Rabu, 18 Oktober 2017

Gempita Pentas Pelangi Budaya Lampung

id Pentas Pelangi Budaya Lampung, Dewan Kesenian Lampung, DKL
Gempita Pentas Pelangi Budaya Lampung
Ketua Dewan Kesenian Lampung (DKL), Aprilani Yustin Ficardo, menyampaikan sambutan Pentas Pelangi Budaya Lampung, di Bandarlampung, Sabtu (19/12) malam. (FOTO: ANTARA Lampung/Ist)
Bandarlampung (ANTARA Lampung) - Pentas Pelangi Seni Budaya Lampung berlangsung semarak dipusatkan di Lapangan Korpri, Telukbetung, Bandarlampung, Sabtu (19/12).

Berbagai tangkai seni dari yang tradisi hingga yang termutakhir, dari sastra lisan hingga video mapping hadir di panggung yang bernuansa Lampung. Ragam warna-warni seni bak pelangi seperti helat akbar seni menjelang pamungkas tahun 2015.

Helat Pelangi Seni Budaya Lampung, di Lapangan Korpri, Telukbetung, Bandar Lampung, Sabtu (19/12) malam, juga didukung dengan sound system dan tata lampu yang spektakuler.

Tari Recaka persembahan dari SMAN Gadingrejo yang rampak, mengawali helat akbar Pelangi Seni Budaya Lampung ini.

Ketua Umum Dewan Kesenian Lampung (DKL), Aprilani Yustin Ficardo mengatakan, upaya perubahan pendekatan berkesenian yang dilakukan DKL mendapat sambutan hangat dari masyarakat.

Lebih lanjut, dikatakannya, puncak acara yang dikemas dalam tajuk Pelangi Seni Budaya Lampung ini menggelar ragam seni budaya Lampung yang warna-warni.

"Lampung kaya ragam seni, dari seni tradisi, kolaborasi hingga yang modern, kami ramu menjadi ragam warna-warni seperti pelangi. Berwarna-warni, berbeda tetapi saling melengkapi dalam harmoni dan indah untuk dinikmati," ujar Yustin.

Ketua Pelaksana kegiatan M Hari Jayaningrat mengatakan, dalam acara Pelangi Seni Budaya Lampung, digelar rangkaian pementasan yang menggambarkan keragaman budaya Lampung yang khas.

Sebelum, gelaran seni itu, Gubernur Lampung M Ridho Ficardo dalam sambutannya, meminta kepada satuan kerja dan stakeholder untuk segera menyelesaikan pembangunan Gedung Kesenian Lampung.

"Gedung Kesenian Lampung yang representatif harus segera dirampungkan, ini agar seniman bisa berkreativitas," ujarnya.

Lebih lanjut, Gubernur juga mengingatkan, untuk mengembangkan seni budaya menjadi andalan untuk pariwisata, bukan hanya alam. "Keragaman seni budaya Lampung ini harus dipromosikan," kata Gubernur Ridho pula.

Usai sambutan, Gubernur Lampung dan Ketua Umum DKL membuka acara dengan menorehkan cat di atas kanvas.

Komite Film DKL membuka pentas pelangi seni budaya Lampung dengan  tayangan video mapping karya Budi S Saputra. Gelegar suara dan tayangan gambar tiga dimensi (3D) membetot perhatian penonton.

Video animasi berdurasi tujuh menit ini mengisahkan liku-liku perjuangan para seniman dalam mengatasi rintangan dan kendala dalam terbentuk kepengurusan Dewan Kesenian Lampung (DKL) yang baru.
 
Budi S Saputra yang juga sebagai animator video ini, sebelum penayangan video mengatakan, lewat media video animasi ini  ingin menuturkan  kisah seputar harapan dan masa depan kehidupan kesenian di Lampung. Video 3D spektakuler ini menjadi pertunjukan yang menggugah dan pas membuka gelaran pelangi budaya Lampung.

Selanjutnya, Komite Sastra DKL menyuguhkan gelaran musikalisasi puisi. Komunitas Bharatayudha dengan personel Aswinsyah, Kasro, Amir, Anidam, Vireo, Wela, dan Yulizar mendedahkan puisi dengan iringan musik. Harmoni kata dan musik dengan ciamik menyumbang warna tersendiri dalam pentas pelangi budaya.

Sedangkan Komite Tradisi mengemas repertoar Hanggum Ku Dilem Ngipey, dengan rajutan sastra lisan dan lagu-lagu klasik Lampung. Seniman mendedahkan ode untuk sang pemimpin.

Seni tradisi merupakan salah satu ragam yang mewarnai keanekaragaman pentas Pelangi Budaya Lampung malam itu.

Teater Hayat dari Universitas Muhammadiyah Lampung (UML) mengusung lakon Ramlan Sang Seniman  membuat makin marak pentas pelangi budaya.

Lakon Ramlan Sang Seniman  yang disutradarai Erika ini mengisahkan kegelisahan Saodah istri Ramlan seorang seniman tentang nasib suaminya yang makin hari makin terpuruk. 

Lakon ini digarap dalam pola garapan teater tradisional warahan dengan kekhasannya Lampungnya yang kental.

Komite Musik menyuguhkan kolaborasi musik yang melibatkan Sutarko, Sas, Banu, Bobby, Sabar, Ijul, Nyoman, Syafril Yamin, Abed,Yua, Midun, Situ Daniel, dan Gilang Ramdhan Studio Band 12. Berbagai aliran musik berjam session dengan ciamik dengan mengusung lagu daerah Lampung "Tepui-Tepui" yang dilantunkan dengan manis Ricky Ramlie dan Taufik. Para musisi mencoba untuk saling merespon dan mewarnai menjadi suguhan yang harmonis.

Berikutnya persembahan Tari Rampak Negeri karya koreografer Barden A Moegni yang mengusung kisah negeri ini, mewarnai pentas Pelangi Seni Budaya Lampung malam itu.

Inilah yang digambarkan  dalam rampak gerak tari, nilai-nilai luhur bangsa kita sudah tercabik-cabik oleh rasa individualisme  dan golongan. Rasa kebersamaan dan gotong-royong---rasa senasib dan sepenanggungan---sebagai anak bangsa telah porak-poranda atas nama kepentingan dan politik.

Pamungkas acara,  Komite Seni Rupa  menampilkan perfoming arts bertajuk Kanvas Dance arahan  koreografer Itoek dari Padepokan Bagong Kussudiardjo.

Kolaborasi  dengan 20 penari pelukis Bambang SBY merespon penari yang mengusung kanvas. Di atas kanvas-kanvas berwarna-warni seperti pelangi itu akhirnya muncul tulisan DKL.

"Sayang performance art ini, karena terbatas waktu berdurasi pendek. Padahal bila dikolaborasikan dengan seni yang lain karena ini langka dan menarik," ujar Marchel, salah satu penonton berkomentar.

Editor: Budisantoso Budiman

COPYRIGHT © ANTARA 2015

Baca Juga

Generated in 0.0081 seconds memory usage: 0.49 MB