Bupati Lampung Tengah Sidak Pabrik Pengolah Singkong

id Bupati Lampung Tengah Sidak Pabrik Singkong, Bupati Mustafa, Lampung Tengah, Harga Singkong, Singkong Lampung

Bupati Lampung Tengah Mustafa (berpeci) saat melakukan sidak ke pabrik singkong, menindaklanjuti anjloknya harga komoditas tersebut. (FOTO: ANTARA Lampung/Ist)

Lampung Tengah (ANTARA Lampung) - Menindaklanjuti penurunan harga singkong yang dikeluhkan para petani singkong di Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung, Bupati Lampung Tengah Mustafa melakukan sidak ke sejumlah pabrik pengolah singkong PT Umas Jaya dan PT Sinar Laut, Kamis.

Bupati Mustafa menegaskan, kunjungannya ini merupakan tindak lanjut dari banyak keluhan petani terkait anjloknya harga singkong.

Kunjungan bertujuan untuk menyalurkan aspirasi petani dan memastikan harga singkong di tingkat pabrik.

"Informasi yang saya dapatkan, kenaikan harga singkong disebabkan adanya singkong impor dari Vietnam yang membanjiri pasar. Harga singkong yang sebelumnya mencapai Rp1.200 hingga Rp1.400 per kg terus melorot hingga Rp600-an per kg. Ini membuat petani menjerit," ujarnya di sela kunjungan itu.

Lampung Tengah, kata dia, merupakan salah satu penghasil singkong terbesar di Lampung, yakni 30 persen. Anjloknya harga komoditas ini dikhawatirkan akan mempengaruhi ekonomi masyarakat di Lampung Tengah.

Mustafa sangat menyayangkan kebijakan pemerintah yang melakukan impor singkong tanpa mengkaji terlebih dahulu dampak di kalangan petani. Dia berharap kebijakan impor harus dievaluasi, dan pemerintah segera menghentikan semua impor yang merugikan rakyat.

Dia berjanji akan menyampaikan langsung permasalahan ini kepada Menteri Perdagangan yang rencananya akan melakukan kunjungan kerja di Lampung Tengah dalam waktu dekat.

"Jika tidak ada kendala, Sabtu (17/9) kami akan menerima kunjungan Menteri Perdagangan. Ini akan saya sampaikan dan berharap pemerintah pusat bisa memberikan solusinya. Pemerintah harus lebih peka, hentikan impor barang yang merugikan petani kita," ujar Mustafa lagi.

Banyak laporan petani singkong terkait tingginya potongan penyusutan barang, Mustafa meminta agar perusahaan bijak menentukan besarnya potongan penyusutan. Dia berharap jangan sampai petani semakin menderita dengan anjloknya harga ditambah potongan penyusutan.

"Sudah saya sampaikan. Perusahaan harus bijak, potongan jangan terlalu besar. Kasihan dengan petani, sudah harga anjlok, harga masih dipotong dengan persentase cukup tinggi. Perusahaan juga harus memikirkan nasib petani," katanya lagi.

Dalam beberapa bulan terakhir harga singkong di Lampung Tengah anjlok, turun drastis dari Rp1.200 hingga Rp1.400 per kg menjadi Rp600 hingga Rp700 per kg.

Kondisi itu membuat petani setempat menjerit. Aswin, salah satu petani di Lampung Tengah mengatakan harga singkong saat ini pada tingkat terendah yaitu Rp550 per kg. Harga ini masih dipangkas lagi 17 persen untuk ongkos cabut dan muat singkong.

"Jadinya bersih uang yang diterima kira-kira Rp300 x 20 ton yaitu Rp6 juta per hektare, padahal biaya yang sudah dikeluarkan Rp7 juta buat perawatannya. Tentunya ini merugikan petani," katanya lagi.

Wahyudi, petani lainnya mengatakan kebijakan impor singkong sudah seharusnya ditinjau kembali oleh pemerintah pusat. Sedangkan penyelenggara pemerintahan di daerah, yaitu bupati dan DPRD, harus memberi kritik konstruktif terhadap kebijakan yang tidak prorakyat.

"Semua kebijakan impor yang dilakukan pemerintah hendaknya bersifat prorakyat. Jangan sampai impor justru menyengsarakan rakyat, pemerintah harus punya hati nurani," katanya lagi.

Sementara itu, Supardi mewakili PT Umas Jaya menjelaskan penurunan harga singkong terjadi secara nasional, menyusul adanya impor singkong dari Vietnam.

Terkait kunjungan Bupati Lampung Tengah Mustafa, pihaknya sangat mengapresiasi dan berharap pemerintah segera menemukan solusi permasalahan ini.

"Anjloknya harga singkong sudah menjadi permasalahan nasional, tak hanya di Lampung tetapi juga di Bangka dan Sulawesi. Impor harus dikendalikan untuk menyelamatkan harga lokal, pak bupati Mustafa diharapkan bisa memediasi permasalahan ini," katanya pula.
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar