Minggu, 22 Oktober 2017

Stres pengaruhi otak anak lelaki dan perempuan

id Studi, stroke, otak
Stres pengaruhi otak anak lelaki dan perempuan
Ilustrasi otak manusia (istimewa)
San Francisco (Antara/Xinhua-OANA) - Satu studi baru menyatakan bahwa "satu wilayah otak yang memadukan emosi dan tindakan"  mengalami percepatan pematangan pada anak gadis remaja yang mengalami gangguan stres pasca-trauma (PTSD), tapi tidak pada anak lelaki dengan kondisi tersebut.
      
Di kalangan pemuda yang mengalami gangguan stres pasca-trauma, studi pemeriksaan otak oleh para peneliti Stanford University School of Medicine mendapati perbedaan susunan antar-gender di dalam satu insula, bagian otak yang mendeteksi isyarat dari tubuh dan memproses emosi serta empati.
        
"Insula kelihatannya memainkan peran penting dalam perkembangan PTSD," kata Victor Carrion, Profesor Ilmu Prilaku dan Kejiawaan di Stanford dan penulis senior studi yang diterbitkan daring di Depression and Anxiety. "Perbedaan yang kita saksikan antara orak anak lelaki dan anak perempuan yang telah mengalami trauma psikologis penting sebab itu mungkin membantu menjelaskan perbedaan dalam gejala trauma antar-gender."
   
Di kalangan generasi muda yang terpajan pada stres traumatis, sebagian mengembangkan PTSD sedangkan yang lain tidak. Orang yang menderita PTSD mengalami kilas-balik peristiwa traumatis; mungkin menghindari banyak tempat, orang dan barang yang mengingatkan mereka pada trauma; dan mungkin menderita bermacam masalah lain, termasuk penarikan diri dari lingkungan sosial serta sulit tidur atau memusatkan perhatian.
        
Tim peneliti Stanford tersebut melakukan pemeriksaan otak MRI  atas 59 peserta studi yang berusia sembilan sampai 17 tahun. Sebanyak 30 di antara mereka --14 perempuan dan 16 laki-laki-- mengalami gejala trauma, sementara kelompok pemantau yang terdiri atas 15 anak perempuan dan 14 anak lelaki tidak. Semua peserta memiliki usia dan IQ yang sama, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Ahad pagi. Di antara peserta yang mengalami trauma, lima telah mengalami satu babak trauma, sementara sisa 25 orang per nah mengalami satu atau dua babak atau telah terpajan pada trauma kronis.
        
Para peneliti itu tak melihat perbedaan pada susunan otak antara anak lelaki dan anak perempuan di dalam kelompok pemantau. Namun, di kalangan anak lelaki dan perempuan yang mengalami trauma, mereka melihat perbedaan pada satu bagian insula yang disebut "anterior circular sulcus".
        
Wilayah otak tersebut memiliki daerah permukaan dan volume yang lebih besar pada anak lelaki yang mengalami trauma dibandingkan dengan anak lelaki di kelompok pemantau. Selain tiu, daerah permukaan dan volume wilayah tersebut lebih kecil pada anak perempuan yang mengalami trauma dibandingkan dengan anak perempuan yang berada di kelompok pemantau.
        
Insula biasanya berubah selama masa anak-anak dan remaja, dan volume insula yang lebih kecil secara khas terlihat saat anak-anak dan remaja bertambah usia.
        
Jadi, temuan itu menyiratkan bahwa stres traumatis dapat memberi sumbangan pada percepatan penuaan kortikal insula pada anak perempuan yang terserang PTSD, kata Megan Klabunde, penulis utama studi tersebut dan pengajar ilmu jiwa dan prilaku. "Ada beberapa studi yang menyatakan bahwa tingginya tingkat stres dapat memberi pengaruh dalam pubertas dini pada anak perempuan."
   
"Dengan lebih memahami perbedaan kelamin pada satu wilayah otak yang terlibat dalam pemrosesan emosi," tulis para peneliti tersebut di dalam studi mereka, "para dokter dan ilmuwan mungkin bisa mengembangkan perawatan disregulasi emosi serta trauma khusus gender."

Penerjemah : Chaidar




Editor: Hisar Sitanggang

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Baca Juga

Generated in 0.0095 seconds memory usage: 0.48 MB