Inggris desak semua warganya tinggalkan Myanmar
Jumat, 12 Maret 2021 21:17 WIB
Sejumlah orang menghadiri proses pemakaman Kyal Sin (19) alias Angel, seorang pengunjuk rasa yang tewas tertembak oleh pihak militer saat berunjuk rasa menentang kudeta militer di Mandalay, Myanmar, Kamis (4/3/2021). (ANTARA FOTO/REUTERS/Stringer/wsj)
London (ANTARA) - Inggris, Jumat, mendesak para warganya untuk meninggalkan Myanmar atau kalau mereka tidak bisa keluar dari negara itu, tetap tinggal di rumah.
Desakan itu dikeluarkan setelah sehari sebelumnya, Kamis (11/3), sebuah kelompok pembela hak asasi mengatakan pasukan keamanan menewaskan 12 pengunjuk rasa.
Permintaan bagi warga Inggris agar keluar dari Myanmar juga muncul ketika pengacara Suu Kyi mencemooh tuduhan baru terkait suap, yang dilayangkan terhadap kliennya itu.
Baca juga: Perusahaan Jepang diawasi terkait dengan bisnis militer Myanmar
Baca juga: ASEAN gelar pertemuan khusus bahas krisis Myanmar
Pemerintah Inggris mengatakan bahwa kekerasan di Myanmar meningkat setelah militer menggulingkan pemerintah Aung San Suu Kyi melalui kudeta pada 1 Februari.
"Kantor Luar Negeri, Persemakmuran & Pembangunan (FCDO) menyarankan para Warga Negara Inggris untuk meninggalkan negara itu dengan menggunakan alat transportasi komersial, kecuali ada kebutuhan mendesak untuk tinggal," kata Kementerian Luar Negeri Inggris dalam pernyataan.
"Ketegangan dan kerusuhan politik meluas sejak pengambilalihan militer dan tingkat kekerasan meningkat."
Inggris mengutuk kekerasan di Myanmar dan menyerukan agar demokrasi dipulihkan.
Pada awal pekan ini, Inggris juga menyiratkan sedang menjajaki sanksi tambahan terhadap Myanmar.
Sumber: Reuters
Desakan itu dikeluarkan setelah sehari sebelumnya, Kamis (11/3), sebuah kelompok pembela hak asasi mengatakan pasukan keamanan menewaskan 12 pengunjuk rasa.
Permintaan bagi warga Inggris agar keluar dari Myanmar juga muncul ketika pengacara Suu Kyi mencemooh tuduhan baru terkait suap, yang dilayangkan terhadap kliennya itu.
Baca juga: Perusahaan Jepang diawasi terkait dengan bisnis militer Myanmar
Baca juga: ASEAN gelar pertemuan khusus bahas krisis Myanmar
Pemerintah Inggris mengatakan bahwa kekerasan di Myanmar meningkat setelah militer menggulingkan pemerintah Aung San Suu Kyi melalui kudeta pada 1 Februari.
"Kantor Luar Negeri, Persemakmuran & Pembangunan (FCDO) menyarankan para Warga Negara Inggris untuk meninggalkan negara itu dengan menggunakan alat transportasi komersial, kecuali ada kebutuhan mendesak untuk tinggal," kata Kementerian Luar Negeri Inggris dalam pernyataan.
"Ketegangan dan kerusuhan politik meluas sejak pengambilalihan militer dan tingkat kekerasan meningkat."
Inggris mengutuk kekerasan di Myanmar dan menyerukan agar demokrasi dipulihkan.
Pada awal pekan ini, Inggris juga menyiratkan sedang menjajaki sanksi tambahan terhadap Myanmar.
Sumber: Reuters
Pewarta : Tia Mutiasari
Editor : Edy Supriyadi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Program tebar hewan kurban Dompet Dhuafa hingga ke Palestina, Somalia, dan Myanmar
01 June 2025 8:07 WIB
Terpopuler - Internasional
Lihat Juga
Angka kelahiran rendah, kota-kota besar di Jepang alami penurunan populasi
01 February 2026 17:11 WIB
Kapal induk USS Abraham Lincoln siap lakukan operasi ke Iran dalam 1-2 hari
27 January 2026 9:55 WIB