Ewindo targetkan dua tahun ciptakan 500 petani muda

id ciptakan 500 petani muda, pt ewindo, kukuhkan petani muda panah merah

Direktur Sales dan Marketing PT Ewindo Afrizal Gindow saat mengukuhkan Petani Muda Panah Merah (PMPM) di Desa Sri Katon, Pringsewu, Lampung, Selasa (9/1) (FOTO: ANTARA/Ardiansyah)

Semakin menurunnya minat anak muda di sektor pertanian nasional menjadi dasar bagi kami membentuk wadah bagi mereka yang ingin terjun di dunia pertanian khususnya di sektor hortikultura, kata Afrizal
Pringsewu, Lampung (Antaranews Lampung) - PT East West Seed Indonesia (Ewindo) menargetkan dalam dua tahun ke depan bisa menciptakan 500 petani muda di seluruh Indonesia mengingat jumlah petani yang terus menurun.

"Semakin menurunnya minat anak muda di sektor pertanian nasional menjadi dasar bagi kami membentuk wadah bagi mereka yang ingin terjun di dunia pertanian khususnya di sektor hortikultura," kata Direktur Sales and Marketing PT Ewindo, Afrizal Gindow di Pringsewu, Selasa.

Pernyataan tersebut disampaikannya pada kegiatan peluncuran dan pengukuhan Petani Muda Panah Merah (PMPM) di Pringsewu, Lampung. Ewindo adalah produsen benih sayuran tropis hibrida "Cap Panah Merah".

Ia menjelaskan, sebagai negara agraris, masa depan sektor pertanian Indonesia terancam dengan semakin berkurangnya minat generasi muda untuk terjun di bidang pertanian.

Proses regenerasi petani di Indonesia berjalan lambat dan jumlah petani cenderung terus mengalami penurunan.

Oleh karena itu, pihaknya bertekad menciptakan petani muda melalui pengukuhan PMPM yang diikuti 110 peserta dengan usia di bawah 35 tahun yang mewakili tiap-tiap kabupaten di Provinsi Lampung.

"Dalam dua tahun ke depan, kami menargetkan jumlah peserta petani muda meningkat menjadi 500 orang dari seluruh Indonesia," katanya.

PMPM merupakan wadah bagi para petani muda yang dipersiapkan dan terbentuk sejak Juli 2017 dengan tujuan menciptakan petani-petani muda yang tangguh dan handal dalam dunia pertanian khususnya hortikultura.

Para peserta akan mendapatkan pelatihan dan pendampingan dalam menerapkan inovasi teknologi pertanian, pengendalian hama dan penyakit tanaman sayuran oleh Laboratorium Plan Pathology Ewindo serta peningkatan motivasi oleh Human Resource (HR) perusahaan itu.

Peserta juga diperkenalkan demplot (demo plot) dari benih yang tahan terhadap serangan virus dan berpoduksi tinggi seperti cabai keriting LABA F1 dan LADO F1, labu air RUMA F1, melon gracia, gambas Primavera F1 dan bunga Marigold Maharani.

Peluang usaha budidaya hortikultura di Indonesia masih sangat menjanjikan, namun  tantangan dunia pertanian hortikultura cukup kompleks, sehingga Ewindo melihat petani hortikultura terutama yang usianya masih muda sangat membutuhkan dukungan, baik dari segi mental, pengalaman maupun pengetahuan.

"Diharapkan, para petani muda tersebut dapat menjadi contoh sekaligus mampu mentransfer ilmu kepada pemuda di daerah masing-masing. Apalagi Provinsi Lampung merupakan salah satu sentra penghasil hortikultura yang memasok ke beberapa daerah di Jawa dan Sumatera," ujar Afrizal.

Untuk mendukung program PMPM, Ewindo telah mengembangkan aplikasi pertanian Sipindo. Aplikasi berbasis android ini dapat digunakan oleh para petani khususnya petani muda untuk mengakses informasi seperti tingkat kesuburan tanah, tata cara penanganan hama dan penyakit tanaman, pola dan musim tanam serta prakiraan iklim dan cuaca.

Melalui aplikasi ini petani juga bisa mendapatkan informasi tentang estimasi waktu panen dan perkiraan jumlah produksi, harga komoditas di pasaran secara "real time", hingga forum jual beli hasil panen dari pedagang pasar tradisional hingga retail modern untuk mengantisipasi permainan harga oleh para tengkulak.

"Peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas dan inovasi teknologi di sektor pertanian merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan pertanian berkelanjutan. Oleh karena itu, dengan adanya regenerasi petani, diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani guna mendukung pencapaian program pemerintah dalam hal kedaulatan pangan," katanya.
Pewarta :
Editor: Edy Supriyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar