Selangkah Lagi, Lumba-lumba Asia Punah

id Lumba-lumba, ikan, iklim

Ikan lumba-lumba yang jumlahnya puluhan ekor, muncul di Pantai Ringgung pada Selasa (24/1) pagi. Ikan itu tampak berenang di dekat jaring budi daya laut yang bertebaran di pantai Mutun dan Ringgung. (FOTO : ANTARA LAMPUNG/Hisar Sitanggang)

Tokyo (Antara/Reuters) - Persatuan Internasional untuk Pelestarian Alam pada Selasa mengatakan telah mengubah status lumba-lumba Irrawaddy dan lumba-lumba tanpa sirip, yang keduanya tinggal di perairan Asia, menjadi "terancam" dari "rentan", yang berarti menuju kepunahan.
        
Dalam pembaruan terkini dari Daftar Merah jenis terancam, yang diawasi ketat, kelompok lingkungan tersebut juga memindahkan kedudukan lemur ekor cincin Australia dengan dua tingkat dari "rentan" menjadi "terancam punah".
        
Penilaian ulang kedudukan dua mamalia air tersebut muncul setelah jumlah lumba-lumba Irrawaddy tidak lebih dari separuhnya dalam 60 tahun belakangan dan selama 45 tahun belakangan untuk lumba-lumba tanpa sirip, kata kelompok tersebut.
        
"Jenis itu hidup di perairan dangkal dekat pantai dan keduanya berjumlah terbatas pada sistem air tawar dan itu membuat mereka sangat rentan terhadap kegiatan manusia," kata Craig Hilton-Taylor, kepala regu Daftar Merah kelompok tersebut, kepada wartawan.
        
"Di sungai Mekong, misalnya, sebagian besar kematian lumba-lumba Irrawaddy dalam beberapa tahun terakhir disebabkan oleh belitan jaring penangkap ikan. Jaring ini digantung seperti tirai kematian di seberang sungai," katanya.
        
Untuk lemur ekor cincin, iklim Australia yang semakin kering dan panas telah menyebabkan penurunan populasi lebih dari 80 persen dalam jumlah mereka selama dekade terakhir, kata kelompok tersebut.
        
"Ancaman, yang mendorong untuk punah, berasal dari kita, dari manusia. Itu juga berarti bahwa kita dapat melakukan sesuatu untuk itu," demikian Hilton-Taylor.

Antara/Reuters

    

Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar