Krisis Tuberkulosis Di Papua Nugini

id Krisis Tuberkulosis Di Papua Nugini, TB, TBC, Kesehatan, penyakit, tetangga, WHO, PBB, PNG, Sydney, Australia, Papua, Perbatasan, Irian Jaya

Krisis Tuberkulosis Di Papua Nugini

Tanda dan gejala penyakit TBC. (www.google.co.id).

Lembaga kesehatan internasional telah meminta Pemerintah PNG mengumumkan darurat kesehatan masyarakat setelah studi tujuh-bulan mengenai angka penularan."
Sydney (Antara/Xinhua-OANA) - Banyak ahli kesehatan mengatakan Papua Nugini menderita akibat wabah tuberkulosis (TB) dan telah mendapati banyak orang di daerah pedesaan meninggal akibat penyakit itu tanpa pernah didiagnosis, demikian laporan media lokal pada Selasa.

Lembaga kesehatan internasional telah meminta Pemerintah PNG mengumumkan darurat kesehatan masyarakat setelah studi tujuh-bulan mengenai angka penularan, kata Australian Broadcasting Commission (ABC).

Studi Lembaga Penelitian Medis PNG menyatakan daerah pedesaan memiliki kasus TB tertinggi di dunia.

Peneliti Dr. Suparat Phuanukoonnon mengatakan TB tak terdeteksi sehingga penderitanya tidak diobati.

"TB telah diabaikan dan sistem kesehatan juga tak berfungsi sangat baik sehingga banyak (pasien) TB secara mendasar ada di sana di satu daerah pedesaan, di desa dan tak pernah didiagnosis, tak pernah diobati, jadi ketika kami benar-benar melakukan studi kami, anda melihat bahwa kita barangkali menghadapi angka TB klas dunia," katanya.

Phuanukoonnon menyeru pemerintah agar merawat pasien TB secara sungguh-sungguh seperti pemerintah melakukannya pada HIV/AIDS, dan mengumumkan keadaan darurat nasional, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa siang.

"Anda lihat betapa baik HIV telah dikendalikan di Papua Nugini ... pada dasarnya kami ingin melihat TB mendapat komitmen politik semacam itu," kata wanita dokter tersebut.

"Saya berharap Pemerintah PNG mengumumkan TB sebagai darurat nasional, jadi pemerintah (asing) dapat benar-benar memberi bantuan," katanya.

Ada 15.000 kasus baru tuberkulosis yang terekam setiap tahun di PNG, dan Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan hampir seperempat kasus itu mematikan.

Phuanukoonnon precaya masalah utama adalah kurangnya pendidikan dan kesadaran, dan mengatakan banyak orang di daerah pedesaan menuding sihir sebagai penyebab penularan penyakit itu.

"Kami mendapati bahwa banyak di antara mereka tidak tahu mengenai apa gejala TB," katanya.

"Mereka sesungguhnya menilai TB adalah masalah serius, bahwa penyakit tersebut bisa membunuh," kata Phuanukoonnon.

"Persepsi ini mengakibatkan stigma bagi banyak pasien TB sebab tanpa pemahaman mengenai cara melindungi diri mereka, rakyat cuma mengira semua yang berdekatan dengan pasien TB menjadi moda penularan," katanya.

Wanita dokter itu mengatakan mereka mendapati rakyat sangat mungkin memperoleh informasi dari pusat kesehatan, keluarga dan teman, dan sangat kecil kemungkinan memperoleh informasi dari organisasi non-pemerintah dan media.

"Kita mesti benar-benar mesti memasukkan (informasi TB) ke dalam kurikulum sekolah," katanya.

Penerjemah: Chaidar.
Editor : M. Tohamaksun
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar