Akademisi Ajak Galakkan Lagi Sikap Toleransi

id dialog publik lamtim, kabupaten lampung timur,

Himpunan Pemuda Jabung (HPJ) Lampung Timur menggelar dialog publik "Pencegahan dan Penanganan Konflik Sosial di Masyarakat" di Desa Adi Luhur Kecamatan Jabung Lampung Timur, Minggu (27/8) (FOTO: ANTARA Lampung/Muklasin)

...Sumber konflik muncul karena nilai luhur manusia seperti rasa hormat, empati, dan kebaikan kepada orang lain mulai berkurang...
Lampung Timur (ANTARA Lampung) - Akademisi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Lampung Nur Hasyim MPd menilai konflik sosial di tengah masyarakat terjadi karena nilai-nilai kebaikan termasuk sikap toleransi yang melekat pada manusia meluntur.

Penilaian itu disampaikam Nur Hasyim pada dialog publik "Pencegahan dan Penanganan Konflik Sosial di Masyarakat" yang digelar Himpunan Pemuda Jabung (HPJ) Lampung Timur di Desa Adi Luhur, Kecamatan Jabung, Lampung Timur, Minggu (27//8).

"Sumber konflik muncul karena nilai luhur manusia seperti rasa hormat, empati, dan kebaikan kepada orang lain mulai berkurang, sehingga rasa saling menghormati, empati, tenggang rasa dan kebaikan kepada sesama ini perlu dipupuk kembali," ujar Nur Hasyim.

Dia juga menyebutkan sumber konflik juga bisa dari faktor kepentingan manusia baik itu kepentingan individu atau pun kelompok.

Karena itu, menurut Nur Hasyim saat ini perlu kembali digalakkan sikap toleransi di tengah masyarakat.

Terkait penanganan jika terjadi konflik sosial, dia berpendapat perlu segera dilakukan langkah perdamaian di antara pihak yang bertikai.

"Pihak yang bertikai harus diberi kesadaran mengalah demi kepentingan yang lebih besar, dan secepatnya segera didamaikan," ujarnya.

Dalam dialog yang diikuti 150-an warga Kecamatan Jabung, selain Nur Hasyim, narasumber yang dihadirkan adalah Sulastri, sekretaris Kesbangpol Pemkab Lampung Timur, Kasat Bimmas Polres Lampung Timur diwakili anggotanya Bripka Suprastio dan Komandan Koramil Jabung Kapten Inf Damiri Bakri.

Sekretaris Kesbangpol Lampung Timur Sulastri mengemukakan sumber konflik bermacam-macam jenisnya namun yang tren saat ini adalah dari media sosial.

Informasi yang tidak benar atau biasa disebut "hoax" di media sosial dapat memicu konflik dalam masyarakat, sehingga menurut Sulastri, masyarakat harus cerdas menggunakan media sosial dan tidak mudah mempercayai kabar yang belum jelas kebenarannya.

Dia pun meminta kepada guru dan orang tua untuk mengajari anak-anaknya cerdas menggunakan media sosial dan melarang anaknya membawa telepon seluler atau gawai ke sekolah karena rentan disalahgunakan.

Sedangkan Kapten Inf Damiri Bakri berharap konflik sosial di tengah masyarakat tidak terjadi. Dia berpendapat sumber konflik muncul karena minim tingkat pendidikan maupun perbedaan strata ekonomi dan sosial.

"Kalau pendidikan kurang, ekonomi kurang, maka di daerah itu bisa mencul konflik di masyarakat, sehingga perlu upaya memperbaiki tingkat pendidikan dan ekonomi masyarakat agar tidak muncul kecemburuan," ujarnya.

Kapten Damiri mengungkapkan upaya TNI menjaga stabilitas keamanan negara, mengingat tugas TNI adalah menjaga stabilitas nagara sesuai diamanatkan dalam UU No. 34 Tahun 2004 tentang TNI. Namun dalam pelaksanaanyna menjaga stabilitas negara perlu dukungan masyarakat.

Dia mengajak masyarakat berperan aktif menjaga lingkungan daerahnya bersama TNI, Polri, dan pemerintah.

Bripka Suprastio mengatakan perlu upaya aktif masyarakat menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Dia pun meminta masyarakat bisa menginformasikan sedini mungkin potensi konflik di daerahnya, sehingga aparat keamanan dapat melakukan langkah pencegahan konflik yang berpotensi terjadi.


(ANTARA)
Pewarta :
Editor: Samino Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar