiap tahun meningkat. Pada 2017 kunjungan wisatawan ke Lampung hampir mencapai 11 juta orang atau naik cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya," kata dia.


Ia menyatakan keyakinannya potensi lahan tidur PTPN VII di Teluk Nipah yang dikelola menjadi lahan bisnis residensial, hotel atau kawasan wisata lainnya dapat berkembang dengan baik dan bisa menghidupi roda perusahaan yang saat ini mulai bangkit.


"Potensi bisnis tersebut, masih dalam kajian dan dikerja samakan sebagai upaya membangkitkan usaha milik perusahaan. Jika sektor tersebut berjalan, saya yakin dalam waktu 5 hingga 8 tahun PTPN VII akan bangkit," ujarnya.


Hanugroho yang baru menjabat sebagai Plt Dirut PTPN VII selama enam bulan tersebut mengatakan saat ini bisnis perusahaan masih mengandalkan sektor perkebunan. Aset perusahaan perkebunan tersebar pada tiga provinsi di Sumatra tersebut dinilai dapat berkontribusi positif terhadap kinerja perusahaan yang sekarang sedang bangkit.


Kondisi PTPN VII masih dalam level rendah hingga saat ini pada bidang operasional, keuangan, dan human capital. Menurut Hanugroho, permasalahan dalam perusahaan perkebunan BUMN tersebut terungkap sejak tahun 2015 setelah dibentuk holding perusahaan BUMN sektor perkebunan.


Hanugroho menjelaskan utang di PTPN VII mencapai Rp10 triliun, sedangkan total aset yang dimiliki perusahaan tersebut mencapai Rp 12,4 triliun.

Pewarta :
Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar