Minggu, 22 Oktober 2017

Sesat Pikir Pembangunan Kota Metro

id Sesat Pikir Pembangunan Kota Metro, Kota Metro Lampung, Metro Lampung, Oki Hajiansyah Wahab
Sesat Pikir Pembangunan Kota Metro
Oki Hajiansyah Wahab, warga Metro, kandidat doktor. (FOTO: ANTARA Lampung/Ist)
Metro, Lampung (ANTARA Lampung) - Lebih dari 400 tahun lalu seorang filsuf Inggris Francis Bacon mengatakan bahwa pengetahuan adalah kekuatan. Menurutnya pengetahuan adalah kekuasaan dan pendidikan adalah persyaratan dasar bagi pembangunan ekonomi dan politik bagi demokrasi dan keadilan sosial. Gagasan ini sejatinya masih terus relevan hingga saat ini.

Di negara-negara maju atau di daerah-daerah lain yang berkembang maju di Indonesia pengetahuan memegang peranan penting bagi kemajuan sebuah daerah. Peradaban dibangun dan dikembangkan dengan landasan pengetahuan yang kokoh. Hasilnya,inovasi demi inovasi dalam rangka perbaikan layanan publik terus bermunculan.

Artikel ini ditulis dalam semangat memperbaiki cara berpikir pemerintahan Pairin-Djohan di Kota Metro, Lampung, setelah satu setengah tahun masa pemerintahannya.Tentu menjadi tanggung jawab bersama bagi warga untuk tidak hanya melontarkan kritik tapi juga sumbangan pemikiran untuk mendorong akselerasi pembangunan.

Satu setengah tahun adalah waktu yang cukup untuk memberikan penilaian sementara bahwasannya ada hal yang perlu dipenahi dalam cara berpikir pemerintah dalam mewujudkan visi misinya. Tidaklah adil ketika kritik sejak awal disampaikan tanpa memberikan waktu yang cukup kepada pemerintahan baru untuk menata barisannya.

Beberapa hari lalu penulis membaca berita pada sebuah media online tentang bagaimana pembangunan wisata Kota Metro dipengaruhi oleh pengembangan destinasi wisata di daerah lainnya. Andai  berita tersebut benar, maka itu tak ubahnya pepatah buruk rupa cermin dibelah. Kegagalan membangun inovasi wisata keluarga dilimpahkan pada belum baiknya infrastruktur destinasi wisata di daerah lainnya.

Mengapa ini Bisa Terjadi?

Penulis memandang hal ini terjadi karena para ilmuwan jarang dilibatkan dalam proses perencanaan dan pengambilan kebijakan. Padahal di kota berjuluk kota pendidikan ini terdapat belasan kampus yang sesungguhnya menjadi modal yang baik bagi pemerintah untuk memperkuat fondasi pengetahuan dalam kebijakannya. Kota pendidikan yang semestinya bercirikan pada lahirnya gagasan-gagasan baru yang segar kini mulai surut.

Di sisi lain hal yang paling mendasar adalah masih minim partisipasi warga dalam proses pembangunan. Benar ada proses Musrenbang dan sebagainya, tapi sesungguhnya kita bersama memahami bahwa proses tersebut lebih cenderung kepada proses yang seremonial dan lemah pada konteks pembahasan substansi. Pada gilirannya pembangunan dimaknai sebagai pembangunan fisik semata dan melupakan pengembangan dan pemberdayaan sumber daya manusia yang ada.

Belum lagi persoalan penempatan pegawai yang bukan pada bidang keahliannya. Hal tersebut berdampak pada menurunnya kinerja dan kualitas layanan publik. Akibatnya, apa pun yang digulirkan pemerintah lebih sering mendapatkan respons negatif dari warga. Hal tersebut dapat  kita baca dengan jelas di media-media sosial. Ketidakmampuan mengelola isu dan buruknya manajemen komunikasi pada gilirannya berdampak pada surutnya optimisme warga.

Melihat gejala tersebut, saya memprediksi andai dilakukan survei terhadap kepuasan warga terhadap pemerintahan yang ada saat ini, angkanya tidak akan lebih dari 50 persen. Tapi saya kira survei tersebut juga tidak akan pernah dilakukan karena yang paling penting saat ini tampaknya adalah bagaimana pemerintah terus berjalan tanpa perlu mendengar dan belajar tentang konteks masyarakat yang terus berkembang.

Pada konteks inilah sesat pikir pembangunan menemukan muaranya. Pemerintah yang kurang mendengar dan kurang belajar menjadi gagap ketika berhadapan dengan dinamika warganya yang begitu cepat melakukan respons terhadap kebijakan pemerintah. Kritik-kritik yang ada belum dimaknai sebagai vitamin bagi pemerintah untuk memperbaiki kinerja dan performanya.

Keterlibatan kalangan ilmuwan dan warga secara umum menjadi hal yang penting untuk dikembangkan agar kota ini tidak semakin tersesat. Pilihan kini ada di tangan pemerintah dan pemimpin, apakah akan melanjutkan situasi semacam ini atau justru terbangun dari tidurnya dan melakukan perubahan mendasar dari cara berpikir pemerintah.

Saat daerah-daerah lain terus berbenah dan melahirkan berbagai inovasi, apakah kota ini akan terus tertidur dan akhirnya dilindas oleh zaman. Pertanyaan yang sama juga ditujukan kepada warga kota, apakah akan terus melakukan kritik tanpa turun tangan atau ikut turun tangan membenahinya karena bagaimana pun 'your city is your responsibility'.

Akhirnya, artikel ini saya tutup dengan pesan "Kurang Duit Bisa Dicari Kurang Akal Nyusahin Warga."

*) Penulis adalah warga Kota Metro, Lampung.

Editor: Budisantoso Budiman

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0095 seconds memory usage: 0.48 MB