Balitbangtan: Pupuk biosilika optimalkan produksi padi gogo

id pupuk bisilika, balitbangtan

Produk biosilika Balitbangtan (HO)

Tanaman padi yang diberi silika akan lebih kuat, tidak mudah rebah, serta lebih tahan terhadap serangan hama penyakit dan dampak kekeringan, katanya.
Jakarta (Antaranews Lampung) - Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian mengungkapkan penggunaan pupuk biosilika mampu mengoptimalkan produksi padi gogo.

Dalam keterangan tertulis dari Balitbangtan di Jakarta, Kamis (15/2), disebutkan, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen) telah berhasil memproduksi silika dari abu sekam yang kemudian dipopulerkan dengan nama biosilika.

Peneliti biosilika BB Pascapanen, Hoerudin PhD, menuturkan proses produksinya cukup sederhana dan partikel silika yang dihasilkan berukuran nanometer, sehingga mampu meningkatkan manfaatnya.

Produk biosilika Balitbangtan diprediksi jauh lebih murah harganya dibanding produk silika komersial di pasaran yang sebagian besar merupakan produk impor yang harganya mencapai Rp200.000 - Rp250.000 per liter.

Dari produksi padi nasional sebesar 81 juta ton gabah kering giling tahun 2017, diperoleh sekam sekitar 16 juta ton atau setara 3 juta ton abu sekam.

Sekitar 90 persen kandungan abu sekam adalah silika (SiO2), suatu senyawa yang bernilai ekonomi tinggi dan banyak digunakan di berbagai sektor, termasuk pertanian.

Kepala BB Pascapanen, Risfaheri mengatakan biosilika telah diujicoba pada padi sawah di Jawa Barat, Lampung, Aceh, dan Bali.

"Sejauh ini testimoni petani dan penyuluh serta minat masyarakat terhadap pemberian biosilika pada tanaman padi sawah sangat positif," katanya.

Balitbangtan juga telah mengintegrasikan biosilika pada paket teknologi padi lahan kering Larikan Gogo (Largo) Super di Desa Banjareja, Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah.

Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, M. Ismail Wahab mengatakan biosilika sangat dibutuhkan untuk jenis tanaman Gramineae seperti padi.

"Tanaman padi yang diberi silika akan lebih kuat, tidak mudah rebah, serta lebih tahan terhadap serangan hama penyakit dan dampak kekeringan," katanya.

Ke depan, tambahnya, biosilika menjadi salah satu unsur hara yang sangat perlu diberikan agar potensi produktivitas padi dapat tercapai.

Saat ini Balitbangtan sedang menguji penerapan biosilika pada tanaman padi gogo varietas Inpago 8 di Provinsi Lampung. Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Lampung, Arivin Rivaie berharap inovasi biosilika dapat segera didesiminasikan secara luas kepada petani padi gogo di Provinsi Lampung, mengingat besarnya potensi lahan kering di Lampung sehingga peningkatan produktivitas padi gogo dapat menopang ketahanan pangan wilayah secara lebih nyata.

Pada Maret 2018 Balitbangtan berencana menerapkan biosilika pada padi gogo di Provinsi Bali.

Kepala BPTP Bali I Made Rai Yasa mengatakan, berkembangnya produksi biosilika dalam negeri akan mendorong peningkatan nilai ekonomi sekam padi dan mengoptimalkan produksi padi.

"Dengan sendirinya akan meningkatkan pendapatan petani, sekaligus mengatasi masalah lingkungan akibat pembuangan dan pembakaran sekam secara sembarangan," ujarnya.

 
Pewarta :
Editor: Samino Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar