Jakarta (ANTARA) -
Tim gulat Indonesia menorehkan prestasi maksimal pada SEA Games 2023, dengan memenangi enam medali emas, enam medali perak, dan dua medali perunggu.
 
Catatan itu merupakan kenaikan pesat dibanding SEA Games 2021, ketika Indonesia hanya mendapatkan dua medali perak dan satu medali perunggu.
 
"Untuk SEA Games Kamboja, kita dikasih waktu sampai dengan tiga bulan, kemudian kita adakan latihan di Indonesia satu bulan, kemudian training camp di Korea, kemudian sisanya di Indonesia dan semua atlet yang dikirim 14 pegulat itu dalam kurun waktu tiga bulan siap untuk menghadapi SEA Games Kamboja. Saya rasa faktornya adalah kesiapan, persiapan kita tiga bulan," kata Pelatih kepala tim gulat Indonesia Maurice Sihombing setelah mengikuti upacara penyambutan atlet SEA Games di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Rabu malam.
 
Setelah mencatatkan prestasi cukup baik pada SEA Games 2023, tim gulat Indonesia diharapkan bisa berbicara lebih banyak di ajang yang lebih tinggi, yakni Asian Games. Untuk itu, tim pelatih akan terus memonitor para atlet dan kembali melakukan pemusatan latihan setelah beristirahat selama sepekan.
 
"Ya sesuai dengan informasi dari Kemenpora, bahwa mereka-mereka yang mendapat medali emas itu otomatis kita persiapkan untuk Asian Games. Kemudian yang kedua, ada level dua, yaitu mereka yang mendapat medali perak tetapi umurnya masih muda, sekitar 20 tahun, 19 itu adalah cikal bakal potensi SEA Games dan Asian Games ke depan, dan perlu persiapan yang sangat matang," ujar Maurice.
 
Melihat peta kekuatan para pegulat di Asia, Maurice kemudian menyatakan bahwa pihaknya mengincar nomor-nomor kelas ringan. Sebab untuk kelas berat, dominasinya masih dipegang oleh pegulat-pegulat negara pecahan Uni Soviet.
 
"Kita juga akan mengupayakan TC pertama di Indonesia, kemudian kita akan mencari negara-negara yang tentunya bukan negara Asia dan tipikal bodynya itu sama dengan tipikal bodi Indonesia. Karena untuk kelas-kelas besar, biasanya Asian Games itu diambil oleh Iran, negara-negara pecahan Rusia, Kazakhstan, Uzbek, dan Kyrgistan. Tapi kelas-kelas kecil itu relatif diambil negara-negara Asia Tenggara dan Jepang," pungkas Maurice.
 

Pewarta : A Rauf Andar Adipati
Editor : Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2024