Ojek Bandarlampung Laporkan Pelanggaran Kesepakatan Transportasi Daring

id logo pokbal, ojek pangkalan

Logo Pokbal (pokballampung01.blogspot.com)

Bandarlampung (ANTARA Lampung) - Persatuan Ojek Pangkalan Kota Bandarlampung (Pokbal) melaporkan dugaan pelanggaran kesepakatan dilakukan transportasi berbasis dalam jaringan (daring) kepada Pemerintah Kota Bandarlampung.

Pokbal juga melakukan razia transportasi berbasis daring yang diduga melakukan pelanggaran telah disepakati sebelumnya, di Bandarlampung, Senin (11/9).

Sekitar pukul 14.00 WIB, Pokbal melakukan razia, menurut perwakilan Pokbal Albert, pengemudi transportasi berbasis daring terbukti telah melanggar kesepakatan dan pihaknya telah menyerahkan barang hasil sitaan.

"Kami ada buktinya dan telah diserahkan kepada Satpol PP Kota Bandarlampung," kata dia lagi.

Ia mengharapkan Pemerintah Kota Bandarlampung khususnya Wali Kota Bandarlampung Herman HN agar bisa menutup aplikasi transportasi berbasis daring.

Menurutnya, Pokbal telah berulang kali mengingatkan dan telah membuat kesepakatan dengan operator transportasi daring itu, namun pelanggaran terjadi kembali.

"Go-Jek dan Grab sudah berkali-kali melakukan pelanggaran,  padahal mereka berjanji akan mematuhi perjanjian yang telah dibuat bersama," kata dia pula.

Pihaknya meminta kepada Pemkot Bandarlampung untuk tidak memberikan izin kepada transportasi berbasis daring, karena mereka beroperasi secara ilegal.

Dalam perjanjian yang dibuat yakni tidak boleh menaikkan dan menurunkan penumpang dengan jarak 100 meter dari pangkalan ojek.

 Anggota Pokbal lainnya Widodo bahkan mengaku pernah menerima ancaman akan ditusuk oleh pengemudi transportasi berbasis daring.

  "Saya pernah diancam akan ditusuk, perut saya telah ditempel pisau," kata dia lagi.

Akibat kejadian itu, dia telah melaporkannya ke Polresta Bandarlampung untuk dilakukan penyelidikan.

Ia mengharapkan Pemkot Bandarlampung bertindak tegas atas beroperasi transportasi daring tersebut.

Kepala Banpol PP Kota Bandarlampung Cik Radin mengatakan segera menyerahkan barang bukti berupa helm dan jaket kepada Polresta Bandarlampung.

 "Nanti akan kami sampaikan ke pimpinan terkait hal ini, kami juga akan langsung menyerahkan barang bukti ini kepada pihak kepolisian untuk ditindaklanjuti," kata dia lagi.

Namun dia mengimbau kepada Pokbal untuk menahan diri, jangan sampai melakukan tindakan anarkis.

Sekitar pukul 18.30 WIB, sejumlah pengemudi transportasi sepeda motor berbasis daring melakukan aksi berkeliling menuju sejumlah pangkalan ojek konvensional dengan kawalan aparat kepolisian, seperti di Jalan Sultan Haji, Kotasepang, Bandarlampung.

Keberadaan transportasi berbasis daring baik sepeda motor maupun mobil di Bandarlampung, justru disambut gembira warga daerah ini.

Sejumlah warga Bandarlampung mengaku keberadaan transportasi daring mampu menjawab kebutuhan transportasi yang cepat, praktis, aman dan nyaman serta murah. Transportasi daring juga mengikuti perkembangan zaman dengan dukungan teknologi serta mampu memenuhi keinginan masyarakat.

"Mustinya bersaing sehat saja, mana pelayanan yang terbaik, murah, aman, dan praktis itulah yang akan diminati konsumen," ujar Indah, salah satu warga Bandarlampung.

Seorang pengajar salah satu perguruan tinggi negeri di Lampung juga mengaku tak lagi selalu membawa mobil sendiri, karena bisa mengandalkan pesanan mobil lewat aplikasi daring yang lebih praktis dan murah. Apalagi kemacetan telah menjadi masalah transportasi di Bandarlampung, sehingga dengan tak pakai mobil sendiri akan menguranginya.

Beberapa operator transportasi daring mengaku merasa was-was saat beroperasi atas belum tuntas permasalahan dengan ojek maupun taksi konvensional. Apalagi setiap saat bisa saja terjadi razia dengan menyasar transportasi daring itu.

"Pemerintah bersama instansi berwenang harus segera mengaturnya dengan baik, sehingga tidak lagi timbul pertentangan antara kami dengan ojek maupun taksi konvensional maupun pengemudi angkutan kota," ujar salah satu pengemudi ojek online di Bandarlampung itu pula.


(ANTARA)
 
Pewarta :
Editor: Samino Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar