Presiden Jokowi Dipuji sebagai Duta Kesetaraan Gender

id presiden jokowi dan gender

Presiden Joko Widodo. (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)

...Di Asia Pasifik hanya ada dua pemimpin negara yang ikut mengambil peran dalam kampanye ini yaitu Presiden Jokowi dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, ujar Sabine Machl...
Jakarta (ANTARA LAMPUNG) - Presiden Joko Widodo (Jokowi) dipuji atas perannya sebagai salah satu duta program PBB "He for She" di kawasan Asia Pasifik, untuk mendorong negara-negara di dunia meningkatkan kesetaraan gender.

"Di Asia Pasifik hanya ada dua pemimpin negara yang ikut mengambil peran dalam kampanye ini yaitu Presiden Jokowi dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe," ujar Perwakilan UN Women untuk Indonesia Sabine Machl dalam sebuah diskusi tentang pemberdayaan perempuan yang diselenggarakan Radio Rapublik Indonesia di Jakarta, Rabu.

Kampanye He For She adalah inisiatif global dari UN Women untuk mengajak para pria dan remaja lelaki melenyapkan batas-batas sosial dan kultural yang mencegah wanita dan anak-anak perempuan mencapai potensi diri mereka, serta bersama-sama membentuk ulang persepsi positif terhadap kesetaraan gender dalam masyarakat.

Kampanye ini diluncurkan oleh PBB pada 20 September 2014 dengan aktris Emma Watson sebagai duta kehormatan "He For She".

Menurut Sabine, penting bagi pemimpin sebuah negara untuk menaruh perhatian pada kesetaraan gender, sebuah langkah yang diharapkan akan menginspirasi para pemimpin daerah dan bahkan masyarakat akar rumput untuk mengimplementasikan nilai-nilai kesetaraan gender.

Ia melihat bahwa negara-negara Asia Pasifik sebenarnya telah memiliki banyak undang-undang untuk mendukung kesetaraan gender, namun implementasinya tidak maksimal. Hal ini disebabkan karena sebagian besar orang masih memandang kesetaraan gender sebagai topik elektoral.

"Padahal kesetaraan gender adalah inti dari apapun yang kita lakukan. Sangat penting bahwa perempuan dan laki-laki punya kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi bagi pembangunan," tutur Sabine.

Statistik menunjukkan bahwa kesetaraan gender masih menjadi tantangan serius pada masa depan, di mana secara global hanya terdapat 20-22 persen perempuan yang duduk di parlemen, sedikitnya perempuan yang mengampu jabatan tinggi di perusahaan-perusahaan besar dan berpengaruh, serta hanya terdapat 11 kepala negara perempuan di seluruh dunia.

"Ini semua tidak ada artinya jika melihat perempuan yang jumlahnya mencapai 50 persen populasi global," ujar Sabine yang pernah bertugas di Palestina sebelum dikirim ke Indonesia.

Presiden Jokowi dalam laman profilnya sebagai duta "He for She" menyatakan bahwa perempuan mewakili separuh dari penggerak pembangunan negara.

"Sebagai presiden saya telah mengarusutamakan isu kesetaraan gender karena itu sangat penting untuk mencabut akar penyebab diskriminasi dan kekerasan," tulis Jokowi.

(ANTARA)
 
Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar