Disporapar Metro Ajak UBL Kembangkan Wisata Keluarga

id ubl dan pemkot metro

Dekan FT dan mahasiswa arsitektur UBL, saat audiensi dengan Kadisporapar Kota Metro Rabu (19/4) (FOTO: ANTARA Lampung/ist)

Bandarlampung  (ANTARA Lampung) - Pemerintah Kota Metro melalui Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) bekerjasama dengan Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Bandarlampung (FT UBL) melakukan penelitian dan perancangan destinasi wisata keluarga.

"Kerja sama dengan Pemkot Metro ini sebagai bentuk ejawantah Work-based Contextual Learning dan menjawab permintaan pihak Disporapar Kota Metro," kata Dekan FT UBL Dr Eng Fritz Akhmad Nuzir ST MA, di Bandarlampung, Minggu.

Berkaitan itu, pihaknya telah berkunjung ke Kota Metro bersama para mahasiswa arsitektur yang didominasi delegator program student exchange, University of Kitakyushu Student Exchange and Research Program (UK-SERP), bersama Kepala Disporapar Kota Metro Ir Yeri Ehwan MT.

"Kerja sama ini juga menindaklanjuti proses tugas akhir para mahasiswa Program Studi Arsitektur UBL. Keterlibatan kami sebagai bentuk jawaban dari pertanyaan dan permintaan Kadisporapar dalam salah satu kesempatan," ujar Fritz.

Dekan FT dan sivitas akademika Program Studi Arsitektur UBL bersama Kadisporapar Metro beserta jajarannya juga telah membicarakan beberapa topik berkaitan tentang penataan dan pengembangan potensi-potensi beberapa ruang terbuka di Kota Metro, seperti Taman Merdeka, Lapangan Samber, Bumi Perkemahan, Dam Raman, dan sebagainya, dalam rangka meningkatkan value wisatanya tanpa mengorbankan kaidah alami lingkungannya.

Beberapa permasalahan, seperti transportasi, parkir, dan keberadaan pedagang kaki lima (PKL) juga menjadi tantangan-tantangan khusus dalam desain ruang kota di masa kini dan masa depan Kota Metro, kata Fritz.

Fritz beserta para mahasiswanya mendapat pula masukan berharga terkait perkembangan pembangunan infrastruktur di Kota Metro.

"Semua disampaikan Kadisporapar beserta jajaran, ide yang bagus. Hanya saja, perlu dibuat simulasi desain tampak bangunan dulu, agar tidak malah mengganggu citra jalan protokol dan menutupi view ke arah berbagai sentra bangunan Kota Metro, seperti Tugu Metrem. Elevated structure yang dibahas menjadi prinsip desain utama dalam kawasan agar area pusat kota tetap kompak dan `walkable`," katanya.

Dia berharap sharing ilmu dan permasalahan perkotaan dan lingkungan terkini khususnya di Kota Metro. "Mudah-mudahan ide-ide mereka dapat menjadi bagian dari berbagai solusi permasalahan pariwisata di Kota Metro. Kami dari FT UBL siap menginput hasil sharing berupa hasil desain. Insya Allah memberikan sumbangsih dalam mencari solusi terbaik," katanya pula.

Kadisporapar Metro Yeri Ehwan mengharapkan dari kegiatan bersama Program Studi FT UBL itu terbentuk sinergi antara Pemkot Metro dengan akademisi kampus dalam menciptakan terobosan di kawasan publik Kota Metro.

Ke depan, Yeri Ehwan berharap ada efek pada berbagai kebijakan Pemkot Metro untuk mendongkrak investor masuk ke Bumi Sai Wawai, serta mendukung terwujud visi dan misi Kota Metro sebagai Kota Pendidikan dan Wisata Keluarga di Provinsi Lampung, dengan salah satunya targetnya Lapangan Samber yang direncanakan akan dibangun panggung kesenian berstandar nasional.

"Di Kota Metro potensi wisata alamnya memang terbatas, sehingga kami perlu menciptakan wisata buatan yang bervariasi, dan pembangunan panggung ini juga untuk memecah keramaian di Taman Merdeka, sehingga lokasi wisata di pusat kota tidak terfokus pada satu tempat saja," kata Yeri Ehwan. (Ant)

 
Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar