Pemutaran Film "Sang Kyai" Memukau

id Pemutaran Film Sang Kyai di Waykanan

Waykanan, Lampung (ANTARA Lampung) - Pemutaran Film "Sang Kyai" di Waykanan memukau para penontonnya, terutama ustad dan pemuka agama di daerah ini. 

Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Waykanan Provinsi Lampung menyambut Hari Pahlawan 10 November, serta untuk menjelaskan ke publik rasa memiliki warga Nahdlatul Ulama terhadap Republik Indonesia, Sabtu (8/11) malam, memutar Film "Sang Kyai" yang mengangkat kisah perjuangan ulama karismatik pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur KH Hasyim Asy'ari.

"Kami menggandeng pengurus remaja Islam masjid dari dua kampung di Kecamatan Blambanganumpu, yakni Risma Nurul Falah dari Kampung Umpu Bhakti dan Risma Mifthahul Janah dari Kampung Umpu Kencana," ujar Ketua PC GP ANSOR Waykanan, Gatot Arifianto, di Blambanganumpu, Minggu (9/11).

Film "Sang Kyai" yang berkisah tentang sejarah biografi pendiri NU Hadratus Syaikh KH Hasyim Al Asy'ari.
Film produksi Rapi Film yang disutradarai Rako Prijanto tersebut, hendak mengembalikan posisi NU ke tengah bangsa dengan mengingatkan peran ulama NU dalam Resolusi Jihad pada peristiwa pertempuran 10 November 1945.

"GP ANSOR Waykanan berupaya menyampaikan sejarah kepada masyarakat. Resolusi jihad dan peran utama NU adalah hal yang sangat krusial dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia," kata Gatot pula.

Perihal kesediaan dua pengurus Risma itu untuk bekerjasama memutar Film "Sang Kyai" bersama GP Ansor Waykanan di areal Musala At Taqwa Kampung Umpu Bhakti Kecamatan Blambanganumpu itu, Gatot menegaskan bahwa komunitas tersebut bukan mutlak milik golongan tertentu.

"Perubahan dalam kehidupan merupakan keniscayaan sebagaimana yang terjadi pada Khalifah Umar. Jangan percaya semangka pasti merah sebelum memecahnya, toh ada juga semangka kuning. Bergerak memperluas jaringan Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Aswaja) lebih baik daripada diam dan meyakini begitu saja kabar yang belum tentu benar tanpa tabayun," ujar Gatot lagi.

                         Pukau Ustad 
Pemutaran Film "Sang Kyai" yang mengangkat kisah perjuangan ulama dan umat Islam di Jawa Timur oleh PC GP Ansor Waykanan itu ternyata memukau sejumlah ustad, pemuka agama, dan masyarakat di Kampung Umpu Bhakti dan Umpu Kencana Kecamatan Blambanganumpu.

"Filmnya bagus. Saya dan anak-anak muda jadi mengerti sejarah dan peran ulama, umat Islam, serta pondok pesantren atas kemerdekaan bangsa Indonesia," ujar ustad Tukijo Hadinoto.

Ustad Tukijo yang juga Imam Musala At Taqwa di Kampung Umpu Bhakti itu mengaku, baru pertama kali menonton film yang disutradarai Rako Prijanto dan mengisahkan Resolusi Nahdlatul Ulama atau keputusan dihasilkan dari Rapat Besar Konsul-konsul NU se-Jawa dan Madura di Surabaya pada 22 Oktober 1945.

Keputusan tersebut ditujukan kepada Pemerintah Republik Indonesia dan umat Islam Indonesia untuk berjuang membela tanah air dari pendudukan kembali penjajah Belanda dan Sekutu setelah proklamasi kemerdekaan diserukan.

"Jujur, saya terkesima dengan film itu. Jika GP Ansor mau memutar lagi, saya siap menonton lagi," ujar ustad Tukijo pula.

Kabupaten Waykanan berada sekitar 220 km sebelah utara Kota Bandarlampung atau perlu waktu tempuh sekitar enam jam dari ibu kota Provinsi Lampung di Bandarlampung. Daerah yang berpisah dari kabupaten induknya, Lampung Utara sejak 1999 itu, hingga kini belum memiliki gedung bioskop.

Penasehat PC GP Ansor Waykanan Supri Iswan menambahkan, setelah melihat kisah di film tersebut, sudah selayaknya bangsa Indonesia memberikan penghargaan secara layak kepada para pendiri NU.

"Terima kasih kepada pemerintahan Jokowi-JK yang telah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada KH A Wahab Chasbullah," ujar Ketua PC GP Ansor Waykanan periode 2010--2014 itu pula.

Penetapan KH A Wahab Hasbullah sebagai pahlawan nasional, berarti terdapat tiga pendiri NU telah menjadi pahlawan nasional, ditambah Hadratus Syaih KH Hasyim Asy¿ari dan KH Wahid Hasyim.

"Masyarakat bisa meneladani pendiri NU yang memiliki jiwa nasionalisme dan semangat rela berkorban untuk agama, bangsa dan negara," demikian Supri Iswan.
Editor :
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar