Jepang khwatirkan China yang memandang rendah ketentuan internasional

id Laut China Selatan, konflik China dan Jepang

Jepang khwatirkan China yang memandang rendah ketentuan internasional

Untuk meningkatkan kemampuan manuver pertempurannya, militer China melakukan latihan melibatkan pengebom H-6K di lautan terbuka. Pengebom H-6K adalah generasi versi H-6, suatu pesawat pengebom yang dirancang untuk serangan jarak jauh atau patroli uda

Tokyo (Antara/Reuters) - Tinjauan tahunan pertahanan Jepang pada Selasa mengungkapkan kekhawatiran mendalam atas yang mereka nilai sebagai pemaksaan China; terkait Beijing memandang rendah ketentuan internasional saat berhubungan dengan negara lain.
        
Buku Putih Pertahanan Jepang itu dikeluarkan di tengah peningkatan ketegangan di Asia kurang dari satu bulan setelah pengadilan arbitrase di Denhaag menyangkal pengakuan China di Laut China Selatan, yang disengketakan, dalam perkara diajukan Filipina.
        
China menolak menerima keputusan itu. Jepang meminta China mematuhi keputusan itu, yang disebutnya mengikat. Beijing membalas dengan memberikan peringatan kepada Tokyo untuk tidak ikut campur.
        
Dalam tinjauan pertahanan itu, yang disetujui pemerintahan Perdana Menteri Shinzo Abe, Jepang memperingatkan bahwa "dampak tidak diinginkan" dapat menjadi hasil dari penyangkalan keputusan internasional, yang dilakukan Beijing.
        
"China siap memenuhi permintaan sepihaknya tanpa kompromi," kata pemerintah dalam tinjauan itu.
        
China mengklaim sebagian besar dari wilayah Laut China Selatan seluas 3,5 juta kilometer persegi itu, dengan Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam juga memiliki klaim yang bertabrakan.
        
Jepang tidak memiliki dakuan wilayah di kawasan itu, namun mengkhawatirkan sejumlah pangkalan militer China di tempat itu dapat meningkatkan pengaruh Beijing di wilayah yang dilewati oleh kapal perdagangan internasional senilai lima triliun dolar Amerika tiap tahun, yang banyak di antaranya berasal dan mengarah ke sejumlah pelabuhan Jepang.
        
Daripada melawan China secara langsung dengan cara mengarahkan kapal perangnya melewati pulau buatan China di tempat itu, Jepang memberikan perlengkapan dan pelatihan kepada negara Asia Tenggara, termasuk Filipina dan Vietnam, yang paling melawan napsu wilayah China.
        
Lawan paling kuat Beijing di Asia adalah Amerika Serikat, dengan Armada Ketujuh mereka beroperasi dari sejumlah pangkalan di Jepang dan Korea Selatan. Jepang memiliki angkatan laut terbesar kedua di Asia. Peninjauan pertahanan itu menuliskan peningkatan kemampuan China untuk mengancam kapal-kapal angkatan laut dengan peluru kendali anti-kapal mereka.
        
Peninjauan pertahanan itu memiliki tebal 484 halaman, lebih banyak dari yang dikeluarkan pada tahun sebelumnya, dan juga mencantumkan kekhawatiran keamanan lainnya, seperti adanya ancaman dari misil balistik dan program nuklir Korea Utara serta munculnya kembali kekuatan militer Rusia di Timur.
        
Laporan peninjauan itu menghabiskan 50 halaman untuk membahas persekutuan Jepang dengan Amerika Serikat, saat Tokyo mundur dari keputusannya yang dapat memicu konflik dengan cara meringankan operasi luar negeri pasukan pertahanan mereka.

Editor : Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar