Markas Besar polisi Afghanistan diserang

id Afghanistan, Taliban

File/Aparat keamanan Afghanistan menutup jalan dekat markas terbesar AS di Bagram, 50 km sebelah utara Kabul, setelah terjadi serangan bom. (AFP/yahoo.com)

Gardez, Afghanistan (Antara/Reuters) - Puluhan orang tewas atau terluka ketika lima pelaku bom bunuh diri menyerang markas besar polisi di Afghanistan timur pada Minggu, kata beberapa pejabat setempat.
         
Serangan tersebut, yang diakui pertanggung jawabannya oleh Taliban, dimulai sekitar pukul 6.30 waktu setempat (0900 WIB), ketika seorang pelaku bom meledakkan sebuah mobil dengan bahan peledak di pintu gerbang markas besar polisi di kota Gardez, ibukota provinsi Paktia, kata Najib Danish, juru bicara untuk Kementerian Dalam Negeri.
         
Empat penyerang lainnya menyerbu gerbang setelah ledakan, dengan setidaknya dua pelaku segera dibunuh oleh polisi. Pelaku lainnya mencoba melakukan perlawanan terhadap pasukan khusus Afghanistan yang telah sigap menanggapi serangan tersebut, katanya.
         
Danish menyatakan dua polisi tewas dan lima lainnya cedera.
         
Namun, dokter di rumah sakit kota tersebut mengatakan bahwa mereka telah menerima setidaknya lima jenazah polisi, serta setidaknya 30 orang yang terluka, termasuk 20 warga sipil.
         
Taliban mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut, dengan juru bicara Zabihullah Mujahid melaporkan lebih dari 100 polisi tewas dan terluka. Kelompok Taliban sering membesar-besarkan jumlah korban dalam serangan mereka yang menyasar pemerintah dan pasukan keamanan.
          
Ribuan tentara internasional tetap tinggal di negara ini untuk melatih dan membantu pasukan keamanan Afghanistan serta melaksanakan misi anti teror mereka.
         
Pihak Pertahanan Amerika Serikat mengatakan bahwa dalam beberapa minggu mendatang mereka akan memberikan keputusan terkait pengiriman antara 3.000 sampai 5.000 tentara lagi atas permintaan komandan militer.

Antara/Reuters    
Penerjemah : Aulia/F Assegaf

Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar