Gebrakan Akhir Tahun Dewan Kesenian Lampung

id gebrakan ahir tahun, dewan kesenian lampung, aprilani yustin ficardo, ketua dkl lampung, DKL

Ny Aprilani Yustin Ketua Umum terpilih Dewan Kesenian Lampung (DKL) Periode 2015--2019. (ist)

Sebanyak 250 penari `ngeluruk` ke Tugu Pengantin di depan Balai Kota Bandarlampung, salah satu area publik yang selalu dipadati warga, pada Sabtu (12/12) malam lalu.

Aksi itu mereka lakukan dalam rangka pentas "roadshow" Pelangi Seni Budaya 2015 yang digelar oleh Komite Tari Dewan Kesenian Lampung (DKL).

Kehadiran ratusan penari di ruang terbuka seperti itu adalah wujud reaksi spontan seniman tari agar mereka lebih dekat kepada masyarakat.

Pada lokasi lain, aksi tiga pelukis Lampung, Yen Joenaedhy, Yulius, dan Icon, di halaman parkir Gedung Kesenian Dewan Kesenian Lampung Kompleks PKOR Way Halim, Bandarlampung, Minggu (13/12), memancing perhatian masyarakat yang bergiat olahraga pagi.

Tiga pelukis itu melakukan hal yang dianggap tak lazim oleh orang-orang yang berkerumun menontonnya. Pasalnya, Yen, Yulius, dan Icon melukisi tubuh (`body painting`) tiga orang model, yaitu Arif, Dodi, dan Dodo.

Semua kegiatan itu merupakan rangkaian roadshow dan Pelangi Seni Budaya Lampung diinisiasi oleh DKL akhir tahun 2015 ini, bertujuan untuk menggairahkan kembali kehidupan kesenian di Lampung dengan menggelar serangkaian pentas seni di ruang publik.

Ketua Harian DKL, Drs Heri Suliyanto, mengatakan kegiatan roadshow itu telah diawali menggelar acara Anjau Silau yang diusung Komite Seni Tradisi DKL bersama komunitas Ragom Budaya Lampung (RBL) di Studio 2 RRI Bandarlampung, beberapa waktu lalu.

Heri yang juga Kepala Dinas Pendidikan Lampung itu memaparkan, Anjau Silau merupakan tradisi ulun lappung dalam menjalin silaturahmi dengan datang bertandang untuk saling mengunjungi kerabat atau sahabat.

"Kali ini Anjau Silau kami usung dalam bentuk silaturahmi budaya atau kesenian. Kita bisa berbagi dan saling mengapresiasi kesenian yang ditampilkan. Di tengah medan makna inilah kesenian tradisi diharapkan bisa bertumbuhkembang," ujar Heri lagi.

Dalam kesempatan gelar Anjau Silau yang dihadiri para pengurus DKL, antara lain Bagus S Pribadi, M Hari Jayaningrat, Sutan Purnama dan Syafril Yamin itu, ditampilkan kesenian tradisi Hahiwang, Selendang Miwang, Ngehadoh, Bubandung dan Pisaan.

Kemudian roadshow dilanjutkan Komite Musik dengan Pentas Musik Kreatif di Taman Santap, Jalan Wolter Monginsidi Telukbetung, Sabtu (12/12), Komite Tari menggelar Parade Tari Lampung di Simpang Tiga, Balai Kota Lungsir, Telukbetung, Sabtu (12/12), Komite Seni Rupa menggelar Body Painting di Halaman Parkir Gedung Kesenian DKL, PKOR Way Halim Bandarlampung, Minggu (13/12), Komite Sastra mengadakan Baca Puisi Kreatif di Halaman Parkir Mal Kartini Tanjungkarang, Selasa(14/12).

Lalu, Komite Film menggelar Workshop Film di Ruang Studio Visual Perpustakaan dan Dokumentasi Provinsi Telukbetung, Sabtu (12/12), dan Workshop Teater di IAIN Raden Intan Bandarlampung, Rabu--Kamis (16--17/12) mendatang.

Ketua Umum DKL, Aprilani Yustin mengatakan, program roadshow merupakan upaya mendekatkan kesenian kepada masyarakat, sehingga pentas itu digelar di ruang-ruang publik yang tersebar di Bandarlampung.

"Ini merupakan upaya perubahan pendekatan berkesenian. Untuk itulah roadshow ini mengusung narasi perubahan dengan puncak acara gelaran pentas Pelangi Seni Budaya Budaya," ujar Aprilani yang juga istri Gubernur Lampung M Ridho Ficardo itu.

Menurutnya, kegiatan ini diniatkan untuk menyasar langsung masyarakat dan juga kantong-kantong budaya yang ada termasuk di kampus agar seni tak terkesan ekslusif.

"Langkah ini juga sesuai dengan tujuan dan keberadaan DKL sebagai katalisator dalam upaya melibatkan masyarakat dalam membangun kesenian di Lampung," ujar Aprilani lagi.

Ketua Pelaksana kegiatan pentas Pelangi Seni Budaya Lampung, M Hari Jayaningrat mengatakan, puncak acara akan digelar di Lapangan Korpri Telukbetung, Bandarlampung, Sabtu (19/12) mendatang.

"Pentas ini akan menggelar ragam seni Lampung yang berwarna-warni. Untuk itulah acara ini kami beri tajuk Pelangi Seni Budaya Lampung," kata Hari lagi.

Dalam puncak acara Pelangi Seni Budaya Lampung itu, akan digelar rangkaian pementasan yang menggambarkan keragaman budaya Lampung yang khas.

Acara yang akan dihadiri dan dibuka oleh Gubernur Lampung M Ridho Ficardo ini juga akan disampaikan pidato Anjau Silau (Silaturahmi) Kebudayaan oleh Brigjen Drs Edward Syah Pernong yang juga Kapolda Lampung.

"Gubernur akan membuka acara dengan menorehkan cat di atas kanvas yang kemudian dilanjutkan oleh para pelukis-pelukis Lampung," ujar Hari.

Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi, pentas Hanggamku Dilem Sanak Heny, Sanak Aruk, Musik Kolaborasi, Rampak Negeri, Kanvas Dance, dan video mapping.

"Mudah-mudahan gelaran Pelangi Seni Budaya Lampung ini bisa menjadi penanda bangkitnya kesenian Lampung," katanya lagi.


            Kepemimpinan DKL
Sebelumnya, pada awal tahun 2015 lalu, hiruk pikuk sempat menerpa DKL, saat akan menggelar musyawarah daerah (musda), menyusul kandidat ketua umum yang digadang-gadang memimpin adalah Aprilani Yustin, istri Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo.

Musda DKL yang diikuti seratusan seniman Lampung itu, selain memilih ketua umum, juga menata organisasi ini untuk empat tahun ke depan.

Sejak awal, Aprilani Yustin, hampir dipastikan menjadi calon tunggal Ketua Umum DKL dan yang bersangkutan telah menyatakan siap menggantikan Syafariah Widianti, Ketua Umum DKL sebelumnya.

Kesediaan Aprilani Yustin itu mendapatkan dukungan sejumlah seniman di daerah ini, khususnya pengurus DKL periode terakhir yang akan habis masa pengabdiannya.

Mereka menyatakan, Aprilani Yustin didukung karena DKL masih membutuhkan sosok ketua umum yang dekat atau mempunyai akses kebijakan pada kekuasaan.

Isbedy Stiawan ZS, sastrawan nasional asal Lampung yang berjuluk "Paus Sastra Lampung" menyatakan, Aprilani Yustin adalah "harga mati" untuk membawa DKL lebih baik lagi.

"Tidak ada alasan menolak Ibu Yustin memimpin DKL empat tahun ke depan. Tinggal lagi, kepengurusan di bawahnya yang mesti ditata," ujar Isbedy pula.

Ia menjelaskan, tradisi musda DKL adalah memilih ketua umum, sedangkan kepengurusan di bawahnya dipilih melalui tim formatur yang diketuai ketua umum terpilih.

"Sepanjang sejarah DKL, draf pengurus yang disodorkan tim formatur yaitu pantia SC, panitia OC, dan sedikit peserta, kecil kemungkinan ditolak. Artinya, nama-nama dalam draf tersebut berpeluang menjadi pengurus," ujarnya lagi.

Karena itu, dia berharap, ketua umum terpilih bisa merangkul semua kalangan. "Saya mengharapkan Ibu Yustin bisa terbuka dan merangkul semua pihak yang dapat memajukan DKL," kata dia.

Ditanya apakah siap membantu sekiranya DKL dipimpin Aprilani Yustin, Isbedy mengatakan siap. "Siap. Sepatutnya Ibu Yustin dibantu memajukan kesenian Lampung," ujar Isbedy yang sebelumnya sempat memilih mundur dari kepanitiaan musda DKL karena dinilainya telah berlarut-larut menggelarnya.

Namun Isbedy juga mengingatkan pengurus DKL mendatang agar siap melakukan perubahan.

Menurut Isbedy yang dijuluki kritikus HB Jasin sebagai "Paus Sastra Lampung" ini, ke depan DKL perlu perubahan, sebab kalau tidak, berarti terjadi kemunduran.

Isbedy menyatakan, saat kepemimpinan DKL di tangan Iwan Nurdaya-Djafar dan dilanjutkan Syaiful Irba Tanpaka sebagai Ketua Harian DKL, organisasi seniman Lampung ini sudah maju dan diperhitungkan di tingkat nasional.

"Berbagai program berskala nasional pernah digelar, seperti Lampung Arts Festival atau LAF, Krakatau Award, dan lain-lain. Lalu transparansi anggaran setiap pleno pertama untuk menyusun program dilakukan. Tapi sekarang boleh dibilang tak ada lagi," katanya.

Dia mencontohkan, LAF dan Krakatau Award sudah tidak lagi dilaksanakan. Padahal, dua event ini mempertaruhkan nama DKL di kancah kesenian nasional. "Ini yang perlu dilakukan perubahan," kata Isbedy lagi.

Selain itu, ia berharap kepengurusan DKL mendatang mesti transparan dalam hal keuangan. "Transparansi anggaran amat penting, sehingga pengurus dan seniman di luar DKL bisa tahu berapa nominal yang diterima DKL dari pemerintah dan untuk kegiatan apa saja," ujar Isbedy lagi.

Transparansi ini, kata dia, untuk mengetahui besaran anggaran DKL tiap tahunnya. Jika dianggap kurang, tahun depan bisa diajukan lagi yang lebih besar lagi. "Kalau nominalnya saja tak pernah diberi tahu, kita tak bisa mengukur capaian keberhasilan dari program yang dilakukan," ujarnya.

Karena itu, Isbedy berharap, ke depan pengurus DKL harus berani memaparkan berapa besar anggaran yang diterima dari Pemerintah Provinsi Lampung. Dana yang ada itu baru dibagi untuk komite-komite (teater, sastra, musik, film, tari, tradisi) dan litbang, sekretariatan, insentif pengurus dan karyawan sekeretariat, dan lain-lain.

"Jadi, periode mendatang, siapa pun pengurus DKL harus siap melakukan perubahan, siap transparansi, dan menghidupkan kembali event-event berskala nasional. Terpenting lainnya adalah menggairahkan serta melahirkan bibit-biibit seniman di daerah ini," ujar Isbedy pula.

Dia menegaskan, untuk melakukan perubahan ini adalah tugas ketua harian dibantu sekretaris dan bendahara sebagai jembatan bagi pengurus lain kepada ketua umum yang selama ini adalah tokoh yang sibuk.

"Kita tak bisa meminta banyak pada ketua umum, karena kesibukannya di luar DKL. Ketua umum cenderung adalah tokoh yang dekat dengan kekuasaan atau penguasa," katanya lagi.

Menurut salah satu inisiator DKL ini, sepatutnya organisasi kesenian yang berdiri pada 1993, sudah dewasa, sehingga DKL masih tetap dianggap sebagai katalisator dan fasilitator para seniman.

"DKL merupakan rumah atau payung seniman, dan perpanjangan tangan pemerintah bagi kemajuan kesenian di daerah ini," demikian Isbedy Stiawan ZS.

Seperti diduga sebelumnya, Ny Aprilani Yustin akhirnya ditetapkan sebagai Ketua Umum terpilih Dewan Kesenian Lampung (DKL) Periode 2015--2019.

Dalam Musyawarah DKL VII pada 6 Juli 2015 itu, di Ruang Abung kantor gubernur Lampung di Bandarlampung, Aprilani Yustin terpilih secara aklamasi memimpin DKL.

Ny Aprilani Yustin yang juga istri Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo itu, menggantikan Syafariah Widianti ZP yang telah memimpin DKL selama dua periode berturut-turut (2008--2015).

Syafariah Widianti ZP yang akrab disapa Atu Ayi, kini anggota DPRD Lampung dari Fraksi PDI Perjuangan, mengatakan kehadiran DKL di tengah masyarakat sangat berarti sebagai pilar pertahanan seni budaya dan selama ini terus mendukung pemerintah dalam mengembangkan kebudayaan Lampung.

"Sebagai mitra pemerintah, DKL bertugas melakukan pelestarian budaya secara sinergis dan menuangkannya dalam program Litbang dan komite-komite yang ada, yaitu Komite Tari, musik, seni rupa, teater, film, sastra dan tradisi," kata kakak kandung mantan Gubernur Lampung Sjachroedin ZP ini pula.

Karena itu, dia mengharapkan ke depan di bawah kepemimpinan Ketua yang baru, Aprilani Yustin, DKL dapat semakin maju dalam mengembangkan dan melestarikan budaya Lampung.

Ketua DKL yang baru, Aprilani Yustin dalam sambutannya mengatakan, merupakan pengalaman pertama baginya berada di dalam forum insan seni daerah Lampung.

Meskipun begitu, menurutnya, ini merupakan langkah awal yang kelak diharapkan dapat membawa nama baik Provinsi Lampung di bidang kesenian.

"Majunya pembangunan tidak hanya merupakan tugas dan tanggung jawab pemerintah saja, akan tetapi menjadi tanggung jawab kita bersama, tanpa terkecuali para pelaku seni," ujar dia lagi.

Ketua DKL terpilih yang akan segera melengkapi kepengurusan organisasi katalisator seni dan budaya Lampung ini mengharapkan, melalui forum ini akan melahirkan ide dan gagasan untuk menumbuhkembangkan etos kerja yang harmonis, sinergitas dan koordinasi yang baik antara DKL dengan pemerintah daerah dalam menciptakan karya-karya yang baik di bidang kesenian menuju Provinsi Lampung yang maju dan sejahtera.

Setelah sempat tertunda-tunda dan menimbulkan banyak tanda tanya, bahkan sempat diwarnai pengunduran diri sejumlah panitia pengarah Musda DKL ini, akhirnya dapat menggelar Musda VII dengan lancar.

Menurut Ketua Panitia Pelaksananya, Hari Jayaningrat, Musda DKL itu diikuti 150 peserta dari kalangan seniman berbagai unsur seni, yaitu sastra, musik, tari, teater, seni rupa, film, dan seni tradisional.

Selain memilih ketua umum DKL dan membentuk kepengurusan DKL periode 2015--2019, dalam musda ini akan dibahas organisasi (Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga) DKL, program kerja, dan rekomendasi.

Aprilani Yustin sendiri sudah menyatakan kesediaannya untuk memimpin DKL.

Dia bertekad membawa DKL eksis dan mampu bersinergi dengan komite-komite yang ada di institusi tersebut, baik dalam pembinaan seni rupa, seni musik, maupun tari.

"Aktivitas kesenian Lampung harus konsisten ditampilkan, dikemas dengan baik dan terus dilestarikan," ujar Yustin ini, beberapa waktu lalu.

Yustin juga berencana membawa kesenian Lampung melalui DKL ke panggung internasional.

"Kami memiliki kerajinan lukisan yang digarap dengan serbuk kopi, produk-produk seni tradisi, seperti rudat, sekura, dan sastra tradisi lisan. Sedangkan yang berupa kebendaan adalah tenun tapis, sulam usus, kerajinan buah gernuk yang merupakan ikon yang sangat kental dengan akar kebudayaan Lampung sehingga harus kita perkenalkan ke dunia," kata dia lagi.

             Mitra Pemerintah
Sebelumnya, dalam pertemuan dengan Gubernur Ridho Ficardo, ditegaskan bahwa DKL menjadi mitra penting Pemprov Lampung dalam memajukan dan mengembangkan kesenian, sehingga DKL diminta meningkatkan kinerja dalam mendorong dinamika berkesenian di daerah ini.

Gubernur Ridho Ficardo saat menerima Panitia Musda DKL mengatakan, Lampung sebagai sebuah provinsi kaya potensi, termasuk di bidang seni, bahasa, budaya, dan pariwisata.

"Saya melihat seniman-seniman Lampung selalu punya peluang untuk tampil secara nasional bahkan internasional. Kalau punya Dewan Kesenian yang kuat semua potensi itu bisa berkembang dengan baik," ujarnya lagi.

Industri pariwisata itu, kata Ridho, tidak akan berkembang jika tidak didukung oleh pengembangan kesenian dan kebudayaan.

"Saya berharap DKL nanti bisa mendorong kreativitas para seniman musik, film, teater, sastra, dan lain-lain. Kalau kesenian di Lampung hidup, saya kira yang namanya pariwisata dan ekonomi kreatif akan ikut terdongkrak," kata dia.

Ridho berharap kelak DKL lebih berkontribusi dalam berbagai event seperti Festival Krakatau.

"Akan bagus sekali kalau Festival Krakatau itu menampilkan berbagai pentas dari berbagai cabang seni dan melibatkan lebih luas lagi masyarakat pada umumnya, sehingga Festival Krakatau benar-benar menjadi festival rakyat Lampung dengan segala kemeriahan dan daya tarik tersendiri," kata Gubernur pula.

Gubernur juga mendukung berbagai kegiatan DKL, seperti festival jazz yang sempat sukses diselenggarakan dengan mendatangkan banyak musisi nasional dan internasinal ke Lampung. "Saya setuju dua atau tiga tahun sekali diadakan festival jazz," katanya.

Menurut dia, Festival Krakatau juga bagus, sehingga perlu terus diselenggarakan.

Sejumlah seniman Lampung berharap, posisi ketua umum DKL yang merupakan "orang dekat" dengan Gubernur Lampung itu, benar-benar akan dapat mendukung program dan pembiayaan DKL menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya.

"Sangat tidak mungkin mengembangkan potensi seni dan budaya Lampung hanya dengan dukungan biaya ala kadarnya seperti berlangsung selama ini," ujar salah satu sastrawan Lampung itu pula.

Dia berharap kondisi "kubu-kubuan" di antara kalangan seniman di Lampung dapat dilebur kembali, mengingat semuanya adalah "bersaudara" dan perlu kebersamaan untuk membangun seni dan budaya di daerah ini.

Beberapa seniman Lampung lainnya juga berharap, dengan nakhoda baru DKL ini, dapat benar-benar menopang kemajuan seni dan budaya Lampung sehingga dapat berkiprah di kancah nasional maupun mancanegara.

Mereka menyatakan, potensi seni dan budaya Lampung cukup besar, sehingga bila dapat dikembangkan dengan baik, dengan dukungan pemerintah daerah, kalangan dunia usaha dan masyarakat Lampung, akan tampil di tengah percaturan seni dan budaya nasional maupun mancanegara.

Apalagi selama ini, sejumlah seniman Lampung secara individual juga dikenal dan aktif tampil berkarya secara nasional maupun di mancanegara.

Banyak pihak menyandarkan harapan kemajuan seni dan budaya Lampung melalui Aprilani Yustin yang terpilih memimpin DKL, agar geliat kehidupan seni dan budaya Lampung makin bergairah, bersemangat, dan berprestasi lebih baik lagi.

Gubernur Lampung M Ridho Ficardo akhirnya mengukuhkan pengurus Dewan Kesenian Lampung periode 2015--2019 di Balai Keratun Komplek Perkantoran Gubernur Lampung, Rabu.

Pelantikan berdasarkan Keputusan Gubernur Lampung Nomor G/393/III.01/HK/2015 tanggal 18 Agustus 2015.

Dalam jajaran pengurus Ketua Badan Pembina diisi Gubernur Lampung dengan anggota antara lain Kapolda Lampung Brigjen Edward Syah Pernong, Iwan Nurdaya Jafar dan lainnya.

Pengurus inti DKL 2015--2019, yakni Ketua Umum Yustin Ridho Ficardo, Ketua Harian Heri Suliyanto, Sekretaris Umum Bagus S. Pribadi, dan Bendahara Mungliana.

Kepengurusan ini juga terdiri atas berbagai bidang, yaitu Bidang I Seni Tari dan Sastra, Bidang II Seni Musik dan Tradisi, Bidang III Seni Rupa, Sastra dan Film, serta sejumlah Komite.

Gubernur dalam kesempatan itu mengimbau para pengusaha dan pihak swasta agar peduli terhadap kesenian.

"Tidak hanya melulu kepada seni musik modern yang cenderung menguntungkan, tetapi juga seni-seni lainnya, terutama seni tradisional yang patut dilestarikan," katanya.

Dirinya sangat menghargai bila para pihak swasta atau perusahaan dapat menunjukkan kontribusi nyata membantu para seniman dan dunia seni dalam mengembangkan karya-karyanya.

Ia lebih lanjut mengatakan, Pemprov Lampung akan berupaya merealisasikan harapan para seniman untuk memiliki gedung kesenian. Saat ini pembangunan sedang dalam proses penyempurnaan dan diharapkan selesai pada 2016.

Ridho menegaskan gedung kesenian bukanlah tujuan akhir dari perjalanan berkesenian. Peningkatan kuantitas dan kualitas karya adalah yang paling utama untuk di ke depankan.

Gubernur juga mengajak masyarakat untuk mulai mencintai karya seni daerah. Salah satunya dengan mengoleksi, memajang dan menikmati karya seni hasil ciptaan seniman dari daerah sendiri.

"Dengan demikian bursa karya seni di Lampung akan lebih hidup dan ini secara langsung atau tidak langsung akan turut membantu pengembangan kesenian itu sendiri secara menyeluruh," kata Gubernur.

Ketua Umum DKL Aprilani Yustin mengatakan, DKL telah berhasil menggelar berbagai event baik di tingkat provinsi maupun tingkat nasional. Program bimbingan dan peningkatan pengetahuan, keterampilan, kegiatan seni di kalangan muda, pelajar dan pemula pun rutin dilaksanakan, termasuk menggali dan mendokumentasikan potensi yang ada di Lampung.

Namun, lanjutnya, masih banyak terdapat sederet persoalan dan kendala yang menghambat lajunya perkembangan kesenian di Lampung. Salah satunya adalah usaha membangun gedung kesenian DKL yang belum terselesaikan termasuk peningkatan anggaran untuk pengembangan kesenian di Lampung.

"Ke depan kami berharap kita semua baik pemerintah maupun masyarakat dan pelaku seni agar bersedia meningkatkan perhatian dan kepeduliannya terhadap dunia kesenian di Provinsi Lampung," ujarnya lagi.

Berbagai potensi kebudayaan yang hingga kini belum dikenal oleh masyarakat harus digali, khususnya yang mempunyai nilai jual, demikian permintaan Gubernur Lampung Ridho Ficardo.

"Banyak kebudayan kita yang berasal dari leluhur Lampung, tetapi belum dikenal khalayak atau masyarkat luas," kata Gubernur Ridho pula.

Potensi kesenian serta kebudayaan di provinsi ini, katanya, layak untuk ketahui oleh seluruh masyarakat khususnya yang tinggal di Lampung.

"Saya minta kebudayaan-kebudayaan tersebut dihidupkan kembali, lalu dipilah mana yang mempunya nilai jual untuk promosi daerah kita. Itu harus mulai dipikirkan dari sekarang," kata dia.

Dia yakin dengan adanya pengembangan budaya maka sektor pariwisata di daerah ini dapat ikut berkembang.

"Saat ini kita juga akan mengadakan Festival Krakatau, di sinilah bisa ditampilkan sebagai penunjang promosi daerah dari sisi budaya," ujarnya.

Terkait Gedung Dewan Kesenian, Ridho mengaku beberapa waktu lalu sudah berbicara dengan Biro Aset terkait hal itu. "Mudah-mudahan dalam satu tahun anggaran ke depan sudah selesai," katanya.

Sementara itu, Ketua Umum DKL Aprilani Yustin mengharapkan dengan melihat sejumlah prestasi, diharapkan perkembangan kesenian di Lampung dapat setara dengan kesenian dari provinsi lain.

Namun, anggaran DKL untuk saat ini paling kecil dan minim dibanding dengan provinsi lain di Sumatera, walaupun besarnya anggaran DKL telah semakin baik dibandingkan dengan masa sebelumnya.

"Bukanlah sebuah hal yang mengada-ada bila akhirnya kami berharap saat ini adalah saat yang baik bagi kita semua baik pemerintah maupun masyarakat dan pelaku seni agar bersedia meningkatkan perhatian dan kepeduliannya terhadap dunia kesenian Lampung," kata istri Gubernur Lampung itu pula.

Karena itu, rangkaian roadshow dan Pelangi Seni Budaya Lampung yang diinisiasi oleh DKL sebagai gebrakan akhir tahun 2015 ini, diharapkan benar-benar dapat menggairahkan kembali kehidupan kesenian di Lampung dan menunjukkan komitmen kepemimpinan dan kepengurusan DKL periode 2015--2019 yang lebih baik dari sebelumnya.

DKL ke depan diharapkan benar-benar berkontribusi makin besar dalam membangun iklim berkesenian di Lampung yang semakin bergairah, sehingga dapat menghasilkan prestasi cemerlang untuk mengharumkan nama daerah ini di ajang pentas seni budaya nasional maupun mancanegara.
 
Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar