Minggu, 22 Oktober 2017

WHO : Jangan abaikan gejala awal flu burung

id Flu burung, WHO, unggas, studi
WHO : Jangan abaikan gejala awal flu burung
Penanganan pasien flu burung/file (FOTO ANTARA/Lucky)
Jenewa (Antara/Reuters) - Badan Kesehatan Dunia (WHO), Senin, menyeru semua negara memantau dengan saksama penyebaran virus flu unggas, yang mematikan pada unggas dan hewan ternak, serta segera melaporkan setiap paparan pada manusia, yang menunjukkan tanda awal wabah flu.
        
Beragam jenis virus flu burung menyebar di seluruh Eropa dan Asia sejak akhir tahun lalu, yang menyebabkan pemusnahan besar unggas di negara tertentu dan beberapa kematian manusia di China. Ahli mengkhawatirkan virus itu beralih dan menyebar lebih mudah antarmanusia.
        
Hampir 40 negara melaporkan wabah baru flu burung, yang sangat patogenik pada unggas atau burung liar sejak November, kata WHO.
        
"Wabah itu berkembang pesat secara geografis dan jumlah jenis virus saat ini membuat WHO siaga tinggi," kata Margaret Chan saat mengawali pertemuan dewan eksekutif badan Perserikatan Bangsa-Bangsa itu.
        
Dunia sebaiknya lebih siap untuk pandemi influenza berikutnya
-menyusul pandemi H1N1 yang "ringan" pada 2009-2010- "tetapi tidak semua cukup baik", katanya.
        
Chan mengatakan bahwa berdasarkan perjanjian dengan pembuat obat, sebagai imbalan negara-negara yang berbagi sampel virus akan memperoleh vaksin pandemi, WHO menjanjikan akan mendistribusikan 350 juta dosis Vaksin.
        
"Kami tidak bisa membiarkan begitu banyak negara tanpa alat,"
kata Chan kepada Reuters, "Ingat, dibutuhkan empat sampai enam bulan untuk mendapatkan vaksin."
    
China, yang mengalami "kenaikan paparan pada manusia secara tiba-tiba" sejak penyebaran H7N9 pada Desember dan WHO belum mampu untuk membatasi penyebaran dari manusia ke manusia dalam dua kelompok kasus meskipun tidak ada penyebaran berkelanjutan yang telah terdeteksi sejauh ini, katanya.
        
Berdasarkan atas Peraturan Kesehatan Internasional, 194 negara anggota WHO diwajibkan untuk mendeteksi dan segera melaporkan kasus flu burung pada manusia, kata Chan, dengan menambahkab, "Kami tidak dapat melewatkan sinyal awal."
    
Delegasi China, yang dipimpin oleh Zhang Yang dari Komisi Keluarga Berencana dan Kesehatan Nasional, mengatakan dalam pertemuan itu bahwa China akan melaksanakan kewajibannya dengan berkomunikasi dan menangani setiap wabah.
        
"Statistik keseluruhan saat ini H7N9 tetap sama," kata Zhang, "China dalam hal ini akan terus memperkuat kerja sama dan bertukar informasi dengan WHO."
    
David Nabarro, seorang ahli kesehatan masyarakat internasional dan satu dari enam calon untuk menggantikan Chan sebagai pemangku jabatan tertinggi di WHO, mengatakan bahwa menyikapi ancaman flu burung dengan melompati penghalang untuk menghilangkan ancaman serius bagi manusia adalah "prioritas utama".
        
"Kelompok virus yang gigih ini bergerak di antara burung-burung liar dan unggas. Kita harus selalu memiliki perlindungan yang baik dan kuat dan tidak pernah berpuas diri," kata Nabarro, mantan koordinator PBB untuk influensa unggas dan manusia, kepada Reuters.

Penerjemah : GNC Aryani/B Soekapdjo

ANTARA




Editor: Hisar Sitanggang

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0112 seconds memory usage: 0.48 MB