AS Berencana Kembali Gunakan Bom Tandan

id Amerika Serikat, bom tandan, cluster bomb

Pesawat B-1 Lancer AU Amerika Serikat sedang menjatuhkan bom tandan/file (en.wikipedia.org)

Washington (Antara/Xinhua-OANA) - Pentagon telah menarik rencana untuk melarang penggunaan bom tandan tertentu yang dipandang banyak kalangan membahayakan warga sipil, kata Juru Bicara Pentagon Tom Crossen di dalam satu pernyataan pada Kamis (30/11).
        
"Departemen Pertahanan telah bertekad bahwa amunisi tandan tetap menjadi kemampuan penting militer dalam lingkungan perang yang lebih keras di depan mata kita, dan masih relatif aman," kata pernyataan tersebut.
        
Sebagai tanggapan, Mary Wareham, dari Koalisi Munisi Bom Tandan --organisasi internasional yang berusaha menghapuskan bom tandan, menyatakan tak ada alasan yang mendesak bagi penggunaan munisi tandan.
        
"Kami mengutuk keputusan ini untuk mengubah komitmen yang telah lama dipegang AS agar tidak menggunakan munisi tandan yang gagal lebih dari satu persen pada saat itu, sehingga mengakibatkan sub-munisi yang tidak meledak dan mematikan," kata wanita pegiat itu, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat malam.
        
Bom tandan berisi bom kecil-kecil yang bertebaran ke tempat luas dan dapat meledak beberapa tahun atau tahun kemudian. Konvensi mengenai Munisi Tandan, satu kesepakatan internasional yang dimulai pada 2018 dan telah ditandatangani oleh lebih dari 100 negara, melarang penggunaan, pemindahan dan penyimpanan senjata itu. Namun, Amerika Serikat bukan penandatangan Konvensi tersebut.
        
Malah, pemerintah Republik saat itu, di bawah presiden George W. Bush, menetapkan kebijakan yang sekarang berusia sembilan tahun bahwa Amerika Serikat, sampai 1 Januari 2019, akan mengakhiri penggunaan bom tandannya yang tidak memenuhi standard kegagalan meledak satu persen, kata laporan harian berita TheHill.
        
AS jarang menggunakan bom tandan, tapi telah menjual amunisi tersebut ke negara lain dan mengatakan amunisi itu bisa bermanfaat dalam perang darat bersekala luas pada masa depan, kata laporan itu.

Antara/Xinhua-OANA
Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar